BANJARAN DURNA (12)

Aswatama menangis, karena direken kucing doyan dendeng oleh ayahnya, Begawan Durna.

KARENANYA soal murid bernama Trustajumena tak dipikirkan benar, dia tetap diperlakukan sebagaimana murid perguruan pada umumnya. Yang belakangan selalu menggoda pikiran Begawan Durna justru ucapan putranya, Aswatama, yang ingin juga punya pacar dan menikah demi mengembangkan diri dan berketurunan. Sebab kata ahli Ilmu Jiwa Sigmund Freud, mempertahankan jenis atau berketurunan adalah sudah menjadi naluri setiap manusia.

Dalam usia 25 tahun dewasa ini, sudah selayaknya Aswatama punya pacar. Tapi kalau nanti dia menikah dan foto bersama di kuwade (kursi penganten), Begawan Durna sama siapa pasangannya? Mau pinjam istri orang, kan nggak boleh! Bagaimana pun juga Pendita Durna harus punya istri sendiri. Maklum, saking sibuknya ngurus perguruan, dia jadi lupa bahwa punya istri itu juga kebutuhan mendasar, sehingga tiap malam tak perlu kedinginan lantaran terjebak dalam kesendirian.

“Aswatama, jadi kamu sudah kepengin kawin juga ya?” tanya Pendita Durna kemudian, saat ada waktu longgar.

“Iya betul rama. Saya kan sudah sunat lewat bong supit Noto Pandoyo dari Prambanan, jadi kan perlu uji coba….” kata Aswatama dengan cepat.

“Tapi kalau kamu nikah dan di resepsi mantenan bapak sendirian tanpa istri, kan lucu jadinya. Maka biar ayah yang kawin dulu ya, baru nanti kamu saya pikirkan.” Jawab Durna lagi tanpa malu-malu.

“Kok gitu sih, rama? Apa ini namanya bukan gaplek nang krikilan, wis tuwek kok pethakilan?” sindir Aswatama agak kecewa dan sewot.

Meski dikecam begitu tajam, tetapi Pendita Durna hanya nyengir kuda saja, seakan tak peduli pada kebutuhan arus bawah putranya. Tapi ya maklumlah, sejak putus dengan Dewi Wilutama  lebih dua dekade lalu, dia sama sekali tak pernah bersentuhan dengan kaum Hawa. Isyunya sih pernah kawin dengan Dewi Krepi putri Prabu Parungaji dari Tempuru, bahkan dikabarkan Aswatama adalah anak Krepi. Tapi faktanya, ketika ditest DNA, Aswatama tak ada hubungan darah dengan Prabu Parungaji. Justru secara pisik dia memang mengindikasikan anak Dewi Wilutama yang menjelma kuda, karena kedua kaki Aswatama berkuku gasal macam kuda.

Saat terjadi skandal asmara di udara 25 tahunan lalu, usia Bambang Kumbayana ya Durna muda baru 30 tahunan. Berarti sekarang usianya sekitar 55 tahunan. Tapi karena hidupnya kurang hepi dan sehari-hari mencuci sendiri macam Rinso, penampilannya jadi tekor! Tampang Begawan Durna jadi seperti orang berusia 60 tahun. Lebih-lebih rambutnya sudah mulai nyambel wijen (banyak tumbuh uban), jika tak berjubah dan pakai kethu kadrun jadi mirip pengacara kondang Adnan Buyung Nasution almarhum.

“Aswatama, tolong belikan Pikok semir rambut ya, biar bapak tampak menjadi muda lagi.” perintah Pendita Durna sembari mengangsurkan uang Rp 50.000- an.

“Kan bagusan dibiarkan begitu saja rama, biar seperti Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, yang banyak didukung rakyat untuk nyapres di tahun 2024.” Jawab Aswatama sambil menerima uang tersebut.

“Dia kan calon pemimpin, sedangkan bapak kan calon pengantin, beda dong! Rakyat yang dilihat kinerjanya, sedangkan wanita pada calon suami, yang dilihat pertama tongkrongannya, baru nanti soal “tangkringan”-nya,” kata Begawan Durna lagi panjang lebar.

Perlu diketahui, sejak perguruan Pendita Durna pindah ke Sokalima, rejeki datang beruntun. Oleh Jakapitono yang kini sudah jadi raja Ngastina, Pendita Durna diangkat menjadi Penasihat Spiritual Kerajaan (PSK) Ngastina. Tentu saja derajat Pendita Durna naik kelas dua tingkat. Dapat mobil dinas Toyota Camry yang plat hitamnya pakai seri RFS (Rezim Fenting Sekali). Bensin dan servis setiap bulannya ditanggung negara. Nyaman dah!

Oleh karena itulah, meski sudah tua bangkotan, pede saja Pendita Durna berburu cewek. Yang ditarget bukan lagi janda atau perawan tua usia 40 tahunan, tapi jutru gadis belia usia 20 tahunan, yang lebih cocok jadi anaknya, karena jarak usianya begitu njomplang. Begawan Durna sudah berusia oversek (lebih 50 taun) sedangkan yang diincar Dewi Rukmini putri Prabu Bismaka dari Kumbina, yang usianya baru sekitar 20 tahun.

“Itu lebih cocok buat saya, rama. Bapak ini mestinya cari yang sudah emak-emak saja.” Protes Aswatama lagi.

“Diem kamu! Memangnya Aswatama nggak kepengin punya adik baru?” Begawan Durna mencoba menjajagi perasaan anak lelakinya.

“Halah….., boro-boro mikir adik baru. Wong “adik” sendiri dalam sarung saja terlantar kok…..” jawab Aswatama dengan tampang buthek.

Begawan Durna tersenyum kecut atas keluh kesah putra semata wayangnya. Tapi dia mendadak kaget ketika Aswatama sudah punya pemikiran terlalu jauh ke depan. Sebab dia tiba-tiba bertanya, mau ditaruh kamar mana jika ibu muda rama begawan diboyong ke  Sokalima? Bahkan Aswatama juga menyarankan, jangan ambil kamar yang berdekatan dengan kelas para murid. Berisik sekali, pasti tidak nyaman bagi pengantin baru.

Tapi begawan Durna menjelaskan istri barunya nanti takkan dibiarkan tinggal di Perguruan Sokalima Beragama. Dia akan dibelikan rumah khusus di real estate yang nyaman dan eksklusif semacam Pondok Indah atau Bumi Serpong Damai. Lagi-lagi Aswatama protes. Untuk istri baru beli rumah harga miliaran mampu, giliran anak minta mobil Toyota Rush saja tak pernah dipenuhi.

“Lalu Rukmini istriku nanti saya suruh tinggal di sini? Mana mungkin aku menaruh dendeng dekat kucing….” jawab Begawan Durna asal-asalan.

“Rama menuduh saya seperti kucing? Teganya, teganya!” tiba-tiba Aswatama menangis.

Bagi Aswatama, silakan orang menyebutnya sebagai kecebong, kampret, bahkan kadrun sekalipun; dia takkan merasa terhina. Tapi ketika dikatakan sebagai kucing demen nyolong dendeng, ini sungguh pelecehan. Kalau dirinya kucing, itu berarti Begawan Durna juga bapak daripada kucing dong! Padahal senakal-nakalnya Aswatama, tak mungkinlah ngrusuhi (ganggu) istri ayah sendiri.

Sejahat-jahatnya wayang, dia tak sejahat manusia. Coba saja wayang Burisrawa yang katanya cinta setengah mati pada Sembadra, ketika oleh kidalang keduanya  ditaruh satu eblek dalam kotak, tak mungkin Sembadra hamil. Beda dengan manusia, jangankan ditaruh dalam satu kamar, beda rumah saja berani loncat jendela.

“Sudahlah Aswatama, jangan menangis. Kamu jangan terlalu berpikiran jauh, bapak kan baru mau melamar. Itu bisa diterima, bisa juga tidak. Maafkan ayah ya….” kata Begawan Durna menghibur Aswatama. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

Advertisement