BANJARAN DURNA (57)

Sukmawicara dicegat Cingkarabala-Balaupata. Boleh masuk Jongringsalaka setelah memberi uang kopi.

SESUNGGUHNYA UU Perang Baratayuda yang diberi nama Kitab Jitapsara, masih digodok di Jonggring Salaka di bawah pimpinan SBP (Sanghyang Bethara Penyarikan) selaku Kepala Sekretariat Bale Marcakunda. Anggotanya para dewa seperti Bethara Surya, Bethara Bayu, Bethara Sambu, Bethara Kamajaya ahli ilmu kamasutra, termasuk juga Bethara Indro yang pernah jadi anggota Warkop DKI.

“Rekan-rekan dewa yang mulia, karena UU Kitab Jitapsara masuk prolegnas 2023, mohon segera dikirimkan DIM (Daftar Isian Masalah) untuk kita godok bersama. Kita harus kerja marathon, sebab PBJ (Perang Baratayuda Jayabinangun) 2024 tinggal setahun lagi.” Kata SBP memulai sidang.

“Saya usul kepada SBP selaku pimpinan sidang. Saat pembahasan RUU Jitapsara ini kita harus bebas dari intervensi, jangan sampai terjadi jual beli pasal demi kepentingan pihak lain”. Kata Betara Indro yang biasanya melawak, jadi serius dan idealis.

Para anggota sidang saling pandang, kebanyakan diarahkan ke Bethara Surya. Sebab dewa satu ini terkenal celamitan. Dia tak mempan disogok harta (uang), tapi sama wanita doyan banget. Jejak sekamnya di ngercapada sudah ombyokan, bahkan ada yang sampai punya anak. Korban Bethara Surya misalnya: Dewi Sukesi, Dewi Windradi, Dewi Kunthi. Yang ditakuti Bethara Surya hanya Dewi Persik, karena takut dituntut di Pengadilan. Jadi dalam hal ini, Bethara Surya kalah sama Saiful Jamil maupun Aldi Taher.

Belakangan Bethara Surya juga dalam sorotan, karena kedekatannya dengan Surya Paloh. Bedanya adalah, jika dewa dari kahyangan Ekacakra ini ikut andil merekayasa jago-jago (senapati) Perang Baratayuda,  Surya Paloh hendak merekayasa jagonya di Pilpres 2024. Dikhawatirkan, lantaran elektabilitas Anies Baswedan di ngercapada tak kunjung meningkat, mau disusupkan jadi jago Perang Baratayuda lewat Kitab Jitapsara. Karena itulah Surya Paloh mendekati Bethara Surya.

“Interupsi pimpinan, bagaimana jika calon senopati Baratayuda juga merekrut titah ngercapada yang bukan darah Barata.” Kata Bethara Surya sebagai usulan.

“Itu bisa, tapi statusnya senopati cadangan saja. Maksudnya, dimanfaatkan hanya manakala ada senopati darah Barata belum memperoleh lawan…” jawab Bethara Penyarikan selaku pimpinan pembentukan UU Kitab Jitapsara.

Bethara Surya pun merasa plong, karena berarti ada peluang memasukkan nama Anies Baswedan titipan Surya Paloh. Agar tidak ngetarani (mudah terlihat) dan mudah dibaca publik, dia tidak serta merta mengajukan nama eks gubernur pakar sumur resapan di Jakarta itu. Tetapi nanti begitu ada formasi, maksudnya senopati wudhu tandhing (tanpa musuh), Anies Baswedan akan segera diusulkan.

Para peserta pembahasan UU Kitab Jitapsara lalu menginventarisir tokoh-tokoh Pandawa maupun Kurawa. Semua tokoh Pendawa Lima masuk, tetapi  Kurawa 100 banyak yang tereleminasi. Sebab sosok mereka jarang berkiprah di dunia perwayangan, tetapi tetap dapat jaminan penuh dari negara. Ini kan membebani anggaran saja. Misalkan Citrabana dan Duskarna, siapa kenal mereka? Sosok Citrabana kalah kondang dengan Rini Subono (eks bini Ahmad Albar) dan Duskarna kalah ngetop sama dus karena itu…..

Demikianlah, ketika sidang di istana Bale Marcukunda itu masih berlangsung, kadang saling debat macam politisi DPR di Senayan, Prabu Kresna dalam bentuk badan alus dan ganti nama jadi Sukmawicara sudah sampai di depan Gapura Selamatangkep. Dia tak bisa serta merta masuk, karena dicegat oleh penjaga gapura si Cingkarabala dan Balaupara, yakni dewa kahyangan bergolongan I-c.

“Makhluk ngercapada masuk Jonggring Salaka harus punya paspor, tak bisa slonong boy,” tegur Cingkarabala.

“Masa nggak kenal saya? Saya Prabu Kresna raja Dwarawati titisan Bethara Wisnu.” Jawab Sukmawicara menyebut keaslian jatidirinya.

Balaupata lalu lihat databes di komputer, siapa saja titah ngercapada yang punya relasi dengan dewa-dewa kahyangan. Ternyata memang ada, Prabu Kresna titisan Bethara Wisnu, lengkap dengan fotonya segala. Tapi dasar dewa mata duitan, masih saja mencoba mempersulit dengan tujuan ada fee yang bisa diterimanya. Tanpa malu-malu Balaupata bilang bahwa sedari pagi belum ngopi dan sarapan.

“Oo, gombal! Bilang saja minta uang.” Ujar Kresna sambil mengangsurkan uang Rp 50.000,- dua lembar.

“Nah…., memang itu maksudnya. Masak nggak paham juga, he he he.” Sahut Cingkarabala-Balaupata sambil menyambar uang kepelan tersebut.

Sesuai namanya, gapura Selamatangkep memang berupa pintu yang terbuat dari lempengan batu besar sebanyak 2 buah. Bekerja secara elektrik, manakala remote dipencet, gapura itu terbuka dengan sendirinya. Pencet lagi tertutup kembali. Semua dewa bisa masuk dengan bebas, karena mereka punya pasword masing-masing. Sukmawicara yang tak punya pasword membukanya pakai uang Rp 50.000,-an dua lembar.  (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement