BANJARAN DURNA (28)

Begawan Durna segera masuk ke sanggar pelanggatan. Karena sudah ditunggu tamu, cukup ambil paket yang 40 menit.

TIBA-tiba Begawan ambil kalkulator untuk memperhitungkan peta kekuatan antara kubu Kurawa-100 dengan Pendawa Lima. Taruhlah Bima, Puntadewa, Harjuna dan sikembar Nakula-Sadewa BB-nya rata-rata 70 Kg, dikalikan 5 baru ketemu 350 Kg. Sedangkan Duryudana, Dursasono beserta Cs adik-adiknya, bila dibuat rata-rata BB-nya 75 Kg, dikalikan 100 sudah ketemu angka 7.500 Kg. Wah peta kekuatan yang benar-benar njomplang dan tak sepadan.

“Wah, berat, berat sekali ini. Ini namanya akal-akalan licik, Patih Sengkuni memang asyu temenan….”, lagi-lagi Begawan Durna memaki ala Butet Kertarajasa.

“ Bagaimana bapa Durna, saat penimbangan kita-kita nggembol batu atau split.” Usul Nakula-Sadewa.

“Ya nggak bisa, itu curang namanya. Nanti langsung didiskualifikasi kan celaka.” Potong Begawan Durna, sementara Harjuna-Bima senyum dikulum.

“Begini saja. Bagaimana kalau ibu Kunthi diikutkan dalam timbaangan?” usul Bima.

Begawan Durna lagi-lagi menolak lewat gelengan kepala. Sebab meski dia bagian dari Pendawa Lima, tapi selama ini nomenklatur Pendawa Lima ya memang diisi oleh Puntadewa, Werkudara, Harjuna, Nakula dan Sadewa saja. Entah kenapa Dewi Kunthi tak dimasukkan, apa waktu mengurus nomenklatur tersebut Dewi Kunthi KTP-nya belum diperpanjang?

Tapi andaikan bisa masuk kubu Pendawa Lima pun, tetap saja tak bisa menolong keadaan. Paling-paling ketambahan BB 45-50 Kg, ya percuma saja, tetap saja Kurawa-100 yang menang, dan harapan menguasai kembali negeri Ngastina bakalan pupus untuk selamanya. Jelas ini hanya enak bagi Ngastina, tapi enek bagi Pendawa.

“Bapa Durna, sebetulnya nggak usah pakai kalkulator maupun sempoa sekalipun, Pendawa Lima bakal kalah telak. Makanya kami ke sini minta petunjuk, bagaimana caranya memenangkan Trajon Massal ini. Bapa Durna kang segala gudangnya Ilmu Pangawikan.” Kata Bima kemudian.

“Oke, oke kalau begitu.” Jawab Begawan Durna sambil manggut-manggut.

Pendita Sokalima lalu minta izin sebentar untuk naik sanggar pelanggatan demi minta petunjuk dewa, koneksinya di kahyangan Jonggringsalaka. Karena ini ditunggu oleh keluarga Pandawa Lima, Pendita Durna ambil paket yang 40 menit saja, bukan yang 40 hari 40 malam sebagaimana lazimnya puasa pati geni. Padahal melalui semedi selama 40 hari 40 malam itu lebih afdol dan nendang hasilnya.

Koneksi atau link Begawan Durna di kahyangan ternyata Betara Temboro dari kahyangan kluster Sela Mangumpeng. Dia disebut juga Sanghyang Pathuk, karena lokasi kahyangan tersebut kira-kira tepat di atas  Pathuk Gunung Kidul jika ditarik garis lurus secara vertikal. Dewa satu ini memang suka melawak, ngomong ngaco dan cenderung tidak konsisten. Demen bikin istilah yang tidak lazim. Misalnya banjir disebutnya air parkir, rumah sakit sebagai rumah sehat, rumah susun jadi rumah lapis. Dan paling kocak, korupsi anggaran disebutnya: kelebihan bayar!

“Bagaimana Begawan Durna, masih ada hubungan dengan Dewi Wilutama?” tembak langsung Betara Temboro, ketika tahu siapa tamunya.

“Sudahlah pukulun, tak usah menyinggung soal itu. Saya bisa baper dan ingat masa lalu terus.” Jawab Durna tersipu-sipu karena disinggung kartu asnya.

Betara Temboro mengaku bahwa Begawan Durna merupakan tamunya pertama hari ini dan sekaligus juga tamu pertama program baru Sela Mangumpeng. Dulu pengaduan kawula ngercapada hanya dilayani lewat online, pernah juga pengaduan tatap muka dengan staf. Tapi karena hasilnya tak efektip gara-gara staf tak menguasai persoalan, akhirnya kini pengaduan dilayani langsung oleh Betara Temboro sendiri.

Begawan Durna lalu memaparkan masalah yang sedang dihadapi keluarga Pendawa Lima. Intinya para mantan muridnya itu mengharapkan sipat kandel atau ajian yang menjadikan bisa menang dalam event Trajon Masal Kurawa-100. Sebab secara logika umum dan akal sehat, tak mungkinlah timbangan 5 orang bisa lebih berat ketimbang untuk timbangan 100 orang. Kecuali secara mistik sangat tidak memungkinkan.

“Oo, begitu. Kalau begitu saya kasih saja ajian Blabag Pengantep-antep ya? Ini versi baru dari Blabak Pengantol-antol yang dimiliki Kapi Anoman.” Kata Betara Temboro.

“Lalu kelebihannya apa ketimbang yang edisi lama, pukulun?”

“Jika Blabak Pengantol-antol lebih kuat, kalau Blabak Pengantep-antep menjadi lebih berat, bisa berlipat 1.000 kali dari bobot aslinya.” Kata Betara Temboro.

Begawan Durna jadi ingat ajian Sasrabirawa milik Mahesa Jenar dalam buku silat Jawa Keris Nagasasra-Sabuk Inten karya SH Mintardja. Dengan ajian tersebut kekuatan pukulan tangannya menjadi berlipat seribu kali. Kena pukulan tanga kiri masuk RSCM atau Mitra Keluarga, kena pukul tangan kanan langsung dibawa ke Tanah Kusir atau Pondok Ranggon.

Begawan Durna pun lalu bertanya bagaimana teknis transver ajian Blabak Pengantep-antep itu. Apakah kekuatan energinya dibagi 5 masing-masing  200 kali untuk Puntadewa dan adik-adiknya atau bagaimana. Ternyata kata Betara Temboro, cukup untuk Bima saja, agar tidak kakehan ajang (makan banyak tempat). Dan itu katanya bisa dikirim secara online.

“Dan ingat, saat pertandingan Trajon Masal Kurawa-100 berlangsung nanti, Bima harus loncat masuk timbangan yang terakhir.” Kata Betara Temboro lagi.

“Kenapa Bima harus masuk yang terakhir?” Begawan Durna bertanya penasaran.

“Ya biar ada kejutan begitu, biar seru!”

Begawan Durna lalu pamitan sambil menghaturkan sembah, tapi jubahnya lalu ditarik –tarik Sanghyang Pahuk sambil menggerak-gerak jari jemarinya. Maksudnya: minta uang! Tetapi kata Begawan Durna, soal itu nanti yang mberesi keluarga Pendawa Lima, menunggu setelah acara selesai. Sekarang Begawan Durna hanya minta nomer rekening Betara Temboro, boleh lewat BRI, BNI atau BCA.

“Jangan! Nganti ketahuan PPATK dan dilaporkan ke KPK, kan kacau!” protes Betara Temboro.

“Lalu bagaimana baiknya pukulun?”

Sambil bisik-bisik Betara Temboro lalu minta imbalan transver ajian itu disamarkan melalui dana hibah ke yayasan miliknya. Dengan cara demikian tak akan ada kecurigaan terhadap pemberi maupun penerima. Semua dianggap wajar dan sepatutnya saja. (Ki Guna Watoncarita)