
NEGERI Ngastina dalam kondisi chaos. Negara yang dikuasai Prabu Duryudana ini baru saja dibedah (dikudeta) Prabu BanĀdung Nagasewu dari Kerajaan Bumi Kedasar. Segala pejabat penting dipenjarakan. Dari Prabu Duryudana, Patih Sengkuni sampai Adipati Karno, masuk bui. Karena mereka punya duit, dengan cincai bersama Kalapas bisa dapat ruang ber-AC dan tiap malam minggu bebas keluar.
Cuma Pandita Durna satu-satunya pejabat Ngastina yang dikenakan tahanan rumah. Alasannya, nasehat dan petuahnya masih dibutuhkan oleh Prabu Bandung Nagasewu yang hobinya makan wajik Bandung itu. Namun demikian dia juga dilarang ke luar kota, apa lagi keluar negeri.
āPaman Durna, saya ingin menyerahkan negeri Ngastina ini kepada keluarga Pendawa saja. Bagaimana pendapat sampeyam,ā kata Prabu Bandung Nagasewu dalam sidang kerajaan.
āOo, jangan! Mending Ngastina diserahkan saja kepada Prabu Kresna dari Dwarawati untuk meneruskannya kepada Pandawa. Dengan cara-cara begini Prabu Yudistira dan adik-adiknya takkan tersinggung. Kresna bagi mereka merupakan tokoh panutan yang selalu digugu dan ditiru.ā Jawab Pendita Durna memberikan wawasan.
Kata Durna, orang-orang Pandawa tak pernah sudi menerima barang gratisan tanpa perjuangan. Begawan Abiyasa contohnya, meski bisa naik busway gratis karena sudah berusia di atas 60 tahun, pantang menggunakan kartu gratis busway. Maka sekali lagi disarankan agar penyerahan negeri itu lewatĀ Prabu Kresna.Ā Yang penting ada tanda terimanya, tapi sertifikatnya jangan diberikan sekalian, bisa-bisa malah dibuat ngutang di bank.
Dengan mengendarai mobil Mazda Astina rampasan dari Prabu Duryudana, Patih Nagamurti ditugaskan ke Dwarawati. Kebetulan negerinya Prabu Kresna ini sedang menjadi DTW (Daerah Tujuan Wayang) sehingga tampak banyak tamu di sana. Selain Prabu Baladewa dari Mandura, ada pula Nakula dan Sadewa delegasi dari Ngamarta. Kala itu mereka masih sibuk membicarakan tentang adanya Werkudara kembar dua di Jodipati. Meskipun mereka tak berbuat onar dan mengganggu stabilitas perwayangan, keluarga Pandawa minta Prabu Kresna bisa menyelesaikan kasus ini.
“Kasihan Mbakyu Arimbi, tiap malam dibuat rebutan…” ujar Nakula yang segera dipelototi Setyaki.
āLambemu!Ā Soal begituan kok diomongin pada pasewakan agung seperti ini. Ndesa….!ā omel Setyaki.
Belum juga selesai pembicaraan Keluarga Dwarawati, bagian resepsionist melapor bahwa ada tamu dari NgastiĀna, mengaku Patih Nagamurti. Keruan saja Prabu Kresna terbelalak. Setahunya patih di Ngastina masih dipegang oleh Sengkuni. Tetapi ini belum ada 5 tahun kok sudah ganti, memangnya dia kena OTT KPK? Lagian, namanya kok bikin bingung. Ini Nagamurti adiknya artis Krisna Murti atau Krisna Murti yang pejabat Kepolisian?
“He, Nagamurti, sejak kapan Ngastina ganti patih? Kau kalau mau cari popularitas jangan di sinilah….” tegur Kresna setelah mempersilakan tamunya.
āSampeyan jadi raja juga kurang baca. Buka internet atau WA, kegiatan saya banyak jadi viral, tahu?ā jawab patih Nagamurti tak mau kalah.
Tak mau berpanjang kata, Prabu Kresna malah dinasihati agar penyerahan negeri Ngastina ini diterima baik-baik. Peruntukannya jangan diubah-ubah, misalnya untuk lapangan golf. Kasihan petani penggarap di sana. Sayangnya Prabu Kresna tak mau menerima begitu saja titipan tersebut. Ada pertimbangan-pertimbangan lain yang harus diambil. Sebab bila salah langkah, bisa jadi sasaran nyinyir kaum oposisi.
Sebelum dia memberikan keputusan, Prabu Baladewa kebru interupsi. Dia memotong perundingan serius itu dan langsung menuding-nuding muka Nagamurti sambil berkacak pinggang. Keruan saja para tamu menutup hidung, lantaran konglomerat Mandura ini jarang pakai Deodorant.
“Kamu menggaji kami berapa sih, kok berani-beranian memerintah. Demi solidaritas Ngapeman (Ngastina-Pendawa-Mandura) sampai kapan pun Dwarawati tak sudi jadi gedibal (kaki tangan)-mu untuk menyerahkan Ngastina.ā Ujar Baladewa meledak-ledak.
Baik Nagamurti maupun Baladewa sama-sama ngotot, berpihak pada pendirian masing-masing. Yang satu ngebet untuk nitip, yang satunya ngeyel ogah dititipi. Akibatnya, perkelahian pun tak bisa dihindari. Di alun-alun Dwarawati, Patih Nagamurti dibuat keroyokan Patih Udawa, Setyaki, dan Baladewa
Namun entah kenapa, tokoh-tokoh Dwarawati itu kali ini cuma menang tongkrongan doang, melawan wayang sebiji saja keteter. Prabu Baladewa dan kawan-kawan kabur menyelamatkan diri dan Patih Nagamurti take of ke Ngastina sore itu juga. Soalnya mau menginap di daerah DwaraĀwati, uang hotel tak dijatah oleh Prabu Bandung Nagasewu.
Sementara Nagamurti kembali ke Ngastina, di Kahyangan Jonggringsalaka Batara Guru dan segenap pejabat dewa eselon II masih sibuk membicarakan tentang terjadinya bencana alam di Kahyangan. Menurut pemantauan Batara Narada, hal itu terjadi bukan lantaran penggundulan hutan atau dewa-dewa pada korup kebijakan, melainkan efek sampingan atas bertapanya Bagawan Tunggul Wulung di Puncak Gunung Jamurdwipa.
“Apa maunya dia? Butuh naik pangkat otomatis atau Ā pengin jadi komisaris BUMN?ā tanya Batara Guru.
āDia nggak seserakah itu. Loyalitasnya pada kahyangan tak perlu diragukan lagi.ā Jawab Narada serius.
Katanya patih Narada, Bagawan Tunggul Wulung mesu brata (bertapa) dengan tujuan menggugat untuk diturunkannya Wahyu Ratu ke bumi. Sebab dengan wahyu tersebut harga-harga di perwayangan yang naik melulu bisa ditekan karenanya. Telur ayam negri dan bebek bisa Rp 15.000,- saja sekilo.
“Wah, sudah habis, Cing. Wahyu Sardono di Warkop DKI Ā dan sutradara Wahyu Sihombing juga sudah lama almarhum. Tinggal Wahyu Azhari, malah kini mau nyaleg,” jawab Batara Guru lagi.
āHusy, ngawur. Itu mah Ayu Azhari….ā potong Narada yang rupanya ngefans juga sama artis gaek.
Batara Guru kemudian mengeluarkan instruksi agar para dewa menggagalkan unjuk rasa model Bagawan Tunggul Wulung. Namun agaknya pertapa muda ini terlanjur nekad. Jangankan semprotan gas air mata, godaan berupa uang dan cewek-cewek kece saja tak membuat Bagawan Tunggul Wulung menghentikan laku prihatinnya. Semboyannya memang cuma satu: duit dan cewek no, Wahyu Ratu yes!
Karena naiknya Bagawan Tunggul Wulung ke Gunung Jamurdwipa bisa membuat keresahan segenap dewa, BataĀra Guru kemudian bersidang bersama Narada. Selesai pembicaraan mereka memutuskan kebijaksanaan baru di bidang perwahyuan. Deregulasi dari Kahyangan yang dikenal sebagai Pakdul (Paket Kebijaksanaan Dulkaidah) itu menetapkan, Bagawan Tunggul Wulung diperbolehkan menerima Wahyu Ratu untuk sementara yang kemudian harus diteruskan kepada Abimayu selaku pemegang hak.
Penjelasan Batara Guru lebih lanjut, untuk menciptakan iklim usaha perwahyuan yang lebih sehat di kalangan wayang, prosedur penerimaan wahyu disederhanakan. Bila biasanya harus diserahkan langsung kepada kesatria yang berkepentingan dengan kriteria- kriteria tertentu, kini boleh melalui perantara seorang bagawan.
“Karenanya, menjadi bagawan kini tak dikenakan wajib daftar usaha dan bebas SIUB (Surat Izin Usaha Bagawan)….” kata Batara Narada lagi kepada Bagawan Tunggul Wulung.
āBegitu dong, itu namanya keberpihakan.ā Kata Begawan Tunggul dengan santun, memang dia jagonya mengolah kata.
Hari itu juga Bagawan Tunggul Wulung menerima Wahyu Ratu dari dewa tanpa PPN atau pungutan sepeser pun. Sewaktu turun dari Gunung Jamurdwipa ke bumi,Ā di tengah perjalanan dia ketemu Abimanyu dari Plangkawati. Sadar bahwa anak muda ini yang berhak menerima wahyu secara permanen, ketika Abimanyu mendaftar sebagai murid langsung diterima meskipun tanpa bayar SPP dan uang pagar. Apa yang dijanjikan dewa tak pernah meleset, apalagi blong. Baru beberapa hari menjadi murid, Wahyu Ratu itu diam-diam telah merasuk ke dalam tubuh Abimayu.
“Abimanyu, SK dewa memang begitu. Engkaulah kelak yang berhak menurunkan raja-raja di Ngastina,” jelas Bagawan Tunggul Wulung kemudian.
āTapi tahun 2030 Ngastina tak keburu bubar, kan?ā Abimanyu bertanya ragu.
Sejak saat itu, ilmu-ilmu kanuragan dan tata negara lebih banyak dijarkan Bagawan Tunggal Wulung kepada Abimanyu, kadang lest privat kepada Irman Putra Sidin atau Refly Harun. Namun sebelum selesai pembekalan ilmu tersebut, Ā tiba-tiba Prabu Kresna muncul dan minta tolong untuk membereskan Werkudara kembar di Jodipati. Berapa pun nilai borongannya, harga lama atau sudah disesuaikan dengan kenaikan dolar yang sampai Rp 14,300,- Prabu Yudistira sanggup membayar.
“Kalau cuma Werkudara dobel, encer. Yang penting jangan kembar siam saja,ā kata Bagawan Tunggul Wulung.
Dengan mengendarai taksi, Kresna, Bagawan Tunggul Wulung dan Abimanyu berangkat ke Ngamarta. Secara baik-baik di sana Bagawan Tunggal Wulung minta agar Werkudara kembar itu pergi saja, sebab tak punya hak patent atas nama Werkudara asli. Tapi mereka menolak, meskipun diberi gantirugi berapapun.
Perkelahian kembali terjadi. Hanya dalam beberapa gebrakan Werkudara kemĀbar binasa dan berubah wujud sebagai Aji Wungkalbener dan Aji Blabak Pengantol-antol, sementara Bagawan TungĀgul Wulung menjelma sebagai Werkudara yang asli.
“Selesai proyek pertama, kini ada borongan lagi di Ngastina, yakni membereskan Prabu Bandung Nagasewu. Berani nggak Dimas Sena?” tantang Prabu Kresna.
“Tapi nilai borongannya harus ditambah lho ini,” saran Werkudara.
Tanpa banyak cincong, Werkudara segera berangkat ke Ngastina Gayabaru. Sewaktu diusir dari negeri jajahannya, tentu saja Prabu Bandung Nagasewu tak bersedia. PerkeĀlahian terjadi. Hanya karena kena senggol dadanya, langĀsung Bandung Nagasewu berubah menjadi Dewi Nagagini istri Werkudara sendiri. Demikian juga Nagamurti, ketika diinjak langsung badar (menjelma) sebagai Antareja, anak sendiri. (Ki Guna Watoncarita)
Ā


