BANJARAN DURNA (33)

Aswatama jika tak ingat yang tengah dihadapi patih Narada, sudah ingin rasanya menimpuk dengan batu.

SAMBIL memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jubah, sehingga perut semakin nyata tonjolannya, Patih Narada dalam pidatonya menyambut baik TMK-100 sebagai solusi Perang Baratayuda Jayabinangun. Cuma diingatkannya, harus berhati-hati dalam urusan timbang-menimbang. Sebab barang siapa bermain curang dalam timbangan bisa masuk neraka jahanam (surat Al Muthoffifin ayat 1-3).

Kubu Pendawa mendengarkan penuh perhatian pesan-pesan Patih Narada, sementara kubu Kurawa 100 malah banyak yang cengengesan. Selesai pidato Patih Narada disusul dengan acara mengheningkan cipta, sebagai tanda turut berduka atas tewasnya 273 korban gempa Cianjur.

“Para hadirin sekalian, sebelum acara timbang badan dimulai, para peserta dipersilakan bersantap lebih dulu, pada tempat yang telah disiapkan. Kubu Pendawa-Lima di meja pendek sebelah kiri, sementara meja panjang di sebelah kanan untuk kubu Kurawa-100. Selamat menikmati.” Kata MC Najwa Shihab.

“Kok beda ya, kalau orang mantenan kan salaman dulu baru makan. Kok ini dibalik, apa peserta dari rumah belum sarapan ya.” Bisik penonton, nada-nadanya kelompok kadrun karena sudah usil duluan.

“Sekarang mah biasa, mau salami manten bibir sudah klimis duluan,” tangkis penonton lain  dari depan TV.

Pendawa Lima makan dengan tertib, sedangkan kubu Kurawa-100 berebut ambil piring dan sendok. Tak lama kemudian terdengar suara pating kecapah (suara orang makan), sementara sendok beradu piring pating kluthik. Penonton di luar pagar hanya bisa nonton, lalu satu dua mengerubungi tukang kethoprak dan mie ayam.

Adapun undangan kehormatan sebagaimana Patih Narada makan di ruang khusus ditemani Panpel TMK-100 Aswatama. Karena beda level, putra Begawan Durna ini hanya bicara seperlunya, manakala ditanya Patih Narada, sehingga mirip gong, hanya bunyi jika ditabuh.

“Bagaimana kabar ayahmu, Begawan Durna? Sudah kawin lagi belum?” kata Narada langsung menjurus.

“Belum Oom, eh Pukulun. Tapi masih nyari lagi kok, sampai lupa kebutuhan anaknya,” jawab Aswatama seakam curhat.

“Jadi kamu belum beristri? Elek-elekkkkk, punya barang buat kencing doang dong!” ujar Patih Narada clelekan (berkelakar) tanpa beban.

Wajah Aswatama jadi merah padam agak gimana gitu! Jika tidak ingat yang bercanda patih kahyangan, sudah ingin melemparnya dengan asbak. Tapi katanya kurang ajar pada dewa  bisa kualat, kepala terbalik di bawah macam buah jambu mete. Buah itu konon juga kualat, karena berani dengan jambu keluthuk. Misalnya, diminta bikin tanggul kali, eh malah ngajak debat si jambu keluthuk.

Demikianlah acara makan-makan sudah selesai. Setelah menunggu 15 menit agar nasi turun dulu, acara timbang badan segera dimulai. Kini yang sibuk Satpam independen, untuk menggeledah kantong peserta, jangan-jangan ada yang nggembol batu. Karena jumlah tak seimbang, pemanggilan di atur 1:20. Artinya, setelah panggil 20  orang Kurawa, baru memanggil peserta dari kubu Pendawa Lima. Alhamdulillah, tak ada ditemukan peserta curang, tak ada yang nggembol batu.

“Periksanya kantong samping kanan dan kiri dong, jangan ke depan-depan.” Protes Dursasono saat giliran diperiksa Satpam independen.

“Oh iya maaf tak sengaja.” Jawab Satpam malu-malu karena merogoh saku satriya Banjarjungut itu terlalu dalam dan nyaris menyasar asset pribadi.

Menjelang panggilan untuk Bima alias Brataseno eks pecatan Polri, mendadak Bima minta izin ke Panpel TMK-100 mau ke toilet sebentar. Kaget juga Aswatama, kok ada peserta timbangan minta izin ke toilet segala. Ini mengingatkan pengalamannya dulu saat ujian SMA, pamit ke toilet padahal sebetulnya mau lihat contekan. Tapi karena lupa tak diatur dalam tata tertib timbang-menimbang, Aswatama tak bisa lain kecuali harus mengizinkan.

Hal ini menimbulkan protes keras kubu Kurawa-100, tapi Panpel Aswatama keukeh pada kenyataan bahwa aturan itu tak terbikin. Kubu Kurawa hanya bisa menggerutu huuuuuuuu……sementara timbangan sudah miring sampai 45 drajat, kubu Pendawa njomplang ke atas. Maklumlah, posisi saat itu dalam timbangan kubu Kurawa sudah masuk 80 orang, sementara kubu Pendawa Lima baru 4 orang. Untung saja ada tempat untuk berpegangan, sehingga tidak sampai melorot jatuh.

“Lama amat kangmas Bratasena ke toilet sih….” Ujar Nakula.

“Sabar dik, sebentar lagi juga balik.” Jawab Permadi yang sudah tahu politik permainan.

Karena Bima di toilet cukup lama, sehingga kubu Kurawa menduga Bima kencing batu alias nier. Bahkan ada yang menduga Bima mencret karena kebanyakan makan sambel setan. Maka untuk mengisi kekosongan waktu sekaligus menghindari kegaduhan, panggilan dilanjutkan.

Nah, giliran memeriksa Surtayuni putra Kurawa nomer 85, Satpam independen mengalami kerepotan. sebab ketika kantongnya mau dirogoh dia selalu mencba menghindar, sambil bilang, “Ih, geli aku….!” Dicoba mau dirogoh lagi, gentian ngomong, “Benci aku…!” Wayangnya memang agak melambai, wajah dan namanya mirip artis Yunishara, lagak lagunya mirip anggota DPR dari PKS. Pantesan sang Satpam pernah memergoki Surtayuni kelayapan di Taman Lawang.

Saat kubu Kurawa telah masuk timbangan semua, barulah Bima muncul. Maka penggeledahan hanya ala kadarnya, dan Bima mulai ancang-ancang untuk meloncat masuk timbangan wush…… gubrakkkkk! Mendadak posisi timbangan berubah dalam hitungan detik. Kubu Pendawa turun ke bawah nyaris menyentuh lantai, sementara kubu Kurawa-100 banyak yang terpental jauh.

“Horeee….. kita menang!” teriak kubu Pandawa dan Puntadewa pun bertanya, kenapa tadi lama-lama di toilet.

“Ngapalin rapal ajian Blabak Pengantep-antep, karena mendadak lupa.” Jawan Bima setengah berbisik.

Wayang kubu Kurawa yang masih ada dalam timbangan tinggal 25 orang, karena sempat berpegangan. Sedangkan 75 wayang lainnya terpental ke mana belum jelas. Tapi sambil diabsen kembali, satu demi satu mulai bermunculan, ternyata mereka jatuh di kampung lain. Ada yang masuk kali, ada pula yang nyebur ke comberan. Hanya yang tak muncul kembali wayang Kurawa nomer 32, yakni Bogadenta. Dipanggil berulang kali tak kunjung menyahut, apa lagi datang.

Tiba-tiba ada breaking news dari TV negeri Turilaya, diberitakan bahwa ada wayang Kurawa peserta TMK-100 terdampar jatuh di negerinya. Dia dalam kondisi patah kaki dan kini dirawat di RS Mitra Keluarga Kaya. Di mana negeri Turilaya, saat dilihat di Google Maps, ternyata dekat kampung Turisari Solo, 400 Km dari lokasi Tegal Kurusetra. (Ki Guna Watoncarita)

 

Advertisement