BANJARAN DURNA (18)

Patih Sengkuni ketemu Begawan Abiyasa di pertapan Candi Saptaharga. Makin jelas tanda-tandanya.

MUKA Patih Sengkuni mendadak ciut kehilangan wibawa. Boleh dikata dosa masa lalunya dibayar lunas! Dulu dia mendzolimi Patih Gandamana, gara-gara berambisi jadi patih Ngastina. Dalam lakon “Gandamana Luweng” misalnya, Haryo Suman ini dibikin babak belur oleh Patih Gandamana lantaran mencoba mencelakakan dirinya. Untung saja cepat dibawa ke dukun patah tulang di Cimande, sehingga secara pisik Patih Sengkuni tak sampai cacat. Tapi kalau bangun tidur kedua kakinya suka tremor (gemetaran).

“Paman Sengkuni, kenapa diam? Punya solusi nggak, ini Ngastina dilanda pandemi Corona jilid II.” Tegur Prabu Duryudana.

“Maaf, anak prabu, belum ada! Saya sendiri masih pusing mikir kelakuan anak saya, Antisura. Mohon maaf, saya meninggalkan rapat dulu ya……”, kata Patih Sengkuni.

Rapat kecil di istana Gajahoya kali ini memang hanya dihadiri Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni, sebab Pendita Durna masih trauma dengan tragedi Kumbina. Maka jika Patih Sengkuni mohon izin pulang dulu, berarti rapat harus ditunda. Masak Prabu Duryudana ngomong sendirian sama tiang-tiang di Istana, itu raja kenthir namanya. Kenapa tidak pakai zoom saja sehingga bisa PJJ (Pembicaran Jarak Jauh)? Mohon maaf, di Ngastina yang tahu tekniknya baru Kartomarmo, sedangkan dia juga masih absen.

Malam harinya di sanggar pelanggatan Prabu Duryudana dapat wisik dari dewa di kahyangan, namanya Sanghyang Tembara. Dia menyampaikan pesan Bethara Guru bahwa pandemi jilid II di Ngastina bisa ditangkal dengan Lenga Tala, kasiatnya semacan boster atau faksin ketiga. Tak hanya terbebas dari penyakit Covid-19, tapi juga menjadi kedot atau kebal bacokan. Cuma, kalau tanpa kaos kaki, pakai sepatu tetap saja mlecet.

“Lalu belinya di mana? Untuk seluruh rakyat Ngastina kira-kira butuh berapa barel pukulun?” ujar Prabu Duryudana agak mbodhoni, tapi memang asli bodo.

“Ini bukan minyak Pertamina, bego! Jeneng kita bisa tanya pada sesepuh Ngastina, pasti tahu mereka…..!” jawab Bethara Tembara agak kesal. Karena ketemu raja yang kurang literasi atau baca buku.

Tak banyak waktu terluang bagi Bethara Tembara, sehingga setelah menyampaikan amanat Bethara Guru langsung pergi, tak mau diajak ngopi-ngopi dulu. Tentu saja Prabu Duryudana bagaikan nemu cepaka sawakul (anugrah besar). Sebab dengan Lenga Tala tersebut, tak perlu alokasikan dana PEN (Pemulihan Ekonomi Ngastina), tapi rakyat Ngastina sudah bisa kembali sehat.

Esok paginya Prabu Duryudana mengundang para sesepuh Ngastina, dari Resi Bisma, Begawan Durna sampai prabu mantan Destarata. Tapi ternyata mereka hanya tahu bahwa Lenga Tala itu sekedar mitos masa lalu, barangnya seperti apa sama sekali tak tahu. Mungkin juga seperti minyak PPO, atau minyak angin cap Kampak.

“Ketimbang membahas Lenga Tala yang fiktip, mending membahas minyak goreng yang masih mahal. Di Indonesia, mentrinya sampai dicopot lho gara-gara gagal mengatasi kelangkaaan migor.” Nasihat prabu mantan Destarata, kesannya menghindar.

“Tanya saja Mbah Google, mungkin dia tahu. Lha wong gubernur terbodoh saja dia bisa jawab kok.” Potong Begawan Durna, agaknya dia sudah bisa melupakan gendakannya, Dewi Lethekmini.

Prabu mantan ini sebetulnya punya kaitan erat dengan Lenga Tala tersebut. Tapi karena buta di kedua matanya, ditambah menderita diabetes puluhan tahun lamanya, memorinya pun hancur. Maka soal Lenga Tala dirinya sesungguhnya hanya lupa-lupa ingat. Karena barang tersebut merupakan warisan dari almarhum adiknya, Pandu Dewanata, dan dia sempat merawatnya.

Lenga Tala itu pusaka pemberian dewa di kahyangan, sebagai hadiah untuk Pandu yang berhasil mengalahkan dan membunuh raja Nagapaya, kaum oposisi yang mencoba berontak ke kahyangan. Tabung sebagai wadahnya mirip botol Akua. Pusaka itu harus disimpan di tempat sejuk, dijauhkan dari sinar matahari dan ada tulisan peringatan: kocok dulu sebelum pakai. Kata Bethara Guru saat memberikan hadiah tersebut pada Pandu, siapa pun yang pernah diolesi minyak Lenga Tala tersebut, akan menjadi kebal bacokan.

“Maka Lenga Tala ini harus diuwet-uwet (dihemat) dan dijaga baik-baik, jangan sampai jatuh pada orang jahat, bisa hancur tatanan dunia.” Kata penguasa kahyangan itu pada Pandu.

Sayangnya Prabu Pandu tak berumur panjang. Sebelum meninggal karena serangan jantung saat menjalankan “sunah rosul” bersama Dewi Madrim, dia sempat menyerahkan Lenga Tala itu pada Destarata. Sedangkan Destarata sendiri karena menyadari akan kecacatannya, merawat Lenga Tala malah menjadi beban, taku dicolong oleh Kurawa-100 anak-anaknya yang terkenal badung itu.

“Mending Lenga Tala ini saya serahkan pada ramanda Begawan Abiyasa.” Ujar Destarata kepada Dewi Gendari istrinya, kalimatnya lirih takut didengar pihak lain.

“Yang penting anak-anak kita kan nggak tahu kehebatan Lenga Tala. Kalau sampai tahu bisa gawat. Jangankan Lenga Tala, ada buah di kulkas saja langsung dibongkar.” Jawab Gendari mengingatkan suami.

Diam-diam Lenga Tala tersebut diserahkan ke Begawan Abiyasa di pertapan Candi Saptaharga. Beban telah bergeser dari Destarata kepada ayahnya. Tapi Begawan Abiyasa juga menyadari, jika barang ini jatuh ke orang lain, akan menjadi malapetka dunia. Karena sebotol Lenga Tala ukuran Akua itu dikemas tersembuyi dalam sorban di kepalanya. Maka jika sorban Begawan Abuyasa itu nampak tinggi, karena terganjal oleh kemasan Lenga Tala.

Sesuai dengan saran Begawan Durna, para Kurawa-100 segera googling. Hasilnya, Lenga Tala disimpan Begawan Abiyasa. Sampai di situ saja informasinya. Disimpan di mana, di rumah sendiri atau masuk safety bank, tak ada keterangan lebih lanjut. Maka Kurawa-100 pun berdiskusi, membuat analisa sesuai pemahman masing-masing.

“Jangan-jangan dijaminkan ke bank, kan selama pandemi Corona banyak cantrik diliburkan, sehingga nggak ada pemasukan.” Kata Patih Sengkuni.

“Saya curiga, kemasan Lenga Tala disimpan dalam sorbannya. Maka perhatikan saja, sorban Begawan Abiyasa kan nampak tinggi dan lebar.” Analisa Durmagati lebih masuk akal.

Ketimbang mati penasaran, Patih Sengkuni segera memimpin delegasi ke Candi Saptaharga, untuk meminta Lenga Tala dimaksud. Diserahkan baik-baik alhamdulillah, jika dipertahankan Kurawa siap merebutnya. Begawan anggur kolesom itu apa yang diandalkan? (Ki Guna Watoncarita).