
BENARKAH omongan almarhum Ki Enthus Susmono, benar pulakah nasihat Dewi Wilutama sang mantan? Tapi ditilik dari opininya yang senada, sepertinya sahih juga informasi ini. Walhasil, jika bersikukuh hendak mengawini Wara Srikandi sama saja buang-buang energy yang tiada perlu. Berumahtangga kok tidak memiliki anak, buat apa? Kecuali jika nawaitunya memang sekedar cari tamba adhem (obat kedinginan) di malam-malam nan sepi.
Ya, memang selama hidup ngejomblo, keseharian Begawan Durna serasa disindir lagu lamanya Koes Plus “Hidup yang sepi”. Bila senja telah tiba hatiku tambah sengsara, tapi tetap kubernyanyi, walau malam-malam telah sepi. Memangnya menyanyi bisa membunuh kesepian?
“Matahari telah bersinar sayaaaang, Oo oo…..!” tanpa sadar Begawan Durna kelepasan nyanyi keras sekali, sampai Dewi Wilutama pun dibuatnya kaget.
“Diem lu ah Kumbayana, kok malah merayu. Suaramu memang bagus, tapi lebih bagus lagi kamu tak usah menyanyi. Sadar nggak bahwa kamu itu nggak bisa nyanyi, lha wong kentut saja fals….”, sindir Dewi Wilutama, sehingga bikin Pendita Durna tersipu-sipu.
Begawan Durna langsung mengkeret. Dia kadung berharap terlalu banyak, jika CLBK itu terjadi, Dewi Wilutama bisa jadi wanita pendamping untuknya. Lha yang terjadi, belum-belum Wilutama sudah jadi pendamprat. Malu sekali Begawan Durna, di kampus “Sokalima Beragama” dirinya sangat dihormati, kok di depan Wilutama hanya dilihat dengan sebelah mata.
Bingung sekarang Begawan Durna. Mau mengikuti saran sang mantan, atau mengikuti nafsunya. Padahal, mengikuti saran Dewi Wilutama sama saja mundur dari sayembara revitalisasi Taman Maerakaca. Dan ini berarti pula menjilat ludah sendiri ketika berhadapan dengan Prabu Drupada. Katanya sekali layar terkembang pantang surut ke belakang, ternyata pada akhirnya tinggalkan gelanggang. Mau ditaruh mana muka ini?
“Sudahlah Kumbayana tua, kamu harus mikir anak, jangan hanya cari enak.” Pesan Dewi Wilutama sebelum cabut ke kahyangan lagi.
“Iya, iya! Bawel amat sih…..” jawab Pendita Durna, tentu saja hanya dalam hati.
Dewi Wilutama pergi, Begawan Durna serasa terlepas dari upil sekepel yang nyangkut di hidung. Setelah dipikir dan direnungkan, bener juga omongan sang mantan. Sebab jika terus menyia-nyiakan Aswatama, bocah ini bisa balas dendam pada akhirnya. Di kala Pendita Durna sudah jompo, bisa saja dititipkan ke Panti Werda Cipayung. Matinya pun takkan dimakamkan di San Diego Hill, tapi di TPU Tegal Alur bersama mayat-mayat tak dikenal.
Keluar dari kompleks Taman Maerakaca, matahari telah mengintip di ufuk timur. Begawan Durna lalu mampir di warung kopi cari anget-angetan. Baru saja nyeruput kopi tubruk kegemarannya, nampak di TV ada breaking news tentang menghilanngnya Wara Srikandi diculik wayang tak dikenal. Peristiwa itu terjadi ketika semua penghuni taman keputren dan istana terlelap tidur seperti terkena ajian Sirep Begananda.
“Lho, gawat nih. Jika Wara Srikandi hilang, pemenangnya dapat apa?” kata Begawan Durna sambil ngaduk kopinya. Dia berlagak jadi wayang akar rumput.
“Kabarnya Pendita Durna juga ikut sayembara. Dia mah tua bangka nggak tahu diri, sudah bau tanah masih doyan perempuan cantik.” Kata pemilik warung, yang rupanya hanya kenal nama pendita Sokalima, tanpa pernah melihat sosoknya.
Jantung Begawan Durna rasanya seperti ditusuk pisau, sebab pemilik warung ternyata juga sangat membenci dirinya. Tapi Durna maklum, abang warung kopi bisa ngomong begitu, karena dia tak sadar bahwa orang yang dimakinya justru sedang ngopi di warungnya. Saat itu Durna memang pakai masker, sehingga hidung bengkoknya yang khas tak dikenali orang. Padahal dalam hati Begawan Durna mengumpat, “Bajindul…!”
Benar-benar tak paham siapa pembeli di warungnya, abang warung kopi rupanya pengamat biografi Durna sejak muda bernama Kumbayana. Maka dia kemudian cerita pada tamunya, bahwa Durna muda pernah terlibat skandal seks dengan kuda penjelmaan Dewi Wilutama. Punya anak bernama Aswatama, tapi tapi sampai bujang lapok dibiarkan tidak berkeluarga, karena ayahnya sibuk cari bini sendiri.
“Sudah bang, kopi satu pisang goreng dua, berapa?” ujar Begawan Durna memotong kojah (bercerita) si abang kopi, sambil memberikan uang Rp 20.000,- an ijo.
“Nggak mbungkus Mbah?” tanya si abang sambil memberikan kembalian uang Rp 5.000,-
Begawan Durna segera meninggalkan warung kopi celaka ini. Niatnya mau cari anget-angetan, kok malah ketemu warung kopi yang pemiliknya menelanjangi dirinya secara semena-mena dan waton nyata (asal nyata). Andaikan saja Begawan Durna tidak sabar, abang kopi itu pastilah sudah dimakan pusaka Cundamanik miliknya.
(Ki Guna Watoncarita)


