BANJARAN DURNA (11)

Begawan Durna kaget, Trustajumena putra prabu Druoada mendaftar jadi muridnya. Jangan jangan......

BRATASENA tersenyum geli melihat sikap Begawan Durna yang tidak konsisten, esuk dele sore tempe macam politisi. Bagaimana tidak? Katanya dulu tak berambisi memperluas padepokannya. Tapi setelah berhasil menuntut balas demi dendam masa lalunya, mendadak berubah pikiran ketika diberi peluang. Tapi ya maklumlah, sebab kata para motivator, peluang itu hanya datang sekali, jika tak diambil ya wasalamlah.

“Dimas Permadi, bagaimana itu guru kita? Katanya tak mau memperluas yayasan pendidikannya. Tapi begitu ada dana hibah dari Pancala, langsung berubah pikiran.” Gumam Bima pada adiknya.

“Jangan keras-keras, nanti beliaunya dengar. Karakternya mirip politisi memang, mencla-mencle, bener dan bohongnya sama-sama 50 persen. Yang penting kita sebagai muridnya tak perlu menduplikasi kelakuan Begawan guru kita.” Jawab Permadi.

Sayang, ketika pembangunan gedung perguruan Begawan Durna di Sokalima selesai, masa pendidikan Pendawa Lima sudah tamat dengan bawa pulang diploma masing-masing. Demikian juga para murid Kurawa-100 juga sudah banyak yang selesai. Tapi hanya sebagian kecil yang bawa pulang bawa ijazah, kebanyakan mrotholi alias drop out. Maklum dari mereka sering bolos, gara-gara ikut demo nggak jelas. Apa tujuan demo itu tak peduli, yang penting dapat nasi bungkus dan uang transpor. Durmagati dan duet Citraksa-Citraksi termasuk yang begini ini.

Demikianlah, perguruan Sokalima kini tampil dengan wajah baru. Dengan gedung berlantai empat, dan nama perguruan dipermodern menjadi Perguruan Sokalima Beragama, muridnya bertambah banyak. Tapi Begawan Durna sengaja tak menerima murid wanita, sebab takut imannya kalah sama “si imin”. Dia tak mau terjerumus macam ustadz Herry Wirawan dari Bandung. Apa nggak malu jika nanti dapat gelar begawan cabul dan dihukum mati gara-gara urusan selangkangan?

“Ma, rama Begawan, mbok terima murid wanita, kenapa sih? Biar suasana perguruan jadi segerrrrr ….gitu.” usul Aswatama, yang kini sudah berusia 20 tahunan.

“Enggaklah! Apa sih maksudmu, kok sampai punya usulan begitu?”

“Saya kan sudah dewasa, rama. Jadi kan juga pengin teman hidup, siapa tahu nanti ada murid atau siswi perguruan ada yang cocok sama saya, lalu jadian gitu.” Jawab Aswatama malu-malu.

“Nggak boleh, ini perguruan untuk menuntut ilmu, bukan biro jodoh macam Yasco dulu.”

Aswatama nyangir kuda karena usulannya ditolak mentah-mentah oleh ayahnda tercinta. Padahal sebagai lelaki normal, dalam usia segitu sudah layaknya mengenal pacaran. Tapi tak pernah sempat, karena oleh Begawan Durna dia diperbantukan di bagian Tata Usaha. Kesibukannya luar biasa;  ya ngurusi soal penerimaan murid baru, pembayaran SPP, sampai soal perpisahan murid menjelang tahuan ajaran baru. Yang unik, perguruan Sokalima ini tak pernah menyelenggarakan study tour untuk para siswa.

Tapi setiap hari Senin tak pernah absen selalu ada upacara bendera. Begawan Durna pasti kasih sambutan, dan para murid bergantian tiap minggunya membacakan teks Pancasila. Sedangkan Aswatama ditugaskan memimpin para murid menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kali pertama memimpin lagu kebangsaan itu, Aswatama pernah sakplengan (mendadak) lupa teksnya.

“Hai, kok jadi kayak Menpora Roy Suryo….!” protes salah satu murid.

Itu duluuuu, sekarang sudah tidak lagi. Apa lagi sekarang gedung perguruannya sudah dibangun mentereng. Tapi gara-gara gedung baru ini pula, orangtua murid kini suka menyoal ketika dimintai uang gedung ketika pendaftaran murid baru. Untung saja Aswatama sudah diajari berkelit oleh Begawan Durna, “Ini uang gedung untuk pembangunan sekolah berikutnya, Bu/Pak…..!”

Selesai upacara bendera, pagi itu kembali Aswatama melayani pendaftaran murid baru. Saat itu ada anak muda, namanya Trustajumena, ingin mandaftar jadi murid perguuan Sokalima Beragama. Tapi saat dimintai Uang Gedung sebagaimana lazimnya murid baru, dia malah menyoal masalah gedung perguruan yang baru saja dibangun baru di Sokalima ini.

“Lahan dan gedung ini semua kan atas sponsor ayahku, kenapa anaknya berguru di sini masih dimintai Uang Gedung lagi? Serakah amat…..” protes calon murid baru itu.

“Memangnya siapa ayahmu itu?” Aswatama bertanya agak ragu.

Trustajumena lalu menyebut nama Prabu Drupada, raja Pancala. Gawat, anak orang gedean ini, sekelas Keluarga Cendana. Aswatama tak berani memutuskan sendiri, sehingga dia melapor pada sang ayah, Begawan Durna. Seperti Aswatama, Begawan Durna sendiri juga kaget, karena anak sahabatnya itu ternyata sudi berguru padanya. Tapi kok namanya Trustajumena, jangan-jangan……..

Ya, Begawan Durna jadi ingat akan kutukan Bambang Ekalaya beberapa tahun lalu, bahwa pada saatnya nanti Durna akan mati oleh tangan tokoh bernama Trustajumena. Langsung saja dia menghibur diri, ah…..nama Trustajumena kan nama pasaran, jadi pasti ombyokan orang bernama sama. Semoga saja Trustajumena yang ini bukan yang raja kutuk tersebut. Buru-buru Pendita Durna menemui tamu istimewa.

“Oo, jadi ananda putra Prabu Drupada itu ya?” tanya Begawan Durna pada si calon murid.

“Benar rama begawan, saya putra bungsu Prabu Drupada. Apa benar saya masih dimintai Uang Gedung segala?” tanya Trustajumena sambil menyembah.

“Ya enggaklah! Ananda kan putra sahabatku, apa lagi telah jadi sponsor perguruanku. Ananda di sini berguru gratis, pakaian seragam gratis, nanti tiap pagi juga dapat susu gratis.”

“Terpujilah engkau, wahai ibu bapak guruku…..” Kata Trustajumena lagi sambil mencium ujung jubah Begawan Durna.

“Hai, Trustajumena, aku tak punya istri, jangan sebut ibu guru ya….!”

Begawan Durna mengatakan itu secara spontan, karena merasa tersindir kejombloannya selama ini. Meski Trustajumena sebenarnya tak bermaksud menyindir guru barunya tersebut, tapi lirik kalimat itu sungguh mengingatkan Pendita Durna pada lagu Hymne Guru karya Sartono dari Madiun (1936-2015) yang sangat menyentuh itu.

Dan terus terang saja, jika dikaitkan dengan kutukan Bambang Ekalaya, nama Trustajumena memang menjadi ancaman yang terus menghantui di lembah hatinya yang paling dalam. Meski berharap Trustajumena Pancala bukanlah yang “utusan maut” Bambang Ekalaya, tapi siapa tahu……. Karenanya, Begawan Durna ingin mengajarkan lagu Hymne Guru itu pada murid-muridnya. Dengan lagu tersebut diharapkan bisa meredam api dendam Trustajumena pengemban kutukan maut Bambang Ekalaya.    (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement