
AMERIKA Serikat dan China yang bersaing untuk menjadi raja dunia begitu mudahnya tersulut oleh hal-hal dianggap sepele oleh negara lain sehingga memicu ketegangan hubungan keduanya.
Setelah “balon mata-mata” China tampak di langit AS, balon udara lainnya, seperti diungkapkan DW diketahui tentang balon udara tersebut sejauh ini.
China ngotot, balon yang terlihat di atas langit Amerika Serikat adalah perangkat sipil yang nyasar, dikendalikan secara mandiri dengan kemampuan terbatas. “Balon udara digunakan igunakan untuk survei meteorologi, namun tiupan angin telah membuatnya keluar jalur, “ ungkap sumber China.
China juga mengakui, balon yang tampak di langit Amerika Latin adalah perangkat sipil yang berasal dari wilayahnya, sebaliknya AS meyakini, itu balon mata-mata China dengan ukuran kira-kira tiga bus.
Menurut Pentagon, balon tersebut membawa sensor dan peralatan pengawasan, dapat bermanuver dan sudah menunjukkan, balon bisa mengubah arah. A
Sampai laporan ini dirilis, tidak ada informasi tambahan yang dipublikasikan mengenai apakah balon yang terlihat di atas Amerika Latin berbeda dengan balon yang terlihat di Amerika Utara.
Pentagon pada awalnya tidak memberikan informasi tentang lokasi pasti balon kedua. Pakar keamanan internasional Ian Chong mengatakan kepada DW bahwa meskipun tidak banyak yang diketahui, balon-balon tersebut, balon-balon itu dapat digunakan untuk mengumpulkan berbagai data.
“Balon-balon udara ini secara umum memiliki berbagai fungsi. Bisa melakukan apa saja, mulai dari pencitraan, mengumpulkan sampel dari udara, hingga mengumpulkan sinyal intelijen,” kata Chong, seraya menambahkan, belum ada informasi memadai untuk memastikannya.
Pentagon sendiri menilai, balon yang bergerak kea arah timur di atas langit AS dengan ketinggian 60.000 kaki itu bukanlah ancaman militer walau jalurnya di sekitar barat laut Montana, lokasi silo-silo hulu ledak nuklir AS.
Para pejabat AS mengatakan bahwa pemerintahan Biden telah mengetahui adanya balon pertama bahkan sebelum balon tersebut melintasi wilayah udara AS di Alaska pada awal pekan ini.
Dalam pernyataan publik pertama, Kamis (2/2), Sekretaris Pers Pentagon Brigjen Pat Ryder mengatakan, balon tersebut bukanlah ancaman militer atau fisik, menyiratkan balon itu tidak bersenjata.
Dia juga menambahkan, “begitu balon itu terdeteksi, pemerintah AS segera bertindak untuk melindungi dari pengumpulan informasi sensitif.
Menurut para pejabat AS, Presiden Joe Biden pada awalnya ingin menginstriksikan auntuk menembak jatuh balon tersebut, namun para petinggi Pentagon menyarankannya untuk tidak melakukan hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan orang-orang di darat.
Itu alasannya mengapa balon itu kemudian ditembak dengan rudal dari pesawat tempur di atas lautan.
Tunda Lawatan
Namun kehadiran balon udara tersebut di wilayah AS telah mendorong Menlu AS Antony Blinken untuk menunda perjalanannya ke Beijing yang akan dijadwalkan ulang .
Seorang pejabat senior Deplu AS, Jumat (3/2), menyebut tindakan China “tidak bertanggung jawab” dan “tidak dapat diterima”. Ia mengatakan, komunitas dunia mengharapkan AS dan China untuk mengelola hubungan mereka secara bertanggung jawab.
“AS sudah melakukannya dan mengharapkan hal sama dari China,” kata Blinken, sebaliknya Kemlu China (4/2)mengklaim, “China tidak pernah melanggar wilayah udara negara mana pun,” dan menilai para politisi dan media di AS menggunakan insiden itu sebagai dalih untuk menyerang dan mencemarkan nama baik China.”
Sementara seorang ilmuwan politik di Australian National University, mengatakan kepada DW bahwa insiden tersebut menunjukkan “betapa rapuhnya ” hubungan China dan AS.
“Jika insiden yang relatif kecil seperti itu dapat menggagalkan kunjungan yang telah lama dijadwalkan, hal itu menunjukkan bahwa mereka masih sulit untuk mempercayai satu sama lain sebagai mitra jangka panjang yang diandalkan,” katanya.
Menurut catatan, Korea Selatan dan Korea Utara juga sering menerbangkan balon udara di tapal batas masing-masing mengangkut poster-poster memuat propaganda masing-masing antara negara serumpun yang jadi musuh bebuyutan itu. (AP/Reuters).



