BANJARAN DURNA (62)

Brahala penjelmaan Kresna gedrug-gedrug, membuat tembok gedong kuning ambruk menimpa suami istri Destarata-Gendari.

APA? Istri-istri raja Dwarawati mau dijarah, enak saja! Ja ngasi (jangan sampai), kata orang Magelang. Sebagai titisan Bethara Wisnu. Prabu Kresna kemudian tiwikrama (unjuk kekuatan). Dalam hitungan detik telah berubah wujud menjadi brahala, yakni raksasa yang luar biasa gedenya. Kepalanya jadi seribu, matanya jadi dua ribu dan giginya jadi ……. –ambil kalkulator dulu– jadi……32.000. Karenanya jika gosok gigi bisa menghabiskan pasta pepsodent berdrum-drum.

Dursasono Cs segera menyerang Brahala, tapi langsung dikipatke (dihempaskan) jatuh mencelat sampai alun-alun Gajahoya, menimpa rombong penjual somay, gubrak! Patih Sengkuni dicengkiwing (ditenteng) dan dilemparkan, tahu-tahu jatuh sampai Plasajenar tanpa perlu naik taksi. Dia sebetulnya mau meniru Amien Rais bikin gerakan people power, tapi sayangnya prajurit Ngastina tak semilitan Mudrik Sangidu dan Amien Rais itu sendiri. Walhasil niat untuk menjatuhkan Kresna yang selalu cawe-cawe atas Perang Baratayuda, semangkin sulit untuk diwujudken.

Adapun Prabu Duryudana sudah menyelinap duluan, bersembunyi di kolong tilam rum (tempat tidur) cari aman. Begawan Durna yang setiap Minggu ikut Posyandu Lansia hanya dibiarkan ndhepis di pojok istana dengan wajah ketakutan. Padahal kalau diinjak pasti langsung mecedhel (keluar ususnya). Tapi si Brahala tak setega itu, karena sesungguhnya Bambang Kumbayana tua ini baru stress kehilangan muka gara-gara gosipnya tentang putusan MK ternyata tidak netes (terbukti).

“Minggir, minggir, ngungsi, ngungsi, ada banjir, eh….buta ngamuk.” Kata Satpam istana Gajahoya.

“Amuk-amuk, surak mrata jaya mrata. Rawe-rawe rantas malang-malang putung (baca: babat habis semua rintangan). Siapa yang berani melawan Brahala, saya bikin bergedel.” Sesumbar Brahala marah sekali.

Brahala segera keluar istana, sepanjang jalan gedrug-gedrug dengan efek getaran seperti gempa 10 SR. Padahal kala itu Destarata dan istri Gendari tengah ngobrol di Gedong Kuning tempat mereka tinggal, masih dalam lingkungan istana Gajahoya. Bangunan itu disebut Gedong Kuning karena memang berwarna kuning, lantaran ketika dicat dulu disponsori Golkar.

Mereka membicarakan nasib Kurawa-100 ke depan. Apa mungkin mereka akan punah gara-gara mempertahankan negeri Ngastina yang memang bukan haknya? Destarata ingat betul bagaimana almarhum Pandu adiknya ketika titip amanat kepadanya, agar negeri Ngastina diserahkan kembali ke Pendawa Lima manakala mereka sudah dewasa.

“Diajeng Gendari, sebaiknya memang negeri Ngastina diserahkan kembali pada anak-anak Pandu, si Pendawa Lima. Saya yang terima amanat langsung, risih rasanya bila soal itu diungkit melulu baik di koran maupun medsos.” Kata Destarata sambil nyruput teh ginasthel.

“Jangan dong Pak. Kalau negeri ini diserahkan ke Pendawa, anak-anak kita tinggal di mana? Apa ambil rumah lapis DP nol rupiah? Omong kosong itu, katanya minimal bergaji Rp 7 juta, ternyata Rp 14 juta.” Kata Dewi Gendari kesal.

Jika lahan Ngastina diserahkan kembali ke Pendawa, apakah ada jaminan Pendawa Lima memberikan lahan baru untuk Kurawa-100. Taruhlah Prabu Puntadewa Cs siap menghibahkan sejumlah lahan, tapi bagaimana dengan keluarga Ngastina yang kehilangan tempat kerja karena lahannya diambil alih pihak lain. Apa lagi Prabu Puntadewa punya prinsip, tanah sendiri digarap sendiri, tidak perlu mendatangkan tenaga asing termasuk yang dari RRC.

Tiba-tiba gedung kuning tempat tinggal Destarata-Gendari bergetar hebat, rupanya Brahala semakin keras gedrug-gedrug pindha prabata (seperti gunung). Tak ayal lagi Gedung Kuning itu miring mendadak dan kemudian ambruk. Dan sungguh kasihan Dewi Gendari dan Destarata tak bisa menyelamatkan diri karena kebutaan suaminya. Keduanya wasalam tertimpa tembok yang batu batanya gede-gede macam  batu bata bongkaran stasiun Gambir tahun 1980-an.

“Ee, ee, ee……siapa yang menolak kebenaran rasakan akibatnya. Bisa mati terhimpit tembok.” Kata Brahala menggelegar, rupanya sempat mendengar teriakan terakhir Gendari dan Destarata.

“Sabar, sabar, Kresna titisan Wisnu. Hentikan kemarahanmu, lihat tuh jalan-jalan hasil Dana Desa jadi ancur macam di Lampung, gara-gara kamu injek-injek.” Tegur dewa Kalimantan alias Bethara Narada.

Brahala pun kembali ke wujud aslinya. Atas nasihat Bethara Narada dia segera kembali ke Ngamarta, untuk mewartakan misi perdamaian mencegah Perang Baratayuda gagal adanya. Suka atau tidak suka, perang Baratayuda Jayabinangun harus terjadi, seperti halnya perang antara Ukraina lawan Rusia. Ini memang opsi terakhir yang terpaksa diambil akibat kepongahan Prabu Duryudana Cs.

Jenasah Destarata dan Dewi Gendari baru bisa diambil 2 hari kemudian, setelah diturunkan alat-alat berat seperti Kobelco, yang kegunaannya memang untuk ngobel gundukan beton. Begitu ditemukan, tragis sekali kondisi Destarata-Gendari, mereka tetap berpelukan meskipun tubuh pendeng (gepeng) lantaran terhimpit bongkahan tembok sekian lama. Rupanya keduanya memang tetap setia sampai akhir hayat. Mereka dimakamkan di TPU Pondok Rangon, bersebelahan dengan pemakaman khusus korban Covid-19.  (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement