HA…? Jalur independen? Kok jadi seperti Pilgub DKI tahun 2017 lalu. Ahok saja batal maju Pilgub lewat jalur tersebut, karena peluang dukungan kecil. Kok Supeli latah mau ikut-ikutan lewat jalur independen. Memangnya Prabu Drupada membuka peluang lewat cara tersebut? Yang mboten-mboten saja adiknya ini.
“Sudahlah, mau jalur independen, jalur hijau apa jalur lambat, sama saja peluangmu tetap kecil. Buang-buang anggaran saja.” Ujar Prabu Supala tetap menyepelekan sang adik.
“Halah, Ahok pakai jalur PDI-P pun juga kalah kok.” Jawab Supeli tak mau kalah.
Ibarat kata dipalangana mlumpat didhadhunga medhot (baca: tak peduli semua rintangan), Supeli tetap hendak ikutan memperebutkan Wara Srikandi. Baginya soal telat saat mendaftar, tidak masalah. Sebab jalur independen baginya adalah menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Jangankan hanya disuruh makan daging babi, dibaptis jadi Johanes Supeli pun dia siap saja asalkan bisa mendapatkan kusumaning ayu Wara Srikandi.
Soalnya Supeli merasa punya senjata andalan, ajian Sirep Begananda warisan Indrajit dari Negeri Ngalengka. Dengan ajian itu, siapapun yang disirep (terkena ajian itu) akan menjadi ngantuk dan tertidur karenanya, meski baru saja minum kopi satu gelas gede. Cuma aturan kode etik ajian itu menyebutkan: dilarang dipakai untuk menjaili dalang yang sedang pentas.
“Betapapun nasihat kangmas prabu bertubi-tubi macam hujan di mangsa kesanga (musim ke-9), takkan saya gubris. Supeli tetap setia pada keyakinan sendiri. Mohon doanya saja kangmas….” Kata Supeli sambil pamitan.
“Ya sudah kalau susah dibilangi. Saya doakan malah mati terbunuh sekalian kau di Pancala, dan jadi tersangka pula.” Jawab Prabu Supala kesal karena sang adik susah diatur. Ilang-ilangan endog siji.
Didoakan tapi menuju celaka, sama saja dikutuk. Dan didoakan mati terbunuh tapi masih dijadikan tersangka pula, ini lebih sadis dari nasib mahasiswa UI versus pensiunan Kapolsek. Namun demikian Supeli tak peduli, saking ambisinya bisa mempersunting Wara Srikandi. Pokoknya dikutuk tidak bimbang, dipuji tidak terbang.
Dalam perjalanan menuju Pancala, Supeli cukup naik bis malam Rosalia Indah full AC. Ndilalah kersaning Allah di tempat peristirahatan daerah Sukamandi, dia ketemu sosok yang cukup dikenalnya lewat Google, yakni si Togog dan Bilung. Keduanya nampak sedang jajan mie rebus sambil minum teh gendul.
“Kalau nggak salah, kalian Togog-Bilung ya? Dari mana saja kalian?” tegur Supeli tembak langsung.
“Lho kok tahu? Padahal di baju kami nggak ada nama dadanya.” Jawab Togog-Bilung serentak.
Tapi dalam hatinya Togog-Bilung merasa bangga, sebab namanya cukup beken di jagad maya. Meski tak pakai kata kunci “punakawan terbodoh” nama mereka langsung muncul di Mbah Google. Hanya yang bikin mereka kaget, tanpa sebab-musabab, segala makanan dan minuman yang dipesannya langsung dibayari oleh orang asing itu.
Ketika Togog-Bilung bercerita barusan dari Pancala, dan majikannya Prabu Jungkung Mardeya tewas akibat kesalah-pahaman, Supeli jadi demikian tertarik untuk merekrut keduanya. Terus terang, Supeli belum paham betul letak negerinya Prabu Drupada itu. Dengan mengajak Togog-Bilung, diharapkan keduanya bisa menjadi guide untuknya.
“Tapi gaji kalian sesuai UMR di Cedi ya? Rp 5,2 juta sebulan tanpa potongan Pph.” Kata Supeli terus terang.
“Nggak bisa dinaikkan barang sedikit? Dilempengin Rp 6 juta saja, biar nggak mrekengkong.” Ujar Togog mencoba menawar.
Belum juga Supeli memutuskan, mendadak dia pergi ke toilet. Sepeninggal calon juragan, Togog-Bilung ngudarasa (saling curhat), apa kata orang nanti jika mereka mengalihkan dukungan ke Supeli. Bisa dianggap relawan sekelas Emanuel Ebenezer tinggalkan Ganjar Pranowo karena hendak mendukung Anies atau Prabowo.
“Bagi saya lho kang, mendingan dituduh jadi Emanuel Subangun wartawan Kompas ketimbang dicap jadi Emanuel Ebenezer.” Bisik Bilung.
“Ya nggak begitu Lung, itu terlalu jauh kamu baper. Bos kita kan tewas, bukan karena dianggep miskin gagasan. Kalau miskin harta memang iya….” Bela Togog pada almarhum juragan.
Memang Prabu Jungkung Mardeya ini raja yang tidak kaya raya. Saat baru menjabat misalnya, buru-buru wartawan Detikcom meliput dengan judul: Intip garasi Prabu Jungkung Mardeya. Isinya ternyata bukan Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero, melainkan hanya Kijang kapsul 2004. Bayangkan, sekelas raja kok kendaraannya hanya mobil lama. (Ki Guna Watoncarita)



