BANJARAN DURNA (31)

Aswatana selaku Panpel TMK-100 dapat pengarahan dari Patih Sengkuni. Bagaimana acara timbangan ini menguntungkan Kurawa.

SEBULAN kemudian timbangan raksasa untuk kegiatan TMK-100 itu telah tiba dalam bentuk CKD (Completely Knock Down) alias harus dirakit dulu. Tenaga perakitnya semua wayang arek-arek Surabaya, sehingga ngomongnya banyak dialek Suroboyoan. Walhasil yang bisa melayani hanya Durmagati seorang. Sampai-sampai Patih Sengkuni pun heran dibuatnya.

“Dur, Durmagati. Kok kamu pinter ngomong Suroboyoan belajar dari mana? Apa kamu pernah tinggal di sana? Jualan rujak cingur ya?” ujar Patih Sengkuni menebak-nebak.

“Anu kok Cak. Itu cuma bisa-bisanya dalang Ki Nartosabdho saja. Terus dalang-dalang lain pada niru, sekarang saya kepatuh (jadi terbiasa) ngomong Suraboyoan terus. Gitu Cak Sengkuni….”

Dalam hati Patih Sengkuni memaki diancuk, karena tiba-tiba Durmagati nyebut namanya bukan pakai predikat patih, tapi malah Cak. Padahal meski senang rawon dan semanggi Surabaya, Patih Sengkuni baru sekali ke sana. Tapi Surabaya memang hebat, pelabuhannya dari perak dan semut saja dibuatkan stasiun.

Tetapi kemudian Patih Sengkuni sadar, Durmagati itu selalu oposisi pada pemerintahan Ngastina. Dikhawatirkan selama ngglibet dalam penyetelan timbangan raksasa itu dia menemukan borok-borok baru, sehingga dijadikan peluru untuk kembali menembaki politik oligarki di negeri Gajahoya. Karenanya dia segera WA Bogadento selaku kontraktor untuk mengusir Durmagati.

“Kangmas Durmagati, mohon jangan lama-lama di sini. Takutnya kena percikan las, sampeyan kan nggak pakai helm pula.” Tegur Bogadento pada Durmagati setelah menerima WA semetara Patih Sengkuni sudah ngeloyor pergi.

“Kenapa sih, nonton pemasangan timbangan benggala saja nggak boleh. Kamu baru jadi kontraktor dadakan saja sudah belagu. Sengetop-ngetopnya kamu, masih ngetop saya tahu…..” jawab Durmagati jadi emosi, sampai kemudian dipisah Satpam.

Memang, Bogadento ini meski termasuk Kurawa-100, tapi jarang tampil di pakeliran. Beda dengan Durmagati, dalam lakon apapun dan dalang siapapun dia pasti tampil, khususnya dalam pagelaran njawi. Kemudian ketika Patih Sengkuni menyampaikan hasil sidang, segala petunjuk Bapak Duryudana, atau Bapak Duryudana member petunjuk; semua disampaikan pada public termasuk para Kurawa-100.

“Ha, ha, ha, ……Patih Sengkuni kayak mentri Orde Baru, suka dapat petunjuk,” komentar Durmagati.

“Diem kamu Dur, Durmagati! Senengnya kok ngerusak suasana saja kamu!” bentak Patih Sengkuni, tapi hanya ditanggapi dengan tertawa.

Sementara itu Aswatama selaku Panpel TMK-100 bersama timnya mulai mempersiapkan undangan untuk peserta TMK-100,  termasuk undangan bagi para tamu kehormatan. Tenda sewaan dari “Danu Bersaudara” juga mulai dipesan, harga  yang resmi-resmi saja, tak mau kelebihan bayar seperti di DKI Jakarta. Aswatama berhati-hati benar, tak mau namanya rusak gara-gara urusan titip harga.

Katering juga dipersiapkan, dipercayakan pada PT Andrawina. Menunya dibikin beda, tidak standar seperti prasmanan biasanya. Ada mie goreng, ayam bumbu rujak, gudangan, bahkan gulai kambing berikut thengklengnya bahkan lobster hobinya DPRD DKI juga ada. Gubukan diperbanyak, sehingga banyak pilihan. Terutama gubukan kambing guling, bala Kurawa-100 paling demen itu. Makanya Dursasono Cs itu paling “galak” pada istri-istrinya.

“Angger Aswatama, stok nasinya diperbanyak ya. Selain hobi Kurawa-100 memang makan, itu nantinya sangat menguntungkan dalam penimbangan. Makin banyak makannya BB-nya akan naik banyak, secara akumulatip menguntungkan Kurawa, gitu. “ ujar Patih Sengkuni member penjelasan.

“Bukannya acara makan setelah penimbangan, Paman Sengkuni. Orang mantenan kan makannya setelah salaman sama pengantin.” Jawab  Aswatama berargumentasi.

Lalu Patih Sengkuni membisiki Aswatama. Jika setelah penimbangan ya percuma saja, kubu Kurawa tak bisa mengambil keuntungan. Akhirnya putra  Pendita Durna itu manggut-manggut. Dia semakin yakin bahwa Patih Ngastina satu ini memang layak jadi “bapak reformasi” jika ada perubahan politik di Ngastina. Tapi kreativitas Patih Sengkuni masuk akal juga, sehingga diterima meski resikonya Aswatama harus mengubah lagi draft susunan acara.

Sesuai saran Pandawa Lima, para peserta timbangan harus digeledah dulu, siapa tahu ada yang mengatongi batu atau potongan besi. Penggledahnya harus Satpam yang independen, bukan dari wayang Ngastina. Karena dipilih bon-bonan dari dari Mandaraka dan Mandura. Soalnya semua tahu, pemimpin Mandaraka (Prabu Salya) dan Mandura (Prabu Baladewa) juga bersahabat pada kubu Pendawa Lima.

“Kita hari Minggu besok bisa nonton TMK-100 di Tegal Kurusetra. Mau ikut nonton nggak?” kata wayang akar rumput.

“Nggak ah, kalau nggak dibagi tabung oksigin satu-satu. Takutnya jadi  Tragedi Kanjuruhan kedua. Nyawa cuma satu mati keinjek-injek orang.” Jawab wayang akar  rumut yang lain, saakan trauma.

Benar juga memang, tapi  itu lolos dari perhatian Panpel KTM-100 Aswatama. Bahkan sesuai saran Patih Sengkuni, SBG di Jonggring Salaka atau Bethara Narada diundang sebagai tamu kehormatan. Tapi masalahnya, kubu Kurawa-100 siapa yang punya jalur ke Jonggring Salaka? Lagi-lagi harus minta tolong Pendita Durna. Sebab hanya dia yang punya jaringan ke kahyangan, bahkan punya nomer WA-nya segala.

“Ngger Aswatama, coba bapakmu di kontak, bisa ngundang SBG atau minimal Bethara Narada nggak?” kata Patih Sengkuni, bertanya tapi nadanya memerintahkan.

“Insya Allah bisa paman Sengkuni nanti saya coba.”

Begawan Durna ketika ditelepon putranya juga mengatakan Insya Allah. Padahal jika tahu siapa pemberi ide, sebetulnya nggak sudi juga. Sebab Patih Sengkuni ini kelihatan aslinya. Ada proyek TMK-100 dirinya yang konsultan spiritual Ngastina, tak dilibatkan. Giliran kepentok masalah, minta tolong juga. Tapi demi kebesaran dan kejayaan Ngastina, Begawan Durna menyanggupinya tanpa reserve.

Lagi-lagi Begawan Durna harus memanfaatkan Bethara Temboro, link sekaligus chanelnya di Jonggring Salaka kluster Sela Mangumpeng.  Berangkatlah dia ke sana dengan mencarter Grabb. Semoga saja Temboro ada di rumah, takutnya dia sibuk jadi kepanitiaan KTT di Bali.                                                                                                (Ki Guna Watoncarita)