BANJARAN DURNA (19)

Tanpa malu-malu lagi patih Sengkuni melepas baju sampai tinggal kancut saja, dan berguling-guling di atas tumpahan Lenga Tala.

PARA cantrik di pertapan Saptaharga terkaget-kaget, baru kali ini ada Patih Sengkuni datang ke padepokan Begawan Abiyasa. Karena para cantrik juga rajin mengikuti medsos, mereka lalu menduga-duga bahwa kehadiran Patih Sengkuni untuk mendaftarkan anaknya si Antisuro yang badung, agar bertobat dan menjadi anak yang baik. Tidak lagi mengandalkan nama besar bapaknya, karena makin ke sini nama besar Patih Sengkuni makin meredup bagaikan bebek lumpuh gara-gara salah makan bathang (bangkai).

Bukan hanya para cantrik, Begawan Abiyasa juga kaget karena kehadiran Patih Sengkuni ke Candi Saptaharga sungguh merusak pakem pakeliran. Dalang manapun, baik yang gaya Yogyakarta maupun Surakarta, rasanya belum pernah mempertemukan dua sosok wayang yang sangat berseberangan kiblat dan garis politiknya itu. Tapi sebagai begawan bijak, Patih Sengkuni tetap diterima dengan baik.

“Kok njanur gunung (tumben), angin dari mana yang menyebabkan kaki Patih Sengkuni sampai ke sini. Tapi sehat-sehat semuanya kan?” ujar Begawan Abiyasa dengan ramah.

“Alhamdulillah, semuanya sehat eyang begawan. Cuma ini Covid-19 kok kumat lagi, Rumah Sehat di Ngastina penuh dengan pasien bergejala Corona. Sedangkan dana PEN (Pemulihan Ekonomi Ngastina) sudah menipis…..” jawab Patih Sengkuni, terkesan hendak curhat.

“Nanti dulu, kok ada istilah Rumah Sehat, dapat dari mana itu?” kejar Begawan Abiyasa.

“Alah, itu cuma latah ikut-ikutan Gubernur DKI Jakarta. Isinya sih ya tetap orang sakit, berebut pakai kartu BPJS-Kes.” Jawab patih Sengkuni agak malu-malu.

Begawan Abiyasa tertawa lepas, ada saja caranya orang untuk mempertahankan popularitas. Patih Ngastina yang kini ada di depannya, lebih parah lagi. Dia berani menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan. Jika Syumanjaya ahli menyutradarai film, Haryo Syuman ini pakar menyutradarai tragedi Bale Sigala-gala, sehingga Pendawa Lima hampir saja celaka karena terjebak kebakaran rekayasa.

Maka belum-belum Begawan Abiyasa sudah curiga dulu atas kehadiran wrangka dalem (patih) Ngastina tersebut. Jika bukan mengajak permufakatan jahat, paling-paling dia ke Candi Saptaharga untuk mencari dukungan tahun 2024 nanti. Bukan untuk dirinya, tapi bisa juga buat anak sendiri, atau anak menantunya. Padahal semua orang tahu, anak dan menantu Patih Sengkuni ini sama sekali tak ada nilai jualnya.

“Mohon maaf eyang Begawan, dengar-dengar pusaka Lenga Tala dalam perawatan eyang. Sesuai petunjuk dewa, hanya minyak itu yang mampu menyembuhkan pandemi Covid-19 di Ngastina. Maka boleh nggak boleh, atas nama anak Prabu Duryudana, kami ingin meminjam pusaka itu.” Ujar Patih Sengkuni hati-hati sekali.

“Maaf kaki Patih Sengkuni, Lenga Tala tak ada dalam kekuasaanku,  karenanya saya tak bisa membantu. Maaf beribu maaf…..” jawab Begawan Abiyasa.

“Lalu di mana itu barang?” kejar Patih Sengkuni demikian penasaran.

“Masuk SDB bank pemerintah.” Jawab Begawan Abiyasa lirih.

Patih Sengkuni makin kodheng (bingung), SDSB kan sudah ditutup jaman Menko Polkam Sudomo dulu, kok ini malah dibuat menyimpan benda berharga. Maklum, patih Ngastina ini menjelang 2024 pendengarannya makin ngacau, seiring dengan pertambahan usianya. Berita salah dianggap benar, tapu berita benar dianggap salah. Misalnya ya SDB yang artinya Safe Deposit Box, oleh Patih Sengkuni disamakan dengan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah. Uniknya jika menyangkut urusan duit selalu jernih dan sensitip, macam Bolot lenong Betawi.

Kehadiran Patih Sengkuni ke Candi Saptaharga sesungguhnya ditemani Dursasono dan Durmagati, hanya keduaya cukup menunggu di teras padepokan. Katanya gerah di dalam karena tanpa AC. Tapi semua apa yang dibicarakan di dalam masih nyangkut ke telinganya. Karenanya dari luar Dursasono bisa menyimpulkan bahwa Begawan Abiyasa mau membohongi Patih Sengkuni.

“Bohong dia, bongkar saja sorbannya. Pasti Lenga Tala disimpan di situ.” Pesan  Dursasono lewat WA ke HP Patih Sengkuni.

“Apa iya? Tapi masuk akal juga sih.” Jawab Patih Sengkuni lewat WA pula.

Mendadak Patih Sengkuni kehilangan jati dirinya. Lupa bahwa dirinya seorang patih di negara besar, lupa bahwa sedang bertamu kepada tokoh nasional perwayangan yang sangat disegani; langsung muncul niatnya untuk menarik sorban Begawan Abiyasa. Pikirnya, Walikota Solo saja berani copot paksa masker Paspampres, apalagi dirinya yang mahapatih negri Ngastina.

Dan benar saja, pura-pura berpamitan tapi saat Begawan Abiyasa  membungkuk langsung ditariknya sorban itu dengan keras. Wush……., dan terlemparlah botol ukuran Aqua 600 ML itu dari dalam surban. Begawan Abiyasa berusaha menangkapnya, tapi gagal. Botol berisi air kekuning-kuningan itu jatuh ke lantai, tutup terlepas sehingga cairan Lenga Tala itu tumpah di ubin keramik.

“Sengkuni, hina dan sangat menjijikkan kelakuanmu itu. Jabatanmu patih, tapi mental kere….!” omel Begawan Abiyasa sambil memungut kembali botol Lenga Tala dan menutupnya rapat-rapat, tapi isi tinggal separo.

“Biar kere, tapi kan sedang munggah mbale….” jawab Patih Sengkuni asal njeplak dan tanpa malu-malu.

Patih Sengkuni kemudian segera melepas pakaiannya tinggal kancut saja, lalu berguling-guling di atas tumpahan Lenga Tala tersebut. Sebab diyakini, setiap kulit yang terkena minyak bertuah itu akan menjadi kebal bacokan, ibarat kata tinatah mendat jinara menter-menter. Durmagati dan Dursasono juga nimbrung, tapi hanya kebagian sedikit-sedikit.

Sedangkan Begawan Abiyasa karena kecewa berat atas sikap tamunya langsung meninggalkan tempat. Para cantrik yang hendak menghajar para tamu dari Ngastina itu dicegahnya. Baginya lebih penting menyelamatkan sisa Lenga Tala tersebut, ketimbang ngurusi para tamu Kurawa yang tak tahu etika dan sopan santun. Namun demikian Begawan Abiyasa sempat mengutuk Patih Sengkuni Cs bahwa akan celaka di Perang Baratayuda Jayabinangun kelak.

“Ngeramal apa Mbah? Buntutan tiga nomer ya…..?” ledek Durmagati.

“Sudah, sudah, kita segera pergi dari sini. Situasinya sudah tidak kondusif.” Bisik Patih Sengkuni. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement