BANJARAN DURNA (41)

Ketimbang kebawa-bawa jadi saksi, Togog-Bilung memilih kabur menyaksikan mayat juragan dimasukkan kantong plastik kuning.

INI benar-benar pembunuhan karakter. Masak raja Parang Gubarjo disamakan dengan kiyai cabul dari Jember. Pakai jenggot juga tidak, pengurus PA 212 juga bukan, apa lagi pakai kethu kadrun sama sekali tidak pernah. Sayangnya dia sudah mencoba klarifikasi pada lelaki muda yang baru saja menghajar, tapi tak digubris. Maka ketimbang mati konyol, Prabu Jungkung Mardeya mencoba melawan dan menangkis serangan ksatria muda yang ternyata bernama Harjuna. Oo ini dia orangnya, yang digambar umbul para bocah diberi nomer 7.

Sedangkan Patih Sengkuni dan Pendita Durna terus memperhatikan pertempuran Harjuna – Jungkung Mardeya, sekali-sekali teriak memberi semangat, manakala Harjuna berhasil menyarangkan tinjunya. Persis seperti nonton kalangan adu jago yang sering dikejar-kejar polisi. Bedanya, di sini tidak pakai taruhan!

“Pukul terus Bleh, jangan berhenti!” Bilung memberi semangat sang majikan.

“Kalah sama Harjuna, mending pulang bugil…!” tambah Togog tak mau kalah memberi semangat sang juragan.

Harjuna dan Jungkung Mardeya memang ahli memanah, jauh sebelum anak-anak muda PKS berlomba-lomba belajar memanah. Tapi ketika bertempur gara-gara terjadi kesalahpahaman, keduanya justru adu pisik secara langsung. Prabu Jungkung Mardeya gunakan aji panglimunan sehingga tidak kelihatan, tapi Harjuna punya minyak Jayeng Katon, sehingga tetap saja bisa dilihat dengan nyata. Karenanya pukulan Harjuna selalu tepat sasaran.

Karena semua ajian telah dikeluarkan dan tetap bisa diatasi oleh Harjuna, terpaksa Prabu Jungkung Mardeya gunakan ajian terakhirnya, yakni Jangkah Sasra alias ambil langkah seribu, kabur menyelamatkan diri. Tapi Harjuna tak mau kehilangan musuhnya. Saat raja Parang Gubarjo ini mau tinggal glanggang colong playu, langsung saja ditimpuk pakai potongan bata merah! Pletak, kena kepala bagian belakang. Langsung Prabu Jungkung Mardeya tewas di tempat gara-gara gegar otak.

“Majikan kita tewas seperti copet pasar, kita kabur saja yuk Lung.” Seru Togog.

“Itu dengan sendirinya. Untung ongkos hotel sudah dibayar di muka. Kita pulang nggandul truck saja.” Jawab Bilung sambil menoleh ke tengah alun-alun.

Terlihat Prabu Jungkung Mardeya dalam bentuk mayat dimasukkan ke kantong plastic warna kuning, dinaikkan ke mobil snalubma. Ngenes dua punakawan itu melihatnya. Tapi ketimbang kebawa-bawa jadi saksi, keduanya segera menyelinap dan kabur. Tak mungkin pula kembali ke Parang Gubarjo, karena di sana juga tak punya apa-apa. Kemungkinan besar Togog – Bilung akan daftar jadi TKI ke Malaysia atau Korea.

Legalah Harjuna karena merasa telah menjaga kehormatan sekar kedaton Pancala. Lega pula Begawan Durna dan Patih Sengkuni, sebab pesaingnya telah berkurang satu. Cuma ketika sejumlah media online memblauw up Harjuna bak pahlawan bagi Wara Srikandi, mendadak ada rilis dari Istana atas nama Srikandi yang menjelaskan bahwa berita kepahlawanan Harjuna hoaks adanya. “Tak ada pelecehan seksual atas diriku!” kata Srikandi menegaskan.

“Lho,  kok jadi kontra produktif dengan berita peradilan Putri Candrawati bini Ferdy Sambo?” kata Begawan Durna dan Patih Sengkuni pada Harjuna.

“Au ah gelap….!” Jawab Harjuna angin-anginan.

Memang tak mudah untuk diklarifikasi, sebab Prabu Jungkung Mardeya sudah wasalam, sementara punakawan Togog-Bilung juga sudah kabur. Mau dicek ke CCTV juga tak mungkin karena arena alun-alun kerajaan itu tak pernah dipasangi alat tersebut. Akhirnya yang tahu persis duduk dan berdirinya persoalan ya tetap hanya Togog-Bilung dan tentu saja kidhalangnya sendiri.

Gara-gara kematian salah satu calon peserta, sayembara revitalisasi Taman Maerakaca ditunda seminggu, sementara Harjuna yang telah membunuh Prabu Jungkung Mardeya juga tak tersentuh hukum. Memang begitulah di dunia perwayangan, penegakan hukum begitu lemah. Untung saja di ngercapada versi perwayangan tak ada Hakim Agung korup sampai dua orang, tak ada jendral polisi jadi pembunuh. (Cantrik Metaram)