SAMA sekali tak ada kesempatan bagi Bambang Kumbayana untuk berkemas. Apa yang melekat dalam tubuhnya sekarang, ya itulah harta miliknya. Misalkan bisa dilaporkan ke LHKPN, aset itu hanya sepotong baju dan celana panjang yang dikenakan, dan sandal merk Munarman. Ada juga kaos sport cap 777 dan simpak GT-man, tapi apa itu perlu disebutkan?
Untung Bambang Kumbayana saat itu mengenakan jam tangan Seiko otomatis, jika dijual ke tukang loak mudah-mudahan laku di atas Rp 1 juta. Dengan modal itu dia nekad hendak meninggalkan bumi tumpah darahnya, Ngatasangin. Mungkin untuk selamannya, sebab sudah kadung disebratke (diusir dan tak diakui).
“Mau dijual berapa ini jam,” kata tukang loak di Triwindu Solo.
“Biar cepet Rp 1,5 juta aja.” Kata Bambang Kumbayana untung-untungan.
“Ya nggak laku. Rp 750.000,- aja ya.” Tawar si pedagang.
Si pedagang naik sedikit dan Bambang Kumbayana turun juga sedikit. Akhirnya ketemu juga kesepakatan, harga jadinya Rp 1 juta, pas dengan prediksi pemilik. Jam hadiah orangtua saat lulus SMA dulu lepas sudah dari tangan kirinya. Setelah menerima pembayaran, dia segera panggil Opang untuk mengantar ke Balai Pengobatan mengurus tes antigen cepat. Untung semua kenal Bambang Kumbayana anak raja, sehingga berharap digratiskan. Lumayan ngirit Rp 250.000,-
Opang yang dicarter Bambang Kumbayana langsung tancap gas menuju bandara Begawan Maruta International Airport. Ini bandara yasan (dibangun oleh) Begawan Maruta ayah Prabu Baratmeja. Maruta artinya angin, Barat juga angin, karenanya tak mengherankan para raja Ngatasangin ini sering pada masuk anginan. Setiap pimpin sidang kerajaan terbatas sambil kerokan dan hoaaaak-haeeeeek….melulu.
Tapi ternyata di ruang departure (keberangkatan) luar negeri sepi-sepi saja, sebab masih ditutup gara-gara Covid-19. Karena penerbangan ke Pancala juga masih ditiadakan, Opang Bambang Kumbayana dikebut ke pelabuhan Tanjung Prunggu. Tapi sial dangkalan, pelayaran ke semua tujuan mancanegara juga ditiadakan. Bagaimana ini, apa mungkin berenang atau naik drone saja?
“Ini bang ongkosnya,” kata Bambang Kumbayana sambil mengangsurkan uang lembaran Rp 50.000,- Dia berharap si Opang menolak dibayar, eh malah minta ditambahi
“Tambahin dong Mas, kan ini muter-muter.” Protes sang pengojek.
Setelah memberikan tambahan Rp 25.000,- tukang ojek pun pergi dan tinggalah Bambang Kumbayana di pinggir laut sendirian. Negeri Pancala jauh di balik laut lepas itu. Ingin rasanya berenang saja, tapi mana mungkin. Di samping jauh sekali ratusan kilometer, Bambang Kumbayana berenang bisanya hanya gaya batu alias tenggelam melulu. Karenanya dulu ikut test masuk TNN (Tentara Nasional Ngatasangin) tidak terima. Sekarang, ketika Panglima TNN hapus persyaratan bisa berenang, giliran umur Bambang Kumbayana yang tak memenuhi syarat. Pratu usia 35 tahun, lalu jadi Letjen nanti umur berapa, 70 tahun? Masuk anginan lagi dong…… karena jendral anggur kolesom.
Lantaran semua cara sudah mentok, akhirnya Bambang Kumbayana hanya bisa pasrah pada Jawata-gung (dewa) di kahyangan sana, agar diberi solusi, terbebas dari berbagai masalah. Ya masalah hambatan ke Pancala, ya masalah keuangan tentunya. Lalu dia menengadahkan wajahnya ke langit, lalu dikabarkan semuanya kepada karang kepada ombak kepada matahari, tetapi semua diam, tetapi semua bisu. Tinggalah Bambang Kumbayana terpaku menatap langit. Ho ho ho ho, ho ho ho ho…….
“Duh dewa batara-gung, mohon diturunkan perantara agar aku bisa menyeberangi laut ini. Kalau lelaki akan kujadikan sedulur sinarawedi (keluarga dekat), kalau perempuan kuambil istri.” Kata Bambang Kumbayana, sambil tangan menengadah, wajah terus menatap langit.
Tapi tak ada jawaban, kecuali burung camarnya Vina Panduwinata berterbangan di atas kepalanya. Jika mereka bisa ngomong, burung-burung itu akan mempertanyakan, jaminan dijadikan sedulur sinarawedi itu apa? Diberikan rumah, kapling, atau dijadikan komisaris BUMN? Jika hanya diberi fasilitas BLT Migor dan Kartu Prakerja, buat apa?
Tiba-tiba tak diketahui dari mana asalnya, munculah seekor kuda sembrani, yakni kuda yang memiliki sayap sepasang. Dia lalu mendekati Bambang Kumbayana, merendahkan punggungnya, sepertinya memberi isyarat siap dinaiki. Kaget juga Bambang Kumbayana, masak yang datang kuda. Begitu dilihat bagian belakangnya, ternyata betina. Waduh, apakah harus naik kuda ini, dan nantinya wajib mengawini sesuai sumpahnya? Aje gile!
“Kamu kuda betina, siapa namamu? Memangnya siap mengantarkanku ke negeri Pancala?” kata Bambang Kumbayana, agak ragu-ragu. Habisnya kuda kok diajal dialog.
“Hieehh, hiehhh……brrrrlbbbb!” hanya begitu jawab si kuda berulang kali.
Lalu kembali Bambang Kumbayana menduga-duga, mungkin itu artinya si kuda siap dikendarai, menerbangkannya ke Pancala. Lantaran bener-bener tak ada alternatip lain, terpaksalah dicemplak juga itu barang. Tiba-tiba kuda kuda itu mengepakkan sayapnya, dan terbanglah ke langit lepas berikut Bambang Kumbayana selaku penumpangnya. Tak tahulah berapa kaki ketinggiannya dan berapa knots kecepatannya, yang jelas aliran sungai nampak meliuk-liuk bagaikan ular berenang.
Tanpa terasa perjalanan udara Bambang Kumbayana tiba di atas tol tapal kuda, sementara rumah di sekelilingnya nampak beratap warna-warni, ada biru, merah, kuning dan hijau. Ini pasti di daerah Lenteng Agung Jakarta, sebagai karya agung dan spektakuler Gubernur DKI Anies Baswedan. Apa lagi di bawah sana ada tulisan running text merah berdasar hitam yang berbunyi: siap menuju Pilpres 2024.
“Wahai kuda betina, nanti sampai Pancala jam berapa?” tanya Bambang Kumbayana lagi.
“Hieehh, hiehhh……brrrrlbbbb!” lagi-lagi hanya begitu jawab si kuda terbang.
Tiba-tiba suasana di punggung kuda itu berubah drastis menjadi sebuah ranjang sebagaimana hotel, lengkap dengan bahu pengharum ruangan. Lalu tampaklah wanita cantik mempesona dengan penampilan gersang alias seger dan merangsang. Dia tergolek tiduran, seakan menguji kelelakian Bambang Kumbayana. Untung putra Ngatasangin ini masih ingat, ini bulan puasa!
“Wahai perempuan cantik laksana bidadari, siapakah gerangan?” Bambang Kumbayana bertanya dengan hati-hati.
“Lha memang saya bidadari asli, nama saya Dewi Wilutama.” Jawab sang bidadari nampak genit dan manja.
Mendengar sebutan bidadari Bambang Kumbayana jadi teringat akan obsesi lamanya. Dia tak mau jadi raja dan terusir dari bumi kelahirannya juga karena terlalu bidadari maniac. Kok sekarang di depannya ada bidadari cantik tidur ngepleh-epleh (telentang). Bagaimana coba?
“Lha kuda terbangnya itu lalu ke mana?” tanya Bambang Kumbayana.
“Itu badan wadag saya atas kutukan dewa, gara-gara numpang pakai lipen stip milik Dewi Uma istri Betara Guru.” Jawab Dewi Wilutama jujur.
Gerak-gerik Dewi Wilutama semakin manja, sehingga Bambang Kumbayana yang menemukan obsesinya jadi lupa daratan. Katanya kemudian, batal puasa ya biarin deh, toh nanti bisa diganti puasa lagi 2 bulan berturut-turut. (Ki Guna Watoncarita)



