BANJARAN DURNA (60)

Prabu Kresna marah betul pada Begawan Durna, karena menyebar isyu yang tak berdasar.

PRABU Kresna dan Harjuna sudah kembali turun ke ngarcapada dalam bentuk aslinya. Kostum begawan Sukmawicara-Sukmalanggeng yang dipakainya saat di Jonggring Salaka tak membekas lagi dalam tubuhnya, entah dibuang atau dijual ke mana. Yang jelas keduanya lalu menjadi pusat perburuan pers, baik yang media cetak maupun online. Bahkan undangan dialog di TV juga ngantri, dengan honor yang menjanjikan. Jika tak bisa hadir langsung, secara zoom juga tak masalah.

Tapi sesuai konsensus dengan SBP yang diamanatkan lewat stempel merah bukan konsumsi publik dalam naskah Kitab Jitapsara, Prabu Kresna tidak mau menjawab pertanyaan pers dan menolak hadir dalam dialog di TV. Maka raja Dwarawati itu jadi bahan olok-olokan di medsos: kayak mentri saja, banyak yang takut setiap diajak RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan DPR. Namun demikian Prabu Kresna tetap diam membisu. Bahkan sering pula pers dibelokkan ke isyu lain yang tak kalah juga menariknya dan ini halal untuk konsumsi publik.

“Maaf, ini rahasia jabatan. Tanya saja pada dimas Harjuna, dia kan juga datang ke Bale Marcukunda.” Kata Prabu Kresna mencoba menghindar dari pertanyaan pers.

“Lho kata Harjuna, dia tak sempat masuk Bale Marcukunda, baru sampai pintu gerbang gapura Sela Matangkep sudah diajak pulang ke ngercapada oleh Prabu Kresna sendiri. Tolong, jangan pingpong kami…..” Kejar pers agak kesal, karena Prabu Kresna dan Harjuna kemudian saling lempar informasi.

Sebetulnya banyak isyu di ngercapada yang perlu diklarifikasi lewat Prabu Kresna, sebab pers di jagad perwayangan ternyata lebih bertanggungjawab ketimbang pers di dunia nyata. Pers di dunia nyata, meski berita tidak seimbang, main turunkan saja tanpa cek and ricek. Lebih-lebih yang di luar pengawasan Dewan Pers, berita viral di medsos yang TKP-nya tidak jelas, ikut dipublikasikan pula. Karenanya kepercayaan publik pada pers sekarang tinggal 40 persen.

Untungnya Prabu Kresna bungkam hanya soal seputar Kitab Jitabsara. Soal informasi lain dari Bale Marcukunda beliaunya masih mau bicara. Misalnya soal titipan Surya Paloh kepada Bethara Surya agar Anies Baswedan masuk nominasi senopati Baratayuda, Prabu Kresna mau menjawabnya. Apa jawab dia?

“Dia hanya masuk daftar cadangan. Di samping itu, Perang Baratayuda hanya membutuhkan senopati ahli tata yuda, bukan tata kata. Begitu hasil ingsun nguping di Bale Marcukunda.” Jawab Prabu Kresna.

“Soal SBG cawe-cawe dinamika Perang Baratayuda, bagaimana?” kejar pers lagi.

“Ndak ada itu. Kalaupun ada itu lho, Bethara Kala nyinyir soal utang Ngastina-Pendawa untuk Baratayuda, termasuk soal Cina mendominasi bisnis di ngercapada.” Jawab Kresna sambil menutup pintu mobilnya.

Karena Prabu Kresna bersiteguh pantang membocorkan isi skenario Perang Baratayuda, isyu telah selesainya Kitab Jitapsara pada akhirnya menjadi bola liar di dalam kubu Ngastina dan Kurawa. Sampai-sampai Begawan Kumbayana atau Bambang Kumbayana ketika muda, terbawa arus ikut-ikutan bikin isyu seperti Denny Indrayana. Kata begawan dari Sokalima ini, ada info A1 dari Jonggring Salaka, SBG berkeinginan menunda Perang Baratayuda.

Karena Begawan Durna punya link ke kahyangan, yakni Dewi Wilutama mantan doi alias mamanya Aswatama, publik pun meyakini isyu tersebut benar adanya. Bisa saja Wilutama yang centil punya akses ke semua dewa yang ikut dalam penyusunan Kitab Jitapsara, kemudian dibocorkan pada mantan suaminya. Bahkan belakangan Begawan Durna berani kirim surat ke Sanghyang Wenang, atas cawe-cawenya SBG untuk penundaan Perang Baratayuda. Begawan Durna mendesak Sanghyang Wenang menjewer SBG yang lancang bertindak melebihi wewenangnya.

“Bener nih Mbah? Ada rencana Perang Baratayuda mau ditunda? Jika hoaks Mbah Durna bisa kena pasal membocorkan rahasia kahyangan, sanksinya diceburkan ke Kawah Candradimuka lho…..” kata Durmagati menakut-nakuti Pendita Durna. Maklum, Durmagati ini selalu oposisi terhadap opini Begawan Durna.

“Ah, percuma ngomong sama kamu, Dur! Dari dulu kamu kan apriori banget sama aku, sehingga di matamu tak ada pendapat dan omonganku yang benar. Kamu selalu akan mancahi (membantah) segala pertimbanganku.” Jawab Begawan Durna ketus.

Sepeninggal Durmagati, Begawan Durna malah menyebar isyu lewat grup WA Kurawa bahwa skenario Perang Baratayuda berat sebelah. Katanya, nantinya Perang Baratayuda berakhir dengan kekalahan telak Ngastina. Kurawa yang berjumlah 100, tewas semua. Sedangkan Pendawa yang hanya berjumlah 5 orang malah utuh alias tak ada yang jadi korban tewas. Ini akibat intervensi Prabu Kresna. Dia telah menggelontorkan dana triliunan ke Bale Marcukunda, dengan dana cipratan korupsi Proyek BTS. Ternyata, Bambang Kumbayana lebih kejam ketimbang Deny Indrayana.

Prabu Kresna ketika dapat bocoran isi grup WA Kurawa marah juga. Kok bisa-bisanya Begawan Durna mengarang bebas sejauh itu. Bahwa dia menghadiri pembahasan Kitab Jitapsara, memang iya. Tapi jika difitnah sampai ngatur skor seperti pertandingan bola, apa lagi menyuap dewa-dewa penyusun Kitab Jitapsara pakai dana proyek BTS Rp 8 triliun, ini jelas Begawan Durna pakai aji pengawuran. Kecipratan korupsi dari Hongkong? Lha wong kenal Mentri Johny Plate juga tidak.

“Paman Durna, sampeyan sudah tua. Jangan suka bikin isyu dan fitnah yang bikin geger ngercapada.” Sergah Prabu Kresna ketika ketemu Begawan Durna. Memang dicari.

“Tetapi, tetapi……” jawab Begawan Durna kami sosolen (tergagap).

(Ki Guna Watoncarita)

Advertisement