BANJARAN DURNA (29)

Meski jauh lebih tinggi harga penawaran, Patih Sengkuni memenangkan PT-nya Bogadenta.

PROYEK pengadaan timbangan raksasa untuk Trajon Massal Kurawa-100 ditangani oleh salah satu adik Duryudana yang bernama Bogadenta. Sesuai dengan namanya, boga yang berarti pangan dan denta bermakna gigi; Bogadenta ini memang jadi pengusaha tukang gigi. Dia punya banyak cabang di mana-mana. Cuma selama Covid-19 kemarin pemasukan menurun, sebab pemasang gigi palsu sepi dengan alasan keompongan gigi masih bisa ditutup pakai masker.

Bogadenta pernah berpromosi pada Novel Mabukmin, agar pasang gigi palsu padanya. Tapi dia menolak, sebab giginya yang ompong tersebut justru menjadi “trade mark” untuk dirinya. Dia terkenal dan banyak panggilan talkshaw di TV juga karena giginya yang khas itu. Ini betul-betul politik identitas yang mendatangkan uang kertas.

“Dengan gigi baru, Anda akan tampil beda dan lebih percaya diri.” Kata Bogadenta membujuk.

“Enggaklah, pasang gigi bukan lagi hal mendesak, toh masih bisa ditutup dengan masker. Semoga saja pandemic Covid-19 masih lama.” Ujar Novel Mabukmin.

Bogadenta garuk-garuk kepala, kok malah begitu doanya? Penduduk dunia menganggap Corona sebagai musibah, si Novel mabok malah menganggapnya berkah. Kalau begitu negara dipaksa nomboki puluhan trilyun hanya untuk menyelamatkan wajah Novel Mabukmin. Padahal urusan restorasi kan ahlinya ahli Nasdem.

Ya karena bisnis gigi palsu lagi sepi,  dia harus cari peluang usaha yang menjanjikan. Jika hanya mengandalkan honor bulanan sebagai trah Kurawa-100, mana cukup? Dengan menggandeng investor lain, Bogadenta memberanikan diri ikut lelang proyek timbangan raksasa bersaing dengan kontraktor papan atas sebangsa PT Wika dan PT. Pembanguan Perumahan. Tapi karena PT Mobat-Mabit Jaya (MMJ) miliknya bisa menyogok Patih Sengkuni, walaupun penawarannya tinggi dimenangkan juga dalam lelang.

“Pak Patih, penawaran PT MMJ lebih tinggi dari kontraktor lain, tapi kenapa malah yang dimenangkan?” tanya pers pada Patih Sengkuni.

“Asal kalian tahu ya, Ngastina itu membangun berdasarkan kwalitas. Mahal tapi awet atau murah tapi cepat rusak. Pilih mana….?” jawab Patih Sengkuni.

Para wartawan itu terdiem, apa lagi Patih Sengkuni langsug buka dompet, setiap wartawan dapat ratusan merah dua lembar. Mereka ini langsung bubar, sebagian wartwan Bodrex rupanya. Ini persis gaya wartawan bodrex mengerubuti Aburizal Bakri di saat  pemakaman Pak Harto Januari 2008.

Patih Sengkuni pun melenggang bebas, tanpa lagi diganggu dan “diiterogasi” soal pengadaaan timbangan raksasa. Sekali-sekali bolehlah meniru sang mantan dari DKI, yang selalu menghindar jika ditanya wartawan soal Formula-E. Malah masih mendingan Patih Ngastina ini, karena masih bersedia menghadapi pers meski kantongnya harus babak belur.

Sungguh di luar dugaan, ketika timbangan raksasa hampir selesai dibuat di galangan kapal Surabaya, mendadak muncul LSM yang mengkritisi posisi Kartomarmo sebagai Panpel Timbangan Massal Kurawa-100. Dia adalah Tumenggung Bantar Sigerung, masih warga negara Ngastina juga. Tapi dilihat dari namanya, dia rupanya masih satu DNA dengan Rocky Gerung, yakni demen usil, asal usul pada setiap masalah.

“Kartomarmo dalam posisi Panpel TMK-100 itu blunder, karena sarat dengan KKN. Soalnya ketika timbangan massal berlangsung nanti, sebagai anggota Kurawa-100 dia otomatis ikut. Ini kan ibaratnya main bola, wasit sendiri ikut bermain dan nendang bola.” Kata Bantar Sigerung dalam konprensi pers yang dihadiri banyak wartawan.

“Oh, iya ya. Tapi itu dulu bukan maunya saya lho, jadi ya terserah paman Patih Sengkunilah.” Jawab Kartomarmo yang mendengar juga serangan terhadap dirinya,

Mestinya dan logikanya, Kartomarmo harus segera mundur dari jabatan ittu. Tapi…. Jadi Panpel honornya lumayan lho. Sebulan terima Rp 20 juta kan asyoi. Masak ini harus dilepas begitu saja. Nah sejak itu dia menjadi merasa tak nyaman, karena terancam. Akhirnya lagi-lagi dia hanya bisa misuh ala Butet Kartarejasa, “Nyat Bantar Sigerung asu…..!”

Serangan Bantar Sigerung pada Panpel Kartomarmo makin gencar, bahkan melintas ke ranah pribadi. Bukan saja lewat tulisan pers, tapi dia juga bikin podcast ala Deddy Corbuzier. Dulu dia sering juga muncul di TV Kurawa Ngiler Club yang digawangi Murni Bias. Tapi sejak program itu ditutup, Bantar Sigerung cari panggung lain yang lebih ekonomis tapi hasilnya bisa tragis.

Celakanya, yang jadi narasumber justru dari kubu Kurawa-100, yakni si Durmagati teman lamanya. Tahu sendiri kan, dia itu sebetulnya duri dalam daging keluarga besar Kurawa khususnya dan Ngastina pada umumnya. Masa iya sih, dia cari makan di Ngastina, tinggal juga di Ngastina, tega-teganya mengkritik pemerintahan kakaknya, Prabu Jakapitono. Patih Sengkuni sendiri jika tak ingat Durmagati itu adik raja sekaligus ponakannya, sudah menyewa pembunuh bayaran.

“Anda kan orang dalam, tentunya tahu kenapa Kartomarmo ditunjuk Patih Sengkuni jadi Panpel TMK-100,” begitu konten Youtuban Bantar Sigerung.

“Di samping kasih makan ponakan sendiri, Oom Sengkuni ini tahu bahwa Kartomarmo orangnya mudah diatur, pemikiran lugu tidak macem-macem, tidak kritis tapi sering krisis keuangan.” Jawab Durmagati thokleh (apa adanya) tanpa dikemas dengan kalimat santun.

Lama-lama Prabu Jakapitono mendengar juga suara akar rumput. Karenanya Patih Sengkuni dan Panpel Kartomarmo dipanggil langsung dalam rapat terbatas, termasuk sang adik Bogadenta yang jadi kontraktor dadakan. Selain menanjakan progress timbangan raksasa, paling inti adalah heboh di medsos tentang status Kartomarmo dalam TMK-100 gara-gara dinyinyiri Bantar Sigerung.

“Anak Prabu, kalau kita ngikuti medsos dan omongan Bantar Sigerung, pekerjaan takkan selesai dan kita capek sendiri. Maka buat saya, jika kita mengikuti omongan dia, justru kita jadi dungu beneran.” Jawab Patih Sengkuni.

“Tapi demi meredam suara publik, sebaiknya Panpel TMK-100 kita ganti saja. Maaf ya dimas Kartomarmo. Soalnya bener juga sih, masak wasit kok ikut  nendang bola.”

Sedikit kata-kata Prabu Duryudana, tapi sengak didengar bagi Kartomarmo. Soalnhya dapur di rumah langsung terancam. Masak mantan Panpel TMK-100 mendadak jadi agen gas melon atawa jadi agen pulsa. (Ki Guna Watoncarita)