BANJARAN DURNA (27)

Begawan Durna heran, tumben Bima-Harjuna datang ke padepokan. Mau melegalisir ijazah ngkali.

WABAH Corona telah mereda, PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) di perguruan Sokalima telah dihapus, para murid atau peserta didik menurut istilah sekarang, sudah PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Memakai masker hukumnya tidak wajib lagi, tinggal sunat muakad. Adapun Begawan Durna tetap mengenakannya, semata-mata adalah untuk menutupi giginya yang ompong. Sebetulnya pakai gigi palsu pun bisa, tetapi merasa tidak nyaman.

“Bagaimana Aswatama anakku, kamu ikut lomba timbang badan di Ngastina nggak?” ujar Begawan Durna saat melihat putranya telah kembali dari istana Gajahoya.

“Ya enggaklah rama, putramu kan bukan darah Kuru.” Jawab Aswatama.

“Oh, iya ding!” jawab Begawan Durna yang merasa kudet (kurang update) dengan wajah tersipu-sipu.

Sebetulnya Begawan Durna ya tidaklah terlalu kudet, karena hiruk pikuk Lomba Timbang Badan di Istana Gajahoya juga mengikuti lewat berita online. Malah di sini ini pendita Sokalima merasa baper jika tak mau disebut tersinggung. Sebab katanya diangkat sebagai konsultan spiritual Gajahoya, tapi ada hajatan begini kok tidak dijawil? Ya kalau tak diundang resmi pakai kartu undangan, kan bisa dikirim lewat WA. Misalkan dilampirkan kolom sumbangan transver ke  rekening BCA, kan juga nggak papa. Jika sekedar nyumbang Rp 100.000,- Begawan Durna masih mampu kok.

Tapi Begawan Durna sadar, gelaran timbang badan Pendawa-Kurawa itu kan diotaki oleh Patih Sengkuni, sedangkan tokoh satu ini kan sengitan ora ketara (benci tapi tak terlihat). Kelihatannya akur-akur saja dengan Begawan Durna, tapi jika ada peluang suka njlomprongke (menjerumuskan). Lihat saja berbagai adegan pertunjukan wayang kulit versi Ki Hadisugito, ketika Durna jatuh terlempar. Kelihatannya ikut menolong, tapi diam-diam ikut nendang pula barang sekali. Ketika ditegur sang Begawan, jawabnya enteng saja, “Alah, ming sepisan we!

 “Lalu siapa yang menang, Aswatama?” kembali Begawan Durna bertanya.

“Biasalah, keluarga Ngastina, tapi yang tereliminasi sampai 50 orang, karena BB-nya melebihi standar.”

“Ya begitulah orang Kurawa, ngakunya darah Kuru tapi kebanyakan kurugan daging…..” jawab Begawan Durna lagi.

Tiba-tiba ada Satpam nyelonong, memberitahukan bahwa ada dua tamu dengan tubuh kontradiktf, yang satu tinggi besar, yang satunya lagi bertubuh standar dunia wayang. Dari CCTV Begawan Durna melihat, oh…itu Bima dan Arjuna, mantan muridnya dulu yang sudah lulus pendadaran secara cumlaude, jika pakai istilah perguruan tinggi.

Begawan Durna memerintahkan pada Satpamnya untuk mengizinkan masuk. Tumben-tumbenan mereka datang ke Sokalima, ada apa gerangan? Sebab setelah lulus dulu tak pernah ingat lagi pada almamaternya. Apa jangan-jangan Bima-Harjuna jadi korban isyu ijazah palsu yang dihembuskan Bambang Trimulyono, sehingga perlu statemen resmi bekas kampusnya. Semoga saja tidak, sejahat-jahatnya Bambang Tri masak sampai ngurusin dunia wayang parody juga.

“Aswatama, lihat tuh di CCTV! Namanya mau ketemu bekas guru, kok ya awak abang tanpa bawa oleh-oleh sama sekali. Pantas-pantasnya, bawa teh gula kopi kek….” Bisik Begawan Durna.

“Ah rama ini, soal begituan kok dimasalahkan. Siapa tahu mereka bawa cek tunai, tapi kalau diintip KPK jangan tanya lho…..” jawab Aswatama yang bikin ayahya nyengir kuda.

Padahal bagi Begawan Durna narasi “kuda” itu sangat sensitip, menjadikan dia ingat yang mboten-mboten. Teringat bagaimana proses bayi Aswatama lahir di dunia, dari naik kuda terbang, titipkan bayi di panti sampai disewakan ke pengemis, lalu dihajar Patih Gandamana di Pancala hingga cacat. Hmm, sungguh pedih kenangan masa lalu itu.

Bima dan Harjuna pun menghadap Begawan Durna, cipika-cipiki sebagai wujud rasa rindu yang mendalam, antara murid dengan gurunya. Begawan Durna ingat betul, murid dari Pendawa Lima itu wayangnya sopan-sopan, tahu etika. Beda dengan murid Kurawa-100, mayoritas pemalas, tak mau belajar. Itupun masih lumayan bagus, tak ada yang berani melawan Pendita Durna. Kalau jaman sekarang, Begawan Durna bisa digebuki orangtua murid karena mendidik anak-anaknya terlalu keras. Orangtua sekarang memang banyak bela anaknya ketika dihukum Pak dan Bu Guru. Ini gara-gara mengacu UU Perlindungan Anak.

“Tumben-tumbenan Bima dan Harjuna, angin dari mana yang membawa kalian ke sini? Apa mau melegalisir ijazah, diterima kerja di mana? Atau, jadi korban isyu ijazah palsu ya?” pertanyaan Begawan Durna nyerocos, sulit dipotong.

“Bukan itu, Durna bapakku. Kami berlima hendak mengikuti lomba Trajon Masal Kurawa-100, tapi sepertinya pertandingan bakal  berat sebelah. Sono kan 100 orang, sedang kami hanya berlima.” Kata Bima.

Mendengar laporan kedua mantan muridnya, Begawan terpaksa misuh ala Butet Kertarejasa, “Patih Sengkuni jan asu tenan!” Soalnya ada lomba kelas berat yang berpotensi menghilangkan asset negara, kok ya tidak mengajak dirinya selaku konsultan spiritual Istana Gajahoya. Semua diputuskan sendiri, lalu Begawan Durna ini dianggap apa? Apa sebaiknya mundur saja? Sayang dong, sebab hak keuangan Rp 75 juta sebulan kan lumayan. Jadi kali ini posisi Begawan Durna sungguh seperti Irma Suryani Nasdem, dia tak suka sama Anies Baswedan, tapi partainya malah mencalonkan dia jadi Capres.

Bima-Harjuna pun lalu minta solusi bagaimana baiknya, agar bisa memenangkan pertandingan. Mereka percaya bahwa Begawan Durna memiliki guna pengawikan (baca: serba bisa), sehingga bisa mengalahkan kubu Kurawa dengan mudah, meski kelihatannya tak masuk akal dan di luar logikanya Ade Armado aktivis medsos. Diyakini, Begawan Durna ini punya “karomah”, sehingga apapun yang tak masuk akal bisa menjadi halal meski tanpa distempel MUI.

“Lalu nimbangnya pakai apa, yang bisa menampung banyak orang?” kata Begawan Durna, bertanya.

“Kabarnya baru pesen ke pabrik kapal di Surabaya, Bapa Begawan.” Jawab Harjuna.

“Wah, kelamaan tuh. Kenapa nggak minta ke dewa saja? Saya banyak chanel kok di sana.” Kata Durna, nada-nadanya mau ngobyek.

Tapi semuanya kan tidak mungkin, karena Begawan Durna sendiri sudah “dilupakan” perannya di Istana Gajahoya. Kini yang ditunggu keluarga Pendawa Lima, bagaimana caranya untuk bisa memenangkan pertandingan meski peserta kontingen Pendawa hanya 5 orang. Prinsipnya, murah, meriah, tapi gagah dan wah! (Ki Guna Watoncarita).