TERNYATA pelayanan publik di negeri Pancalaradya cukup bagus. Tepat seminggu kemudian Prabu Jungkung Mardeya dapat jawaban yang melegakan. Diskresi dari Prabu Drupada adalah, raja Parang Gubarjo ini diperbolehkan ikut memperebutkan Wara Srikandi asalkan bersedia mengajari Srikandi belajar memanah secara gratis. Sebab raja Parang Gubarjo ini sudah terkenal juga sebagai pelatih memanah generasi muda dan para ABG di PKS.
Tentu saja diskresi ini sangat menggembirakan Prabu Jungkung Mardeya. Tak percuma nginep seminggu di hotel murahan, satu kamar bertiga dengan punakawan Togog-Bilung. Ada kebanggaan tersendiri bagi sang Prabu, karena kepakarannya dalam hal panah-memanah dikenal pula oleh Prabu Drupada, eh……calon mertuanya. GR sedikit nggak papa, namanya juga usaha.
“Itu namanya rejeki anak saleh…” komentar Togog.
“Asyik banget tuh! Sambil ngajari memanah, bisa curi kesempatan sambil senggal-senggol Wara Srikandi. Dijamin serunya selangit.” Tambah Bilung lagi.
“Nggak boleh, Lung! Kan bukan muhrimnya.”
“Hallah……, jika sudah berkoalisi sama setan, semuanya jadi halalan tayiban wa asyikan.”
Prabu Jungkung Mardeya tinggalkan dua punakawannya tetap dalam hotel, sementara dia langsung mengurus diskresi kerajaan itu ke bagian kesekretariatan. Sengaja Togog-Bilung tak ditampilkan ke publik, sebab sudah bukan rahasia lagi, siapapun tokohnya asal bawa dua punakawan tersebut dijamin pasti kalah. Dalam hal apapun.
Ketika Prabu Jungkung Mardeya mempersiapkan diri sebagai pelatih Srikandi ajar manah, jumlah pendaftar yang serius ternyata hanya Harjuna, Pendita Durna dan Patih Sengkuni. Lainnya tidak lolos karena tidak memenuhi syarat. Tapi alhamdulillah mereka terima nasib saja, tidak ngomel-ngomel menyalahkan pemerintahan negeri Pancalaradya.
Uniknya, para peserta yang masuk nominasi ini semuanya sudah saling kenal. Harjuna kenal Pendita Durna sebagai gurunya, sementara Pendita Durna sendiri kenal dengan Patih Sengkuni adalah sesama orang penting di Ngastina. Setiap sidang selapanan keduanya saling ketemu dan debat karena beda pendapat. Begitulah dahsyatnya pengaruh wanita, bikin orang lupa teman dan saudara.
“Di Cuni, begitu ya caranya? Tega-teganya mengkhianati teman sendiri. Saya mau melamar Wara Srikandi, kamu menghalang-halangi. Nggak tahunya, Di Cuni berminat sendiri. Kalau bersaing yang fair dong!” omel Pendita Durna ditumpahkan lewat WA kepada Patih Sengkuni.
“Maaf Wakne Gondel, Dalam politik menghalalkan segala cara itu biasa, apa lagi ini politik selangkangan, he he he…..” jawab Patih Sengkuni pula lewat WA, dengan emotikon orang tertawa.
Sebetulnya Begawan Durna ingin ngokrok-okrok (ngomeli) Patih Sengkuni lebih banyak. Misalnya soal rambut ki patih yang mendadak disemir hitam, padahal kini trennya justru berambut putih karena konon itu tanda keberuntungan. Tapi mendadak Durna diberi tahu oleh Aswatama bahwa ada kabar buruk, ada pesaing baru dari Parang Gubarjo. Maksudnya orang sabrangan (asing) diberi diskresi untuk ikut dalam proyek Mbangun Taman Maerakaca.
Padahal soal belajar panah memanah, itu kan keahlian Pandita Durna sendiri. Kenapa musti orang asing, wong bangsa dewek juga mampu. Harjuna jago memanah juga karena belajar pada Pendita Durna. Bambang Ekalaya belajar memanah jarak jauh juga lewat Begawan Durna. Hanya pelawak Bambang Gentolet yang tak belajar pada Begawan Durna, karena keburu meninggal.
“Iya, ya…..! Kenapa Prabu Drupada tak menyuruh saya untuk menjadi instruktur memanah Wara Srikandi. Saya kan ahlinya ahli soal memanah.” Kata Begawan Durna.
“Mungkin karena dinilai rama sudah tua, sehingga ilmu memanahnya tidak akurat lagi. Biarlah rama lebih fokus pada ilmu “memanah” wanita, yang dari dulu gagal melulu…” kata Aswatama mencari pembenaran.
Kurang ajar juga ini anak! Masak bapak sendiri diledek sedemikian rupa? Tapi ya bagaimana lagi, sebagai ayah Pendita Durna sendiri tak memahami aspirasi anak muda. Aswatama kepengin berumahtangga, tapi tak pernah didukung atau dicarikan lawan. Justru Pendita Durna sibuk mencari istri untuk diri sendiri. Padahal faktanya gagal melulu.
Dan sekarang yang berkibar malah Prabu Jungkung Mardeya yang notabene jadi pesaingnya. Pendita Durna tak bisa membayangkan, bagaimana nanti Wara Srikandi saat belajar memanah bersama Prabu Jungkung Mardeya. Wah, bisa habis diemeg-emeg itu barang. Sebenarnya Begawan Durna cemburu sekali, tapi apa daya, karena belum menjadi haknya.
“Makanya rama, jika rama Pendita Durna mengikuti saran putramu ini, mendingan lupakan Wara Srikandi. Kini fokus mengurus perguruan Sokalima saja, agar menjadi maju dan statusnya disamakan.” Kata Aswatama.
“Kamu itu, anak kemarin sore ngajari orangtua.” jawab Begawan Durna ketus karena kesal.
Demikianlah, Prabu Jungkung Mardeya sebelum mengikuti sayembara inti, yakni merevitalisasi Taman Maerakaca, dia harus mampu mengajari Wara Srikandi belajar memanah. Sebab olahraga memanah itu di samping merupakan sunah Rosul dari kacamata Islam, juga melatih fokus dan keseimbangan serta mengontrol emosi.
Di alun-alun kerajaan Pancala, Wara Srikandi mulai belajar memanah dengan instruktur Prabu Jungkung Mardeya. Penontonnya para calon peserta sayembara revitalisasi Taman Maerakaca tersebut. Makanya di situ ada Pendita Durna, Patih Sengkuni dan tentu saja Harjuna. Mereka menonton di pinggir lapangan.
“Mestinya itu yang mengajari saya, karena saya memang ahlinya ahli untuk urusan panah memanah. Ya nggak Di Cuni?” ujar Begawan Durna mengajak mupakatan.
“Itu dulu. Sudah tua begini panahannya pasti meleset dari papan target.” Jawab Patih Sengkuni tetap mengecilkan Begawan Durna. Namanya juga sedang bersaing. (Ki Guna Watoncarita)



