BANJARAN DURNA (6)

Bambang Ekalaya belajar memanah sendirian, disaksikan patung Begawan Durna yang membisu.

BEGAWAN Durna ini ternyata sosok wayang yang tidak mudah puas, kecuali sekali pernah “dipuaskan” oleh kuda penjelmaan Dewi Wilutama. Kecuali kursus kanuragan yang digelar di padepokan kontrakannya, diam-diam juga melayani kursus memanah panggilan yang istilahnya: guru ke rumah. Secara finansial memang lebih menjanjikan. Datang di padepokan sebulan hanya Rp 250.000,- bila les privat sekali datang memperoleh honor Rp 100.000,- Bila seminggu 2 kali, sebulan sudah terima Rp 800.000,- tiga kali lipat ketimbang kursus kanuragan di bekas gudang peluru.

Murid peserta les privat itu adalah Bambang Ekalaya raja muda dari Parang Gelung yang juga bersahabat dengan Bambang Gentolet Srimulat dan Bambang Pacul politisi. Tapi karena kesibukan Bambang Ekalaya, dia tak bisa mengikuti kursus memanah itu secara konsisten. Begawan Durna datang, si Bambang ada kesibukan lain. Walhasil Begawan Durna hanya buang-buang transport saja. Padahal, kerugian sang begawan itu tak diganti. Artinya, jika tak mengajar memanah Begawan Durna juga tak membawa uang Rp 100.000,-

“Nak Bambang Ekalaya, kursus memanahnya sampai di sini saja ya. Karena kita sama-sama sibuk, ngatur waktunya jadi susah.” Ujar Begawan Durna ketika mengakhiri kursus sebagai yang terakhir.

“Masak begawan kok mutungan. Nggak bisa ditinjau lagi keputusan itu?” jawab Bambang Ekalaya kecewa.

Begawan Durna menggeleng dan langsung pergi mak klonyot begitu saja. Tentu saja raja Paranggelung itu sangat kecewa. Bagaimana ini, ilmu memanahnya masih nanggung, kok pak gurunya mutung! Solusinya, dia kemudian diam-diam suka mengintip ketika para kader PKS belajar memanah untuk persiapan ikut PON ke-XXI tahun 2024. Tapi ternyate belajar memanah hasil intipan hasilnya kurang memadai.

Bambang Ekalaya kemudian menemukan ide, akan belajar autodidak. Sebagai penyemangat dia ingin membuat patung Begawan Durna, yang akan dengan setia menemani dia memanah. Tapi karena tak bisa bikin sendiri, dia mencoba pesan ke pematung Edhi Sunarso. Ternyata sudah meninggal lalu ada yang menyarankan ke pematu Nyoman Nuarta saja.

“Aduh Mas, saya sedang sibuk dan fokus mempersiapkan maket IKN di Kaltim. Cari pematung yang lain saja ya.” Saran Nyoman Nuarta.

“Tolong deh, nggak gede-gede amat. Berapa biayanya saya setuju saja.” Rengek  Bambang Ekalaya.

“Tapi sesempatnya saja  ya, jangan ditarget tanggal sekian.”

“Iya deh, saya manut saja.” Jawab Bambang Ekalaya.

Sebulan kemudian patung Begawan Durna sudah jadi. Apik dan antik sekali; pakai jubah, kethu kadrun, pegang tasbih dan bersepatu, tapi tanpa kaos kaki. Apa tidak takut mlecet? Ya enggaklah, Begawan Durna kan wayang sakti, tentu saja bebas dari kemlecetan. Jangankan hanya kaki mlecet, dibacok saja tidak mempan, ditumbak lekek-lekek, disuduk manthuk-manthuk.

Di pojok lapangan dekat rumahnya patung Begawan Durna dipasang. Di tempat itu pula dia belajar memanah. Sebelum berlatih dia tak pernah lupa “sungkem” pada patung Durna, begitu pula setelah latihan. Sesuai dengan ajaran “ngelmu iku kelakone kanthi laku” wejangan Pakubuwono IV dalam Serat Wulangreh, dengan berlatih sendirian, tekun dan sabar, ilmu memanah Bambang Ekalaya bertambah dengan pesat. Jangankan sasaran depan mata, baru dengar suaranya saja langsung dipanah garis tegak lurus pasti kena.

“Terima kasih rama begawan, kepandaian memanah saya sudah maju dengan pesat,” kata Bambang Ekalaya sambil mencium ujung jubah patung Begawan Durna.

Namanya juga patung, meskipun dapat ucapan terima kasih berulangkali tetap saja diam membisu. Tapi Bambang Ekalaya sudah merasa bahagia luar biasa, dan dia tetap menganggap kesuksesan itu berkat dorongan semangat dari Begawan Durna di padepokan bekas gudang peluru.

Kepandaian memanah Bambang Ekalaya bisa disejajarkan dengan Permadi, putra Pendawa yang sangat tekun berguru memanah pada Begawan Durna. Meski awalnya sasaran latihan buah durian dan mangga di kebon orang, lama-lama panahan Permadi selalu tepat sasaran. Untuk meningkatkan kemampuan, mulailah Permadi mencoba berburu di hutan lepas.

Saat dia melihat 2 ekor rusa sedang dilanda asmara, busur panahnya segera diarahkan ke salah satu rusa tersebut. Tapi belum juga panah meluncur deras, tiba-tiba mak jleb……dua ekor rusa itu melengking kesakitan karena terkena anak panah dalam waktu yang sama. Rupanya telah hadir pemburu lain dengan lepasan  panah yang jitu. Kasihan kedua rusa itu, mulut sobek lidah putus; padahal sama sekali tak pernah nyinyir sebagaimana mantan mentri yang tak hafal lagu Indonesia Raya.

“Bedebah, siapa gerangan ini yang sok jagoan, pamer kehebatan memanah.” Gerutu Permadi.

“Saya, Bambang Ekalaya dari  Paranggelung,” jawab Bambang Ekalaya yang tiba-tiba muncul dari semak belukar.

“Hebat sekali panahan Anda, belajar dari mana?” tanya Permadi lagi penasaran, tapi nadanya mendadak santun.

“Masak, sih? Perasaan biasa saja….!” jawab Bambang Ekalaya santai.

Di atas langit masih ada langit, begitulah kenyataannya. Meski Harjuna mengklain diirinya paling hebat dari perguruan Pendita Durna, ternyata diam-diam  ada sosok lain yang lebih hebat darinya. Dan itulah Bambang Ekalaya dari Paranggelung. Mendadak watak superior Permadi muncul. Dia tidak terima karena ternyata ada yangf lebih hebat darinya dalam urusan memanah.

“Kalau saya boleh tahu, sekali lagi saya bertanya, siapakah guru memanahmu?” kembali Permadi mengejar soal guru.

“Oo, itu. Guruku tak lain tak bukan Begawan Durna.” Jawab Bambang Ekalaya.

Permadi lalu diajak ke sasana tempat dia belajar memanah. Di situ tak ada Pendita Durna, kecuali patungnya yang membisu dan dingin. Permadi bukannya mengagumi Bambang Ekalaya, tapi malah mempemasalahkan ketidak-asaltunggalan perguruan memanah Pendita Durna. Dulu dia pernah mengaku bahwa murid panahan paling hebat hanyalah Permadi seorang, tiada duanya. Tapi faktanya? (Ki Guna Watonsarita)

 

                                                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement