BANJARAN DURNA (16)

Begawan Durna mengomeli Permadi, kenapa malah bela Narayane ketimbang mantan gurunya?

KUBU Kurawa terutama Begawan Durna gelisah dan cemas luar biasa. Sebab Permadi tak kunjung keluar dari taman keputren untuk menangkap Narayana yang mau mencuri Dewi Rukmini. Pendita Sokalima itu tahu persis kelakuan bekas muridnya, apa lagi ketemu Narayana sepupuannya, klop dah! Bagaikan tumbu oleh tutup. Dikhawatirkan oleh Begawan Durna, justru keduanya bahu membahu untuk menggagalkan ambisi Pendita Durna.

“Durmagati, kamu jangan ngetwet aja macam Fadli Zon. Coba cek ke taman keputren sampai di mana keberhasilan Harjuna menangkap si maling Narayana.” Perintah Pendita Durna.

“Tenang saja Mbah, Dewi Rukmini masih ada di dalam sana. Tak mungkin dibawa kabur Prabu Kresna. Ngapain tergesa-gesa, keburu mau “mbelah duren” ya?” jawab Durmagati berbisik.

“Makanya kamu cek ke dalam sana Dur….” perintah Durna tak sabaran.

“Kita ini tamu Mbah! Jangan bludhusan begitu, nggak enak! Dikiranya kita nggak tahu sopan santun.” Jawab Durmagati masih terus saja ngeyel.

“Lha memang tahumu….. tahu gejrot.” Jawab Begawan Durna jengkel.

Saking tak sabarnya Begawan Durna, dia langsung mendekati Prabu Bismaka, minta berjuta-juta maaf dan mohon izin untuk segera turun tangan sendiri, masuk ke taman keputren. Tentu saja Prabu Bismaka mempersilakan saja. Sebab jika sampai menolak, nanti dikiranya sudah kongkalikong sama Narayana. Padahal dalam hati kecilnya Prabu Bismaka juga senang jika putrinya dibradhat (dilarikan) oleh raja muda dari Dwarawati tersebut.

Jika putrinya sampai dipersunting Begawan Durna, bagaimana mungkin mantu kok usianya lebih tua ketimbang mertua. Apa kata dunia? Sebetulnya bisa saja Prabu Bismaka langsung menolak mentah-mentah lamaran Durna, tapi dia tidak enak dengan Prabu Duryudana. Nanti dikiranya mempermalukan tokoh panutan Ngastina di mata publik. Paling ditakuti jika dituduh melanggar UU Perlindungan Begawan. Sebab jika UU Perlindungan Ulama di RI baru sekedar wacana PKS, di jagad perwayangan sudah lama diundangkan.

“Ngger Rukmana, coba cek ke taman keputren, apa yang terjadi di sana. Saya takut terjadi apa-apa atas kakakmu Rukmini. Semoga saja dia sudah dibawa kabur Narayana.” Perintah Prabu Bismaka pada putra keduanya dengan berbisik.

“Kok begitu sih doa rama.” Jawab Rukmana setengah protes.

“Ya nggak papa, ketimbang kakakmu dapat kakek-kakek.”

Sementara Rukmono masuk ke taman keputren, dia mendengar Begawan Durna tengah marah-marah, sepertinya ditujukan kepada Permadi. Ksatria Madukara itu dinilai nggak ada bekti-nya sama sekali pada mantan gurunya. Gurunya mau nikah boro-boro nyumbang, malah menjegal dengan membela pesaing yang nyata-nyata menghalalkan segala cara. Faktanya, diperintahkan tangkap Narayana, eh……malah si maling tidur kok ditungguinya dengan setia.

Pendita Durna pun pikirannya jadi macem-macem. Prabu Kresna tidur ditunggui oleh Harjuna dan Rukmini, jangan-jangan karena kelelahan setelah astralungiyat (hubungan intim) bersama putri Prabu Bismaka tersebut. Duh, duh,…….hancur hatiku. Begitu ya caranya anak muda milenial, nikah resmi juga belum kok sudah berani kasih DP.

“Permadi, mestinya kamu belain saya dong. Wong yang menang tebakan saya, yang ambil hadiah putri kok Narayana. Ini kan nggak adil…..” omel Begawan Durna.

“Tebakan berhadiah sepeda nanti bapa Durna tinggal tunggu dari Presiden Jokowi.”

Makin panas hati Begawan Durna, karena Permadi ditegur kok jawabnya malah ngeledek begitu. Dia segera kembali ke sitinggil, tanpa permisi lagi pada Prabu Bismaka, dengan kode lambaian tangan diminta para pengombyong Ngastina rame-rame masuk taman keputren. Maka Durmagati, Dursasono, Kartomarmo dan Patih Sengkuni segera turun dari sitinggil dan menuju keputren. Adapun Prabu Duryudana, Prabu Baladewa dan Adipati Karno tetap pada posisi masing-masing. Rasanya nggak enak mau ikut-ikutan, kesannya kok seperti wayang nggak pernah makan sekolahan.

“Maafkan rama prabu Bismaka, atas ulah anak-anak Kurawa.” Ujar Prabu Duryudana dan Prabu Baladewa nyaris serempak.

“Oh nggak papa. Yang penting taman nggak sampai rusak seperti pagar pengaman di JIS Jakarta.” Jawab Prabu Bismaka kalem saja, meski dalam hati gundah gulana atas kelakuan bala Kurawa.

Beberapa menit kemudian suasana taman keputren memang seperti peresmian JIS (Jakarta International Stadium) yang diawali dengan pertandingan persahabatan Persija Jakarta melawan klub Thailand, Chonburi FC. Tapi bukan suara riuh rendahnya pagar pengaman yang jebol, melainkan bala Kurawa sedang menghajar Prabu Kresna yang terlihat dalam posisi tidur.

Uniknya ketika pukulan dan sabetan golok menghajar tubuh Prabu Kresna, yang terdengar hanya suara klothakkkk….klothak….bukan teriakan mengaduh. Senjata itu seperti beradu dengan kayu manekuin. Dan ketika prajurit Kurawa kecapekan menghajar si maling Narayana, mendadak jasad Kresna berubah menjadi kembang mawar sekuntum.

“Lho! Bagaimana ini Wakne Gondel, Narayana yang dikiranya tidur kok malah berubah jadi kembang mawar?” lapor Patih Sengkuni pada Begawan Durna.

“Kurang ajar! Lha Harjuna, diajeng Lethekmininya mana? Celaka, kita-kita kena prank.” Jawab Begawan Durna sambil gedrug-gedrug saking emosinya.

Taman keputren memang sudah sepi. Saat Begawan Durna balik bakul hendak mengomando bala Kurawa, sesungguhnya Prabu Kresna yang asli sudah hadir setelah perjalanan jauh ke kahyangan. Bersama Rukmini dan Permadi mereka bertiga tinggalkan taman keputren lewat lawang butulan (pintu belakang). Mungkin mencari kantor KUA untuk menikah resmi.

Antara rasa marah dan kecewa meliputi sanubari Begawan Durna, dia merasa diprank dan plekotho oleh Prabu Bismaka. Dia ingin menggugat ke pengadilan, karena merasa dicurangi. Tapi malah ditertawakan oleh Durmagati dan Dursasono, disebutnya sebagai gaplek nang krikilan wong wis tuwek pethakilan.

“Sampeyan sudah sepuh Mbah, cari bini yang seimbang, sama tuanya. Kan sudah tidak perlu lagi pertandingan, yang penting persahabatan.” Ledek Durmagati.

“Mbuhhhh……!” jawab Begawan Durna kesal. Maklumlah, sudah kadung kondang tapi malah batal nunggang. (Ki Guna Watoncarita)