BANJARAN DURNA (14)

Kata Begawan Durna, wit adakah adikih wohe adalah kasus ACT. Banyak terima sumbangan publik, tapi yang disalurkan hanya sedikit. Dewi Rukminipun kaget.

TAK lama kemudian munculah sekar kedaton Dewi Rukmini. Dengan kebaya ala Putri Solo, nampak semakin nyata kecantikannya. Para hadirin semula mengira dia akan tampil pakai jilbab dan baju gamis. Rupanya Kumbina sudah juga terpengaruh “revolusi” di Arab sana, yang mengizinkan kaum hawa memperlihatkan rambutnya, boleh menyetir mobil sendiri dan boleh nginep di hotel sendirian. Bahkan kabarnya Kumbina juga akan menggelar kontes sejuta kebaya.

Begawan Durna menatap Dewi Rukmini yang mirip Najwa Shihab dengan jantung sedut-senut. Jika memang sedang milik, putri paling cantik sekotak wayang itu akan menjadi miliknya. Dia akan dilayani dengan penuh kasih sayang, tiap pagi diladeni minum kopi dan sarapan. Yang pasti, dengan istri Putri Kumbina menjadikan Begawan Durna akan keramas melulu tiap pagi.

“Maaf para hadirian sekalian, sesuai dengan penjelasan kanjeng rama Prabu Bismaka, soal siapa calon suamiku memang diserahkan secara mutlak padaku. Maka bapa Begawan Durna yang hendak mempersuntingku harus mampu menjawab teka-teki milenial dan kolonial bikinanku. Jika berhasil menjawab, maka saya siap menjadi istrimu sampai kaken-ninen…..” Kata Dewi Rukmini dengan santun.

“Ah pasti gampang itu. Soal teka-teki itu soal kecil, wong saya biasa mengisi TTS berhadiah di berbagai majalah. Coba, apa pertanyaanmu diajeng Lethekmini…..” Jawab Begawan Durna optimis. Dia pun lalu tampil ke depan, berdiri menghadap mikropon persis seperti pejabat mau kasih sambutan.

Para hadirin bertepuk tangan, karena langsung teringat kisah Begawan Wisrawa saat memperebutkan Dewi Sukesi sebagaimana dikisahkan dalam “Serat Lokapala”. Tafsir bebas wejangan “Sastra Jendra Hayuningrat” dari Dewi Sukesi ditebak dengan mudah oleh Begawan Wisrawa. Mestinya putri Prabu Sumali itu untuk Prabu Danaraja anak Begawan Wisrawa, tapi karena tergiur oleh kecantikan Dewi Sukesi, akhirnya dipakai sendiri.

Para hadirian berharap, terjadi antithesa atau kejutan sebaliknya. Bila Begawan Wisrawa pakai sendiri jatah untuk anaknya, justru nanti Begawan Durna akan menyerahkan Dewi Rukmini pada Aswatama, putra tunggalnya yang membujang terlalu lama. Pastilah popularitas Begawan Durna akan terdongkrak. Bila Nyapres elektabilitas bisa mengejar Prabowo-Ganjar dan Anies.

“Teka teki saya adalah; wit adakah, adikih wohe. Jawaban secara kolonial apa, dan secara milenial apa. Silakan menjawab Bapa Begawan? Dikasih waktu untuk berfikir selama 5 menit.” Kata Dewi Rukmini.

“Ketimbang pusing lihat Google saja Mbah,” kata Durmagati mencoba nylekop (nyeletuk), tapi terus menyembunyikan mukanya. Rupanya dia biasa nonton kethoprak dan nggiyaki (mengolok-olok).

Jidat geseng Begawan berlipat sejenak, tanda berfikir secara serius. Tak lama kemudian mukanya sudah nampak jembar, seperti orang sembelit berhasil BAB. Dia ingat, apa yang ditanyakan itu teka-teki kuno (kolonial) antara Betara Wisnu dengan Prabu Watugunung. Jawabannya adalah: pohon beringin, sebab pohon yang dipakai logo Golkar itu cuma menang gede batang doang, tapi sesungguhnnya berbuah kecil-kecil.

Tapi untuk teka-teki milenialnya apa ya? Terus terang, sejak pekabaran dalam dan luar negeri mayoritas pindah ke koran online, Begawan Durna jarang mengikuti pemberitaan. Buka layar HP hanya untuk nonton Youtube saja, untuk buka situs pemberitaan terlalu ribet. Walhasil jika ada berita menghebohkan di jagad maya, Begawan Durna tahunya ya sekedar omongan orang dari mulut ke mulut.

“Waktu tinggal 10 detik Bapa Begawan Durna…!” kata Dewi Rukmini mengingatkan.

“Oo, anu! ACT-nya Ahyudin,  sumbangan dana publik buanyak banget, tapi yang disalurkan hanya sedikit!” jawaban Begawan Durna untung-untungan dan asal-asalan.

Ternyata jawaban itu betul 100 persen. Terbukti Dewi Rukmini kaget sekali. Sejatinya dia tidak mau dan tidak rela menjadi istri kakek-kakek pakar kebatinan ini. Maka begitu teka-tekinya terjawab, dia langsung kabur dari tempat acara. Kembali ke taman keputren. Bodo amat dengan sorotan orang. Dibilang tidak jantan ya biar saja, sebab dirinya memang bukan jantan, tapi betina.

Para tamu undangan terutama kubu Ngastina menduga, mungkin Dewi Rukmini  masuk ke dalam Istana dalam rangka ganti baju pengantin, siap dinikahkan dengan Pendita Durna. Tapi sampai satu jam lebih tak kunjung keluar juga. Begawan Durna pun gelisah luar biasa, karena calon istrinya yang sudah berhasil ditebak teka-tekinya kok kabur tak kunjung keluar.

“Ini gimana di Cuni,  diajeng Lethekmini, kok tak kunjung muncul. Jangan-jangan kabur dia, macam bandar buntut ketembus tiga angka….,” keluh Begawan Durna pada patih Sengkuni.

“Sabar wakne Gondel, sabar! Kita khusnudzon saja, dia tentu baru ganti baju, ngukur-ngukur mana yang paling serasi untuk bersanding di pelaminan bersama sampeyan.” Jawab Patih Sengkuni membesarkan hati Begawan Durna.

Di kursi belakang Durmagati dan Dursasono bicara pating klesik (berbisik), kesannya mencemooh Begawan Durna. Bak pengamat politik dia memprediksi bahwa Dewi Rukmini tak kunjung kembali karena sesungguhnya dia sudah kabur bersama pacar tersayang, dalam rangka kawin lari. Dia tak mau jadi Siti Nurbaya diabad milenial, sementara Pendita Durna sebagai Datuk Maringgih ora nyebut (tak tahu diri).

Seperti dugaan Durmagati, Dewi Rukmini kembali ke taman keputren ternyata memang sudah ada yang menunggu. Dia adalah raja muda Dwarawati Prabu Kresna, yang sejak bulan lalu sudah jadian menjadi kekasih Dewi Rukmini. Setiap Jumat malam dia apel diam-diam ke taman keputren Kumbina tanpa ada yang tahu. Kalaupun ada yang tahu paling-paling para emban Limbuk-Cangik, yang dikasih uang Rp 50.000,- masing-masing langsung diam.

“Celaka kangmas Narayana, meski ngawur ternyata tebakan Begawan Durna benar semua. Padahal aku sama sekali nggak tertarik pada lelaki tua bangkotan itu,” kata  Dewi Rukmini pada Prabu Kresna alias Narayana.

“Asyik dong! Kawin sama bapaknya, bisa main sana anaknya…” jawab Prabu Kresna menggoda.

“Ih, nggak sudi aku kawin sama Begawan Durna, bisa-bisa baru kawin seminggu sononya is dead kecapekan…” jawab Dewi Rukmini lagi kesal.

“Lalu bagaimana diajeng, apa yang bisa saya bantu?” jawab Prabu Kresna mirip Satpam BCA.

Prabu Kresna tertawa ngakak melihat kepanikan Dewi Rukmini. Tapi bagaimana pun juga dia siap memberikan perlindungan. Mana mungkin pujaan hatinya mau digaet lelaki lain hanya diam berpangku tangan. Narayana bertekad mengamankan putri idaman hatinya jangan sampai tersentuh oleh kakek-kakek bau remason itu. (Ki Guna Watoncarita).