
TADI Begawan Durna dan Patih Sengkuni tiba di Balekambang pukul 13:00, tapi sampai menjelang magrib tak ada tanda-tandanya Prabu Kresna bangun dari laku tapa-nya. Sambil berbisik Patih Sengkuni bertanya pada Samba, jam berapa raja Dwarawati ini menyelesaikan tapanya. Ternyata jawaban Samba katanya masih lama, sebab ritual bertapanya baru dimulai 4 hari lalu. Paling cepat 36 hari lagi ke depan, karena beliaunya ambil paket yang 40 hari, bukan 7 hari 7 malam.
“Kok lama amat, mbok angger Samba tolong ramanda dibangunkan. Bilang ada tamu penting dari Ngastina, gitu…..” bisik Patih Sengkuni.
“Nggak berani, paman Sengkuni. Bisa dikutuk jadi kecebong atau kampret saya….” jawab Samba berbisik.
Enak saja Patih Sengkuni ini, dikiranya membangunkan orang untuk makan sahur di bulan Ramadan ngkali. Tinggal colek, mengucek-ucek mata sejenak lalu makan sambil merem-merem karena masih belum hilang kantuknya. Orang bertapa pati geni tak bisa begitu. Setelah 40 hari prei dari urusan makan dan perempuan, dia butuh waktu cukup lama untuk beradaptasi.
Sebetulnya Patih Sengkuni mau berbuat nekad, membangunkan Prabu Kresna dengan paksa. Tapi mendadak datang Harjuna, sehingga patih Ngastina itu terpaksa mengurungkan niatnya. Tambah aneh lagi, ketemu seniornya Pendita Durna dan Sengkuni, kesatria Madukara ini acuh tak acuh, seperti nggak kenal saja. Setelah mengheningkan cipta dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, Harjuna lalu tiduran di samping Prabu Kresna, dan diam……seperti orang tidur bahkan mati.
“Sttt, mbok Wakne Gondel niru Harjuna, nyusul tiduran di samping kiri Prabu Kresna. Siapa tahu dapat wisik (pesan dewa).” Saran Patih Sengkuni dengan suara yang volomenya diperkecil.
“Nggak ah. Harjuna kan ngantuk sekali tuh, semalam dia nonton Piala Dunia U-20 di Argentina.” Jawab Begawan Durna asal-asalan, padahal pertandingannya juga belum digelar.
Sebenarnya tidurnya Prabu Kresna tak lain tak bukan adalah dalam rangka ke kahyangan Jonggring Salaka. Prabu Kresna dalam bentuk rokh berganti nama jadi Sukmawicara. Adapun arwah Harjuna dengan nama Sukmalanggeng menyusul segera dengan tujuan sama, ingin nguping di kahyangan bagaimana para dewa bersidang membahas skenario Perang Baratayuda.
Begawan Durna dan Patih Sengkuni sama sekali tidak tahu atas perjalanan nasib rokh atau sukma Prabu Kresna – Harjuna yang sebenarnya. Dikiranya mereka laku tirakatan biasa, kemudian dewa akan turun ke Balekambang, klarifikasi apa maksudnya bertapa bersama-sama. Dalam kesempatan itu Begawan Durna dan Patih Sengkuni akan nguping apa yang dikatakan dewa dari Jonggring Salaka itu.
“Tapi kapan dewa itu akan turba (turun ke bawah) ke Balekambang kan tidak jelas. Mending kita ikutan bertapa bersama. Ini sebagai tanggungjawab atas kepercayaan anak Prabu Duryudana kepada kita berdua. Malu kita, sudah dapat SPJ (Surat Perintah Jalan) beserta anggarannnya, tapi hasilnya nol….” Ujar Patih Sengkuni kasih masukan ke Begawan Durna.
“Bener juga saran Di Cuni. Ini namanya mengemban amanah negara.” Jawab  Begawan Durna pada akhirnya.
Sesuai kesepakatan, Begawan Durna lalu rebahan  di samping Harjuna dan Patih Sengkuni  di samping Prabu Kresna. Apa yang terjadi selama ikutan bertapa, terserah kehendak dewalah. Yang penting sudah mengemban amanah negara secara baik dan benar. Jika nantinya pulang ke Ngastina dengan tangan hampa, apa kata Ditjen Pajak eh…..dunia!
Baru satu jam keduanya “makmum” bertapanya Kresna dan Harjuna, tiba-tiba datang Haryo Setyaki untuk mengaplus Samba piket penjagaan. Sapukawat Dwarawati ini kaget sekali demi melihat tiga sosok lain di samping Prabu Kresna. Kok seperti di pos ronda saja, tidur bersama-sama.  Begitu dicermati, ternyata dia kenal mereka semuanya.
Jika di situ ada Harjuna, okelah karena masih satu kubu dan Pendawa – Dwarawati memang masih satu koalisi. Tetapi jika Begawan Durna dan Patih Sengkuni yang bagian dari koalisi perubahan, ngapain ikutan bertapa di samping Prabu Kresna. Ini kan menjadi musuh dalam selimut.
“He bangun! Dan pergi sini, ini bukan pertapaan umum.” Ujar Haryo Setyaki sambil menendang tubuh dua wayang Kurawa tersebut.
“Aduh, sabar-sabar. Kenapa sih main tendang saja? Yang sopan dong!” jawab Durna dan segera bangkit.
Tapi begitu terlihat yang menendangnya adalah Haryo Setyaki “langgaan” lama dengannya, Begawan Durna segera berdiri dan menarik tubuh Patih Sengkuni untuk segera menyingkir dari bahaya. Sama seperti Durna, demi tahu yang menyepak pantatnya tadi adalah Haryo Setyaki, buruan Patih Sengkuni bangun dan lari keluar pertapan bersama-sama seperti gelang sipatu gelang.
“Celaka tigabelas. Baru bermimpi naik ke langit, lalu tampak di sana anak Prabu Duryudana sepertinya duduk di dampar kencana, eh tahu-tahu kena tendang Setyaki. Di Cuni juga mimpi sepertiku nggak?” tanya Begawan Durna setelah jauh dari medan bahaya.
“Aku ya iya….! Tapi kita kan bukan Kyai Garut ya, tapi kok mimpinya mirip.” Jawab Patih Sengkuni sambil tersenyum kecut. (Ki Guna Watoncarita)


