BANJARAN DURNA (10)

JIKA pada wayang klasik nan serius, Gandamana pingsan dipukul lawan paling-paling hanya 5-10 menit. Habis itu siuman kembali dan melabrak lawan dengan lebih gigih dan akhirnya menang. Tapi pada wayang parodi ini, nyata benar bedanya! Sudah lebih dari 2 jam Patih Gandamana belum juga siuman. Karenanya kesempatan ini digunakan Bima-Permadi untuk menangkap Prabu Drupada dari istananya.

Serangan ke Pancala itu terjadi tengah malam. Prabu Drupada yang mlungker (tidur) lagi setelah salat tahajud pukul 01:00 dinihari, langsung didobrak kamarnya dengan paksa. Namanya juga Bima, sekali makan srabi lima; hanya sekali tendang pintu kamar tidur Prabu Drupada langsung jebol. Tentu saja Prabu Drupada dan istri terbangun terkaget-kaget. Ini sekedar mimpi atau kejadian nyata.

“Siapa kalian? Apa kalian dari KPK mau meng-OTT saya. Saya terlibat kasus apa….?” Prabu Drupada bertanya dengan gugup, sambil mengucek-ucek mata.

“Bukan! Saya bukan dari KPK, tapi OSIS-nya perguruan Pendita Durna. Kami tidak mengurusi soal korupsi, tapi mari ikut kami. Jangan melawan, kami hanya melaksanakan perintah,” jawab Bima galak, persis Satpol PP menertibkan pedagang K-5.

“Berarti ini kriminalisasi raja, dong!” Prabu Drupada protes keras.

“Kriminalisasi raja itu boleh. Yang nggak boleh itu kriminalisasi ulama, entar bisa dimarahi kadrun.”

Begawan Durna? Prabu Drupada sama sekali tak kenal nama itu. Jangan-jangan pemilik Dorna Sport yang unjuk kebolehan di Moto-GP Mandalika tempo hari. Rasanya kok bukan. Tapi apa pula urusannya kok mendadak menyerang Pancala segala. Aneh juga seorang begawan kok mau menculik raja, apa mau ngelar jajahan (nambah wilayah)? Ini makin aneh lagi. Namanya begawan ya fokus beribadah dan mengajarkan ilmu pada murid-muridnya. Hanya begawan radikal yang memaksakan ideologinya lewat praktek terorisme.

Sebenarnya Prabu Drupada sudah mencari tahu pada para penculiknya, siapa sebenarnya Begawan Durna itu? Tapi lagi-lagi Bima menjawab, tidak tahu siapa sejatinya gurunya tersebut dan dari mana pula asalnya. Bagi murid, yang penting belajar dan setiap bulan bayar SPP, itu saja.

“Lalu saya mau diapakan? Apa dosa saya?” Prabu Drupada terus saja protes.

“Sudahlah, nggak usah nyinyir. Jangan kemlinthi, ikuti saja proses hukum yang berlangsung” jawab Bima lagi. Ngaku bukan dari KPK, tapi kata-katanya mirip Jubir KPK.

Waduh! Prabu Drupada sebetulnya mau tepuk jidat, tapi karena kedua tangan langsung diborgol, bisanya ya hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin disebut kemlinthi, wong jadi politisi PDIP juga bukan, suka main medsos sehingga dekat dengan rakyat, juga tidak. Apa lagi mau nyapres juga nggak mimpi, wong enakan jadi raja. Jadi presiden setiap 5 tahun diganti, sedangkan raja kan bisa seumur hidup dan bisa diwariskan pada anak keturunan.

Dalam kondisi tangan diborgol, suami istri pemimpin Pancala itu digelandang masuk mobil tahanan. Bukan truk berjeruji besi, melainkan Kijang Kapsul 2004 yang sudah butut, spionnya tinggal sebelah. Mereka hendak dihaturkan pada Begawan Durna guru mereka. Bima juga tidak tahu persis dendam masa lalu Begawan Durna pada Prabu Drupa seperti apa, sebab mau tanya lebih detil nanti dikiranya ngrokok cendak (neges-neges = ingin tahu saja). Itu kan nggak sopan.

“Lapor bapa Begawan, Prabu Drupada dan istri sudah saya ekstradisi ke sini. Selanjutnya terserah Anda….!” lapor Bima dan Permadi setelah tiba di padepokan kembali.

“Bagus, bagus! Ini baru murid Pendita Durna. Tapi kok istrinya dibawa juga sih, aku nggak ada urusan sama dia. Bebaskan itu ibu negara, cukup Prabu Drupada saja bawa sini.” Instruksi Begawan Durna zaklek, tak mau ditawar.

Ibu Negara Ny. Gandawati lalu dibebaskan, disuruh pulang pakai Gojek, sedangkan Prabu Drupada langsung dihadapkan kepada Begawan Durna. Di sini raja tawanan itu baru ngeh, Begawan Durna ternyata sohibnya  di Ngatasangin dulu, si Bambang Kumbayana yang sempat dihajar oleh Patih Gandamana. Sungguh dia tak menyangka kok Bambang Kumbayana kemudiannya bisa menjadi guru dengan ratusan murid, padahal setahunya dulu Kumbayana bukan lulusan SPG, apa lagi IKIP.

“Hebat kakang Kumbayana bisa jadi guru dan memiliki ratusan murid. Tiap tahun panen uang gedung, dong!” ujar Prabu Drupada, sebetulnya dia ingin menyalami. Tapi karena tangan dalam borgolan, akhirnya hanya bisa sekedar mengangguk.

Rupamuk (tampang lu), mau alihkan perhatian. Jangan gitu dong Sucitra, setelah jaya lalu lupa sama teman lama.” Jawab Begawan Durna, lalu kemudian melepas borgol di tangan kawan lamanya tersebut.

“Terima kasih. Mestinya kan kakang Kumbayana kirim WA dulu, lalu saya jemput di bandara. Bukan teriak-teriak di acara resmi, kebetulan patih saya gampang emosinan. Maafkan patih saya…” kata Prabu Drupada dengan takzim.

“Alah, minta maaf atau tidak, saya sudah kadung cacat begini. Ini kan pelanggaran HAM berat. Kenapa patihmu yang songong itu nggak ditindak? Mestinya kan dicopot, lalu digeser cukup jadi komisaris BUMN…..”

Prabu Drupada senyum kecut, memangnya semudah itu mencopot patih? Gandamana kan adik ipar sendiri, mana mungkin. Presiden di dunia nyata saja bisa angkat ipar jadi KASAD kok, meski tampilannya gak ngawaki. Apa lagi hanya dunia wayang; pakemnya memang begitu, dalang kan tinggal ngikut saja.

Sebetulnya ketika insiden itu terjadi puluhan tahun lalu, Prabu Drupada sudah mencoba membantunya. Semua biaya di RS Mitra Keluarga Kaya ditanggungnya, karena Bambang Kumbayana tak punya kartu BPJS-Kes. Untuk memulihkan cacat tangan dan hidungnya, sebetulnya Prabu Drupada juga siap mengirimnya ke RC dr. Suharso, Solo. Tapi kala itu kan Kumbayana minta pulang paksa.

“Sudahlah kakang Kumbayana, yang sudah berlalu biarkan berlalu. Jangan suka memperuncing masalah  macam Kadrun. Sekarang kakang minta kompensasi apa, saya siap membantu.” Kata Prabu Drupada dengan maksud persoalan ini segera selesai.

“Bener nih Sucitra? Kebetulan aku kepengin memperluas perguruanku, tapi kekurangan lahan. Kalau ente bisa membantu, saya ucapkan banyak terima kasih.” Jawab Pendita Durna malu-malu, karena ketahuan aslinya.

Prabu Drupada langsung dibebaskan. Tiba di istana segera bikin SK pelepasan hak tanah di wilayah Sokalima seluas 20 Ha, dihibahkan kepada Begawan Durna. Di luar dana APBN, Prabu Drupada juga memberikan dana puluhan miliar untuk membangun pusat perguruan Begawan Durna yang lebih representatif. Padepokan lama di bekas gudang peluru juga dibongkar, dipindahkan ke sini. Rakyat setempat juga kaya mendadak karena dapat ganti untung. Ada yang beli mobil sampai 2-3 biji, bahkan banyak pula yang kawin lagi. (Ki Guna Watoncarita)

           

Advertisement