BALADEWA TUMBAL (1)

Prabu Duryudana memimpin sidang Sabtu Kliwonan dihadiri Pendita Durna dan Patih Sengkuni saja.

VIRUS Corona memang luar biasa. Gara-gara dhalangnya terpapar Covid-19, wayang-wayang dalam kotak juga mayoritas positip Corona. Dan penyebarannya begitu cepat, karena dalam kotak tak ada physical distancing. Maklum, wayang dalam kotak semuanya ditumpuk jadi satu. Jika ada sekatan hanyalah eblek sebagai alas wayang. Maka jika wayangnya jarang dijemur, Covid-19 pun menyebar dengan sempurna.

Negara Ngastina yang masih dikuasai Prabu Duryudana, juga terpapar pandemi Corona. Tiap sore Patih Sengkuni mengumumkan jumlah korban, dari yang PDP (Pasien Dalam Perawatan), PDS (Pasien Dinyatakan Sembuh) sampai PDB (Pasien Dalam Bandosa) alias meninggal. Dana Bansos mengalir ke rakyat kelas bawah, meski anggarannya sabet sabet sini. Namanya re-alokasi anggaran. Demi mengumpulkan dana Ro 300 triliun, Ngastina harus menunda sejumlah proyek bergengsinya, dari jalan layang, bandara baru, sampai pemindahan istana Gajahoya ke Kurawa Village.

“Bagaimana paman Sengkuni, PDP Corona ada trend menurun nggak?” Prabu Duryudana bertanya dalam sidang selapanan hari Sabtu Kliwon, hari kelahiran Jaka Pitana, alias Duryudana muda.

“Gawat anak prabu, kecenderungannya malah naik. Habisnya bala Kurawa susah untuk diajak berdisiplin, maunya diselipin. Diminta untuk physical distancing (jaga jarak) dengan wayang lain, susah banget. Apa lagi yang pacaran, maunya nempel terus macam prangko,” jawab Patih Sengkuni sambil pegang kertas daftar korban Corona.

Nama Patih Sengkuni belakangan makin ngetop saja, tiap sore wajahnya muncul di TV nasional dan swasta. Kata-katanya monoton, jumlah PDP sekian, PDS sekian, dan yang PDB sekian. Angka-angka dalam PDB ini yang bikin rakyat Ngastina ngeri, karena khawatir dirinya suatu saat beri andil angka yang diumumkan Patih Sengkuni. Gara-gara setiap sore mengabarkan berita kematian, rakyat menggelarinya “Burung Gagak” dari Plasa Jenar.

Soalnya wayang-wayang dalam kotak itu juga punya kepercayaan, manakala ada suara burung gagak bersahutan dekat rumah, pertanda ada wayang mau meninggal. Dan itu semua meyakini, karena selalu terbukti. Karenanya setiap melihat burung gagak dekat rumah selalu diusirnya dengan ketapel.

“Paman Durna, ada petunjuk belum dari dewa di Jonggring Salaka, apa obat penyembuh Covid-19 yang manjur, murah tapi meriah.” Giliran Pendita Durna ditanya Prabu Duryudana.

“Nggak ada, anak prabu. Para dewa sendiri kini sibuk cari penangkalnya. Meski mereka bebas kematian, tapi kalau tiap hari krik-krikan  karena kegatelan seluruh badan, tersiksa juga.” Jawab Pendita Durna sekenanya.

Dalam sidang selapanan di Ngastina ini hanya dihadiri tokoh penting terbatas. Selain Pendita Durna dan Patih Sengkuni, tokoh lain seperti Adipati Karno dan Prabu Baladewa kali ini sama sekali tidak diundang. Di istana Gajahoya ini semua jaga jarak, antara 3-4 meter. Wajah mereka juga semua pakai masker harga Rp 5.000,- bolehnya beli di K-5 Tanah Abang.

“Anak Prabu, kenapa anak angger Mandura dan Ngawangga tidak diundang serta.  Biasanya mereka datang paling duluan.” Patih Sengkuni mencoba bertanya.

“Justru karena itu paman Sengkuni, berat saya untuk mengatakan….” Jawab Prabu Duryudana tertunduk lesu, dari kaset terdengar gending Tlutur, pertanda wayang sedang sedih atau berkabung.

Dengan terbata-bata Prabu Duryudana mengatakan, menurut petunjuk dewa yang potong kompas ke Gajahoya tanpa melalui jalur Sokalima (Pendita Durna), negri Ngastina baru terbebas dari wabah Corona manakala ditumbali wayang berkulit putih. Padahal semua tahu, baik dalang dan penonton wayang, tokoh perwayangan yang berkulit putih itu satu-satunya hanyalah Prabu Baladewa dari Mandura yang biasa pula dipanggil sebagai Sang Balarama.

Ya karena itulah Prabu Duryudana dalam sidang Sabtu Kliwonan kali ini tanpa menghadirkan Prabu Baladewa. Adipati Karno juga tak dihadirkan, karena nggak enak hati. Sebab jika Adipati Karno mendengar rahasia ini, dikhawatirkan akan di-sharing ke Mandura. Bagaimapun juga mereka kan masih beripar, karena Surtikanti istri Adipati Karno adalah adik Dewi Erawati yang dipersunting Prabu Baladewa. Dan Prabu Baladewa tak mau petunjuk dewa itu malah bikin geger. Prinsipnya adalah, kena iwake aja nganti buthek banyune (kena ikannya tanpa bikin keruh airnya).

“Anak prabu Duryudana, kalau boleh tahu siapa dewa yang ujas-ujus (nyelonng saja) kasih info ke Gajahoya tanpa mengikuti Protap (prosedur tetap) yang disepakati selama ini?” pendita Durna tanya kembali, nadanya agak emosi.

“Bethara Guru langsung paman Durna, lewat WA saja.” Jawab Prabu Duryudana.

Oo, pantes! Dewa yang jadi raja di Jonggring Salaka ini memang dikenal suka melanggar prosedur, maunya cepat tanpa aturan yang berlete-lete. Padahal dalam tata kelola pemerintahan kahyangan yang bersih, semua harus dirembug bersama, tidak boleh diputuskan sendiri. Dan karena sikap SBG (Sanghyang Bethara Guru) kewibawaan Pendita Durna jadi tergradasi. Nantinya ketegantungan Kurawa pada dirinya jadi tereliminasi hingga titik kulminasi.

Sekarang Prabu Duryudana berdiskusi dengan Patih Sengkuni dan Pendita Durna, bagaimana caranya menyampaikan petunjuk dewa itu kepada Prabu Baladewa tanpa menimbulkan gejolak mental. Siapa kira-kira tokoh yang layak jadi penyampai berita yang tidak mengenakkan itu. Sebab yang namanya dibuat tumbal, pastilah wayangnya harus dibunuh, lalu kulitnya yang berwarna putih itu dijemur selama 40 hari, persis orang bikin rambak atau krecek.

“Saya kira melalui Prabu Salya mertuanya saja anak Prabu.” Saran Patih Sengkuni, sepertinya yakin betul.

“Ya nggak mungkinlah! Mana mau Prabu Salya anak perempuannya jadi janda dadakan. Dewi Erawati kan cantik, pasti dibuat rebutan wayang lain.” Potong Pendita Durna.

“Kan itu artinya paman Durna punya peluang memperebutkan jandanya.” Jawab  Patih Sengkuni sambil nyengir kuda.

“Tuh kan, mesti ke situ arahnya. Tak sampluk sisan raimu, oo….patih kok ngomongnya clometan. Memangnya Durna hobinya nguber-uber janda, apa?” Pendita Durna jadi emosi. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

Advertisement