PERTEMUAN Selapanan di Kerajaan Ngastina baru saja dimulai ketika seorang anggota Hansip nyelonong masuk ke istana. Dia memberitahukan bahwa di Taman Kadilengeng Dewi Lesmanawati tertangkap basah mengurung seorang pemuda. Prabu Duryudana tentu saja sangat terkejut dan malu. Dapat didikan dari mana sehingga putrinya beraniĀ kumpul kebo dengan cowok tak dikenal?
“Maaf Baginda, sebenarnya kesatria muda itu datang sejak kemarin sore. Karena sampai pukul 22.00 belum juga pergi, saya usir dia. Eh, malah menantang berkelahi…!” katu petugas Hansip itu terbata-bata.
“Siapa namanya, dan dari mana dia?” Prabu Duryudana minta penjelasan lebih lanjut,
“Mana saya tahu, orang dia nggak mau tunjukkan KTP-nya. Yang ielas namanya Bambang Mayangkara, wayangnya ganteng memang, Ā rambut model Ahmad Dhani”, jawab Hansip itu lagi agak meninggalkan unggah-ungguh (sopan santun).
Patih Sengkuni segera diperintahkan membereskan simaling keparat itu. Pertemuan yang tadinya akan membahas divestasi saham 90 % PT Ngemprot, terpaksa ditunda lagi. Prabu Baladewa, Adipati Karno, Pendita Durna dan Patih Sengkuni keluar dari istana untuk membereskan Bambang Mayangkara.
Terlebih-lebih Patih Sengkuni, dia tampak sibuk luar biasa. Sebab penyelesaian kasus Bambang Mayangkara, sangat mempengaruhi kariernya di kepatihan. Salah-salah bisa diberhentikan hanya lewat WA. Secara bisik-bisik Prabu Duryudana tadi telah memberikan oltimatum, kalau gagal membereskan aksi Bambang Mayangkara, dirinya disuruh mundur dari jabatan patih. Alasannya, kasus ini sungguh bikin malu dan merusak citra raja Ngastina.
āKalau malu ya tinggal tutup muka pakai jaring hitam. Gitu saja kok repot,ā bisik Patih Sengkuni pula.
“Husy, memangnya saya sungai Item? Ngawur saja paman Sengkuni.ā Ā Bentak Prabu Duryudana.
Dengan didampingi Adipati Karno, Patih Sengkuni segera mengumpulkan wayang-wayang Ngastina. Baik yang berada dalam kotak maupun dipajang di layar semuanya diminta siap siaga, mengawal dua tokoh penting Gajahoya (nama lain Ngastina – Red) itu menuju ke Taman Kadilengeng untuk menggerebek Bambang Mayangkara.
“Ke Taman Kadilengeng lewat Taman Lawang, nggak? Saya takut digodain bencong, Paman!” kata Adipati Karno cemas.
“Jangan kuatir, yang penting kamu bawa penghulu KUA. Kalau sudah tertangkap, nanti Mayangkara – LesĀmanawati dipaksa nikah di tempat…!” pesan Patih Sengkuni.
Seperti ketika menghadapi petugas Hansip, kepada Patih Sengkuni pun temyata Bambang Mayangkara tak mau menunjukkan KTP-nya. Disuruh pergi ogah, dinikahkan paksa juga enggan. Dan ketika hendak ditangkap untuk diserahkan kepada Prabu Duryudana, aktivis kumpul kebo ini malah melawan. Meskipun semalam telah ngamar dengan LesmaĀnawati, tenaganya masih prima, larinya secepat Zohri atlet NTB. Adipati Karno dengan gampang dikalahkan, begitu pula para pengiringnya. Dengan malu-malu Sengkuni terpaksa menghadap Prabu Duryudana.
“Kalau begitu Paman Sengkuni harus berangkat ke Ngamarta minta bantuan. Untuk menghemat anggaran negara, jangan pakai pesawat. Naik saja Ojol ya!” titah Prabu Duryudana kepada Sengkuni, seakan lupa akan ancamannya tempo hari.
Sementara Sengkuni berangkat ke Kerajaan Amarta, Harjuna ksatria panenggak (tengah) Pandawa sedang berduka di tengah hutan. Bukan lantaran ditipu biro perjalanan umroh, tetapi semata-mata karena pusing memikirkan tugas yang diberikan oleh kakaknya, Werkudara. Kesatria Jodipati yang bertemperamen kotok (suka main pukul) itu menugaskan untuk mencari dukun atau dokter demi kesembuhan penyakit Resi Anoman di Kendalisada.
“Tolong Dimas, carikan dokter atau dukun yang ampuh. Kalau perlu ke Amerika sana, kasihan kakang Anoman…”, begitu Werkudara wanti-wanti.
āKalau berobat keluar negri tak bisa pakai BPJS Kesehatan kangmas.ā Harjuna mengingatkan.
Memamg, Resi Anoman di Kendalisada kini sedang sakit parah. Semula dicurigai sakit maag, tetapi setelah dikasih promaag pemberian Dedy Mizwar mantan Wagub Jabar, tak sembuh juga. Dokter internist (penyakit dalam) pun dipanggil. Berdasarkan SGOT-SGPT-nya yang naik drastis, dia dicurigai terkena lever. Tapi ketika obat paten methioson dan sensiale diberikan, tak sembuh juga. Pokoknya, obat generik sampai obat tradisional juga sudah dicoba, tapi hasilnya nihil.
Perkembangan terakhir semakin mengejutkan, karena dokter kemudian mencurigai Resi Anonian terkena penyakit Ā AIDS (Acquire Immune Deficiency Sindrome) atau menurunnya kekebalan tubuh. Kembali internist memberikan obat-obatan luar negri seperti; preparat sulia, fansidar, dapsone, trimethoprin, methoxazob, vinblastine dan etoposide (VP 16), tapi Resi Anoman tak juga sembuh. Karena sudah putus asa dengan penyakitnya, purnawirawan dari Pancawati itu memilih pulang dari RS. Mitra Keluarga Kaya. Kalau mau mati ya biar di rumah, kalau mau sembuh juga biar di Kendalisada saja. Testamen tentang harta warisan juga sudah dibuat di depan notaris Kartono Mulyakin untuk cantrik-cantriknya.
Sebelum Harjuna melamun berkepanjangan, tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya dua raksasa laki perempuan bernama Kala Kiswara dan Kiswari. Tanpa penyebab yang jelas, kedua raksasa itu cari gara-gara mengajak berantem. Karena Harjuna sedang males berkelahi, kedua kampret dan kecebong tukang usil itu langsung dipanah hingga kemudian kebadaran (menjelma) sebagai dewa Sanghyang Kamajaya dan Dewi Ratih dari Cakrakembang Permai.
“Wahai Harjuna, jangan bersedih. Yang bisa menyembuhkan Anoman cuma kumbang dari Taman Kedilengeng…”, kata Sanghyang Kamajaya memberikan advis gratis setelah buka-buka HP smartphone-nya.
āDewa jaman now, tergantung juga sama Mbah Google,ā batin Harjuna.
Setelah mengucapkan kamsia (terima kasih), Harjuna berangkat ke Ngastina pakai bis malam. Tiba di Taman Kadilengeng nama baru Taman Kalijodo itu ternyata di sana sedang terjadi kesibukan luar biasa. Keluarga Pandawa yang diminta menangkap Bambang Mayangkara, sudah datang 2 jam sebelumnya. Namun Werkudara ternyata juga mati kutu menghadapi Bambang Mayangkara. Baru saja dia ayun-ayunan (berhadapan) dengan pacar gelap Dewi Lesmanawati, Werkudara malah malu sendiri. Sebab yang dihadapi bisa mengubah wujud sebagai Werkudara pula.
“Kalau begini saya pilih embek (kalah) saja. Masak, saya harus melawan Werkudara fotokopian!”, keluh kesatria Jodipati itu kepada Prabu Kresna.
āYa sudah, kalau Dimas Werkudara tak mampu, serahkan saja pada tokoh lain yang lebih muda,ā nasihat Prabu Kresna, mau mengadopsi gaya politik kaum oposisi.
Harjuna segera mencoba menaklukkan Bambang Mayangkara pula. Tapi nasibnya sama saja, yang dihadapi bukan Bambang Mayangkara, melainkan duplikat Harjuna. Hanya beberapa kali gebrakan, HarjuĀna memilih mundur tersipu-sipu dan malu. Tapi Prabu Kresna sebagai raja yang sangat tinggi kewaspada-an nasionalnya, tahu segera apa latar belakang kejadian itu. Serta merta dia menugaskan Werkudara untuk memanggil Resi Anoman yang sedang sakit parah itu.
“Meskipun pakai tandu, Anoman harus kamu bawa ke sini, Werkudara, sebab cuma dia yang bisa mengalahkannya,” titah Kresna optimis.
Dengan mencarter taksi online, segera berangkatlah Werkudara ke Kendalisada. Tiba dipertapaan kera yang berkulit putih bersih tanpa Rinso itu, kesatria Jodipati melihat keadaan Anoman tampaknya makin gawat saja. Nasi sudah tidak doyan lagi, tapi lontong dan ketupat nambah terus. Dengan tubuh lunglai dia tergeletak memelas di ranjang kreditan lewat online.
“Aduuuh, bagaimana mungkin saya bisa berperang Dimas Werkudara. Kaki saya ada gangguan nyeri lutut, sekali suntik Rp 2 juta…!” Anoman beralasan.
“Saya tahu Kakang, tapi menurut Kakanda Prabu Kresna, cuma Anda yang bisa mengalahkannya. Malah siapa tahu, dengan cara ini akan tiba kesembuhanmu”, Werkudara memberikan motivasi dan induktrinasi.
Akhirnya berangkat jugalah Anoman bersama Werkudara. Untuk mencegah rasa dingin, dia berselimut kain tebal, sementara celana jins juga dipakai rangkap tiga.
“Tolong Bang, AC-nya dimatikan saja. Saya lagi tak tahan dingin nih “, ujar Resi Anoman setelah di atas taksi.
āWah, sampeyan nggak cocok jadi anggota DPR dong. Soalnya orang kaya harus pakai AC.ā Sindir sopir taksi.
Dengan melalui jalan tol Cikampek tembus Cipali, Werkudara – Anoman bisa tiba di Ngastina setengah jam lebih cepat. Sambil berjalan tertatih-tatih Anoman kemudian dibawa ke Taman Kadilengeng untuk membinasakan Bambang Mayangkara. Aneh, bila tadi Mayangkara selalu mencoba membuat duplikat semua musuhnya, ketika menghadapi Resi Anoman dia tak bisa berbuat banyak.
Setelah berbasa basi tanya ini itu sesuai kode etik perwayangan, Anoman segera bertempur melawan Bambang Mayangkara. Pertempuran mereka seru sekali. Bambang Mayangkara diruket (dipeluk erat-erat), sehingga keduanya kemudian jatuh ke lantai bagaikan pegulat. Begitu lama mereka saling banting, akhirnya Bambang Mayangkara menghilang dan melebur diri bersatu ke dalam tubuh Anoman. Aneh bin ajaib, dengan hilangnya Bambang Mayangkara, tiba-tiba Resi Anoman sembuh dan segar bugar. Sebab Bambang Mayangkara sebenarnya adalah roh halus Anoman. Dia sakit parah gara-gara ditinggal rohnya kelayaban ke mana-mana.
Dewi Lesmanawati yang telah dicurigai tidak suci lagi, kemudian juga divisum. Ternyata dia masih perawan asli belum ternoda oleh Bambang Mayangkara. Sebagai rasa syukur atas selesainya kasus kumpul kebo itu, Prabu Duryudana kemudian mengajak seluruh wayang makan-makan di Restoran āWarung Daunā tapi tanpa diskusi politik.Ā (Ki Guna Watocarita)



