
ZNEWS.ID JENEPONTO – Pagi itu, suasana di Masjid Passamaturakkang nampak riuh dengan bunyi ringkikan kuda yang memecahkan kesunyian. Belasan jemaah juga terlihat meninggalkan bangunan hijau krem berlantai empat yang telah digunakan selama setahun terakhir.
Suara riuh itu semakin jelas terdengar ketika mereka mendekati lapangan sekitar 50 meter dari masjid. Di lapangan itu, terdapat beberapa bangunan beratap tanpa tembok yang berdiri di tengah-tengah belasan kios semipermanen.
Pintu masuk lapangan tersebut berpagar besi selebar sekitar 3 meter, menjadi satu-satunya akses menuju lapangan. Lokasinya berada tak jauh dari simpang empat jalan, sekitar 200 meter arah utara masjid.
Begitu melewati pintu masuk, mata para jemaah langsung tertuju pada pemandangan ratusan ekor kuda yang mengisi lapangan, ditemani oleh para pemiliknya yang memegang tali kekang. Lapangan itu adalah Pasar Hewan Tolo di Kelurahan Tolo, Kecamatan Kalara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Meskipun dinamakan Pasar Hewan Tolo, kenyataannya di pagi hari itu hanya terdapat kuda-kuda berbagai warna seperti putih, cokelat pekat, cokelat kehitaman, hitam pekat, dan abu bintik hitam atau cokelat. Oleh masyarakat setempat, tempat ini lebih dikenal sebagai Pasar Kuda Tolo.
Uniknya, Pasar Kuda Tolo ini tidak hanya menjadi pasar kuda terbesar di Pulau Sulawesi, tetapi juga di seluruh Indonesia. Luasnya mencapai 125 meter dan lebar 80 meter, berdiri di atas lahan seluas 1 hektare, dan berdekatan dengan pasar rakyat yang baru selesai dibangun beberapa tahun sebelumnya.
Awalnya, Pasar Hewan Tolo resmi difungsikan oleh Pemerintah Kabupaten Jeneponto sekitar tahun 1983 dengan tujuan untuk menampung hasil peternakan kuda masyarakat yang akan diperdagangkan.
Desain awalnya hanya mampu menampung maksimal 1.000 ekor kuda, namun saat ini tampaknya lokasinya tidak lagi mampu menampung banyaknya hewan kuda yang dibawa oleh para pemiliknya.
Di Pasar Kuda Tolo yang beroperasi setiap Sabtu mulai pukul 7.00 hingga 13.00 WITA, kuda-kuda tidak hanya berasal dari sekitar Kecamatan Kalara, tetapi juga datang dari daerah lain di sekitar Jeneponto.
Calon pembeli berasal tidak hanya dari wilayah sekitar, sebagian besar dari luar kabupaten, seperti Bantaeng, Bulukumba, dan Kota Makassar, yang berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari Jeneponto.
Kuda-kuda yang diperdagangkan di pasar ini sebagian besar adalah kuda poni Sandel (Sandalwood pony) dari Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, yang dikenal sebagai kuda sumba dan kuda sumbawa, serta terdapat juga kuda bugis.
Kuda-kuda ini merupakan hasil persilangan antara kuda Arab dengan kuda poni lokal dan menjadi pilihan utama untuk pacuan kuda. Ciri khasnya adalah ukurannya yang lebih kecil dari kuda biasa, namun kemampuannya dalam berlari tidak kalah cepat.
Rentang harga kuda-kuda ini berkisar antara Rp6 juta hingga Rp30 juta per ekor. Beberapa di antaranya didatangkan langsung dari Flores dan Sumbawa oleh pedagang besar melalui Pelabuhan Bungeng di Kecamatan Batang, Jeneponto.
Kuda-kuda yang dijual di Pasar Kuda Tolo harus dalam kondisi sehat dan dibuktikan dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas pertanian dan peternakan setempat. Posturnya memiliki kisaran tinggi antara 150-165 sentimeter, seukuran orang dewasa.
Rata-rata, para pedagang berhasil mencatat transaksi antara 150 hingga 200 ekor setiap pekan, dengan nilai total mencapai Rp2 miliar atau sekitar Rp104 miliar per tahun.
Data tersebut diungkap dari penelitian oleh Handayani Indah Susanti dan tim mahasiswa Jurusan Ilmu Peternakan, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar pada tahun 2021 yang berfokus pada Pola Pemasaran Ternak Kuda di Pasar Hewan Tolo Kabupaten Jeneponto.
Tidak ada patokan khusus terkait harga tiap kuda, karena semuanya tergantung pada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Umumnya, kuda yang didatangkan dari luar Jeneponto dengan harga jutaan rupiah per ekor, akan laku terjual di angka belasan juta rupiah per ekor dalam satu kali transaksi.
Menariknya, penjual kuda di pasar ini tidak hanya didominasi oleh orang dewasa, tapi juga melibatkan remaja dan bahkan anak-anak yang lincah dalam menawarkan kuda dagangannya kepada calon pembeli.
Keramaian di Pasar Kuda Tolo juga turut berpengaruh di luar pasar. Belasan mobil bak terbuka yang terparkir di tepi jalan menjajakan beragam dagangan, termasuk produk vitamin dan suplemen untuk ternak kuda, buah, makanan, minuman, serta bumbu dapur.
Kuda-kuda yang dijual di pasar ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu untuk diternak atau sebagai indukan, untuk dijadikan hewan pacuan, atau sebagai bahan dasar untuk makanan gantala jarang, yaitu masakan berkuah kaya rempah mirip coto yang dipadu dengan daging kuda.
Masakan tersebut umumnya disajikan dalam acara hajatan atau upacara adat. Di Jeneponto, coto, konro, dan bakso yang dijual juga banyak yang berbahan olahan daging kuda.
Penelitian oleh Handayani dan tim pada September 2020 menyebutkan bahwa kuda memiliki potensi menjadi alternatif sumber pangan, karena kadar protein daging kuda hampir sama dengan sapi, yaitu sekitar 18,1 persen, sedangkan kadar lemaknya lebih rendah, yaitu sekitar 4,1 persen dibandingkan dengan sapi yang mencapai 14 persen.
Secara teknis, potensi ternak kuda tidak jauh berbeda dengan sapi, di mana berat karkas kuda mencapai 125 kilogram dengan jeroan mencapai sekitar 20 persen dari berat karkas, dibandingkan sapi yang mencapai rata-rata 156,4 kg.
Kota Kuda
Jeneponto memang terkenal sebagai lumbung kuda di Sulawesi Selatan dan juga bersama Sumbawa dan Sumba di tingkat nasional. Menurut laporan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Kementerian Pertanian pada tahun 2019, Sulawesi Selatan menempati urutan teratas dalam jumlah populasi kuda secara nasional, mencapai 166.086 ekor, diikuti oleh Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 109.549 ekor, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 47.300 ekor.
Kabupaten Jeneponto, yang juga dikenal dengan julukan Bumi Turatea, memberikan kontribusi besar terhadap populasi kuda di seluruh Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai Kota Kuda.
Menurut laporan Jeneponto Dalam Angka 2023 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Jeneponto, pada tahun 2022 terdapat sebanyak 75.390 ekor kuda.
Angka tersebut melebihi populasi sapi (28.905 ekor) dan kerbau (3.860 ekor), namun masih kalah banyak dari populasi kambing yang mencapai 249.185 ekor. Pada tahun 2017, populasi kuda pernah mencapai 86.366 ekor.
Bangkala merupakan kecamatan dengan populasi kuda terbanyak pada tahun 2022, yaitu sebesar 12.140 ekor. Banyaknya populasi kuda di Jeneponto dapat ditelusuri dari sejarah masa lalu kabupaten ini, di mana dulunya terdapat enam kerajaan, seperti Kerajaan Garassi, Bangkala, Binamu, Tarowang, Sapanang, dan Kerajaan Arungkeke. Semua kerajaan tersebut berada di bawah kendali Kerajaan Gowa dan Tallo.
Masyarakat di keenam kerajaan tersebut menganggap kuda sebagai hewan serbaguna. Selain digunakan sebagai alat transportasi, kuda juga membantu membajak sawah dan ladang, mengangkut hasil pertanian dan perkebunan, menjadi penarik pedati, dan digunakan dalam keperluan perang.
Hewan ini bahkan menjadi bagian dari lambang resmi kabupaten dan dijadikan patung di pusat kota. Pasar Hewan Tolo dengan segala keunikannya telah menjadi salah satu objek wisata di Jeneponto.
Seiring dengan berkembangnya Pasar Hewan Tolo, berbagai usaha penunjang juga mulai bermunculan di sekitarnya, seperti kedai makan yang menyajikan hidangan seperti coto, konro, dan gantala jarang dari olahan daging kuda.
Selain itu, terdapat juga toko yang menjual obat dan vitamin untuk ternak kuda. Pemerintah Kabupaten Jeneponto dihadapkan pada tantangan untuk memanfaatkan potensi pasar ini agar dapat mendorong perekonomian masyarakat dengan menyediakan fasilitas penunjang yang memadai.
Sumber: indonesia.go.id




