BANJARAN DURNA (30)

Durmagati kena semprot Kartomarmo, karena jadi tukang nyinyir tiada bosan,

DENGAN  seijin Prabu Duryudana, Patih Sengkuni kemudian mencari tokoh alternatip sebagai pengganti Ketua Panpel TMK-100. Syaratnya tentu saja, bukan keluarga Kurawa-100 tapi sudah cukup dikenal dan diakrabi oleh keluarga Istana Gajahoya. Munculah kemudian nama Adipati Karno dan Burisrawa dari Cindekembang. Tapi sayangnya mereka menolak posisi itu, dengan alasan sudah punya kesibukan sebagai Komisaris BUMN. Padahal aslinya, Panpel TMK-100 kan lembaga adhoc usianya paling hanya beberapa bulan, sehingga hak keuangannya terbatas.

“Kalau begitu kita angkat saja Aswatama putra Begawan Durna, dia tokoh muda yang punya visi dan misi. Akur…..?” Kata Prabu Duryudana mengajak mupakatan Patih Sengkuni.

“Ya akur-akur saja, anak Prabu. Sekaligus ngasih kesibukan dia, wong masih bujangan ini.” Jawab Patih Sengkuni.

Lewat pesan WA tak lama kemudian Aswatama datang. Dia tak berkeberatan diangkat jadi Ketua Panpel TMK-100. Soalnya di kampus Perguruan Sokalima Beragama kebetulan kegiatan perkuliahan juga belum normal benar gara-gara Covid-19. Semua yang hadir menyalami Aswatama, kecuali Kartomarmo. Sebab begitu muncul Pangeran Sokalima ini, dia langsung menyelinap pergi dengan alasan mau ke toilet dulu.

“Saya percaya dimas Aswatama bisa mengurus pelaksanaan TMK-100 ini dengan baik, karena punya pengalaman birokrasi di kampus.” Kata Prabu Duryudana.

“ Terima kasih atas kepercayaan Sinuwun Ngastina. Tugas ini akan kami laksanakan dengan baik.” Jawab Aswatama sambil menyembah dengan takzim.

Sehari setelah pengangkatan Aswatama jadi Ketua Panpel TMK-100, ramai di media online soal pemberhentian Kartomarmo sekaligus ditunjuknya Bogadenta sebaagai kontrator pengadaaan timbangan raksasa. Lagi-lagi sebagai narasumber Durmagati sohibnya Bantar Sigerung. Dia menyoroti Bogadento yang tak jauh beda sumber masalahnya. Kenapa Bogadenta jadi kontraktor pengadaan barang TMK-100, sedangkan dia juga bagian dari Kurawa-100 yang nantinya akan ikut masuk dalam timbangan.

“Keduanya punya sumber masalah yang sama, karenanya Patih Sengkuni dan kang Mas Duryudana harus adil mengambil kebijakan,” kata Durmagati.

“Adil-adil dengkulmu mlocot! Ya jelas bedalah. Meski Bogadenta nantinya jadi peserta TMK-100 juga, tetapi dia kan tak punya akses kepanitiaan sebagaimana Kartomarmo. Jadi oposisi tapi mainnya kurang jauh.” Kata Patih Sengkuni di forum berbeda, saat menjawab pertanyaan pers.

Tapi dasar oposan ndableg, dikecam Oom Sengkuni reaksi Durmagati hanya tertawa sampai berguling-guling. Dia malah merasa bangga dan ada kepuasan batin tersendiri, sebab opininya bisa menggoyang Istana Gajahoya. Bagaimana jika nanti sampai dikriminalisasi dan kemudian ditangkap? Katanya nggak masalah, wong dirinya tak punya beban anak istri. Di penjarapun juga dikasih makan. Dan diyakininya Prabu Jakapitono takkan setega itu.

Lain hari tanpa sengaja dan tanpa direncanakan Durmagati ketemu Kartomarmo. Langsung saja ditemu kuwuk, diomeli habis-habisan. Seru memang, kakak beradik berantem gara-gara urusan nasi sepincuk. Kartomarmo marah betul, kariernya memudar gara-gara diusili adik sendiri.

“Kamu itu keterlaluan Dur, jadi oposisi mbok iyao gunakan akal sehat. Aku ini siapa? Kakakmu sendiri kan? Kenapa kamu tega mateni rejeki keluarga sendiri. Aku ini masih membiayai anak kuliah. Jadi kamu tega ponakanmu nantinya ngebelangsak tanpa masa depan?” sergah Kartomarmo.

“Memangnya rejeki cuma dari jabatan Panpel TMK-100? Lengser dari jabatan terus bingung cari makan. Tuh lihat Gubernur Anies, lengser dari Balaikota langsung dipromosikan jadi Capres….” Jawan Durmagati sambil cengengesan.

Kalau tak ingat itu adik sendiri, Kartomarmo sudah ingin nyampluk mulutnya yang sok bijak jadi kaum oposisi. Mateni rejeki orang itu dosa besar. Soal masalah pengangkatan dirinya terjadi kejanggalan, mbokya sudah. Anggap saja itu kecelakaan politik yang tak perlu disesali. Yang penting diem tapi selamat, ketimbang sok jadi pahlawan tapi kesiangan.

Sementara itu Begawan Durna di pertapan Sokalima merasa bahagia dan bangga luar biasa, anak ontang-anting-nya (anak tunggal) mulai jadi tokoh nasional. Sebagai Ketua Panpel TMK-100 tentu mulai dikerubuti pers, diundang stasiun TV jadi narasumber. Mirip Sahroni-Nasdem yang dijadikan Ketua Panitia Formula-E, tapi semoga saja tak perlu nombok mborong tiket.

“Selamat ya Aswatama. Nanti kamu dapat mobil dinas Toyota Camry juga kan, pakai nomor RFS yang asli, tanpa beli?” ujar Begawan Durna begitu putranya tiba di pertapan.

“Sst, malu ah rama, soal begituan kok ditanyakan. Sebagai anak bangsa, jangan bertanya apa yang bisa diberikan oleh negara. Tapi bertanyalah, apa yang bisa disumbangkan pada negara.” Jawab Aswatama mengutip Presiden AS ke-35 John F. Kennedy.

Begawan Durna semakin bangga pada anak lelakinya, sampai sebegitunya dia punya wawasan kebangsaan. Aswatama layak jadi pemimpin di masa depan. Andaikan Ngastina bukan bentuk kerajaaan, niscaya bisa Nyapres. Tapi nanti dulu, dirinya dan anaknya tentu saja, kan bukan asli warga negara Ngastina? Keduanya keturunan dari Ngatasangin. Batin Begawan Durna, “Saya harus konsultasi dulu dengan Amien Rais yang pernah jadi Ketua MPR dan berhasil mengubah UU.”

Sambil menunggu datangnya timbangan raksasa dari Surabaya, Aswatama selaku Ketua Panpel mulai menyiapkan lahan tempat TMK-100 berlangsung. Timbangannya sih hanya berukuran 5 X 10 M, tapi untuk lahan penonton dan parkir paling tidak dibutuhkan lahan seluas 2 kali lapangan bola, yakni 75 M x 110 M X 2 = 16.500 M2. Tempat paling ideal tak ada lagi kecuali di lapangan Tegal Kurusetra.

“Biar ngirit anggaran, penyiapan lahan ini tak perlu dilelang pakai kontraktor, cukup swakelola saja. Untuk kebersihan bisa dikerahkan PPSU (Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Umum),” saran Patih Sengkuni ketika dimintai pendapat Panpel Aswatama.

“Oke, siap laksanakan Oom Patih Sengkuni,” jawab Aswatama. (Ki Guna Watoncarita)