
HARYO Suman melepas kepergian Mbakyu Gendari dengan berat dan sejuta penyesalan. Sebab kakak kandungnya sama sekali tidak ridla dan rela dibuat taruhan. Memangnya barang, apa? Karenanya tak mengherankan Dewi Gendari ngomel-ngomel pada Haryo Suman sebelum dibawa pergi Pandu bersama Dewi Kunthi. Sungguh Dewi Gendari tak nyana dan tak menduga bahwa bakal jadi korban poligami, meskipun Pandu sendiri bukanlah orang PKS.
Rombongan Alphard yang dikendarai Pandu bersama Dewi Kunthi, Dewi Gendari dan tentu saja driver, melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Ngastina. Sedikit boleh cerita, mobil ini sebenarnya berbau politik karena dibeli dari orang yang menang taruhan menuju Pilpres 2024 di negera tetangga. Pemilik pertama mobil ini yakin Anies Baswedan takkan bisa ikut nyapres dengan berbagai data-data politik pula. Padahal faktanya, beberapa hari lalu nama Anies – Cak Imin berhasil didaftar KPU sebagai koalisi AMIN.
“Selamat, kau menang deh!” kata pengamat politik Hasan Nasbi sambil menyerahkan mobil Alphard yang biasa dikendarai sehari-hari.
“Terima kasih, apa aku bilang? Anies pasti melenggang ke Pilpres 2024…” jawab Suny Tanuwijaya sambil menerima kunci kontak bersama STNK dan BPKB-nya.
Tentu saja politisi muda PSI itu senang sekali. Tapi karena Toyota Alphard mahal perawatannya, pada akhirnya mobil tersebut dijual lewat OLX dan dibeli Pandu putra Ngastina hanya Rp 1,3 miliar. Sedangkan Suny Tanusudibyo lebih memilih mobil kendaran lamanya Toyota Kijang kapsul 2004 yang hemat perawatan. Uang hasil penjualan mobil dipakai untuk memperbaiki rumahnya.
Mobil Alphard bekas tapi mewah itu meluncur deras lewat tol. Tapi di rest area mobil Pandu ini didekati ksatria muda dan cewek cantik. Mungkin suami istri, mungkin pula sepasang anak muda sedang pacaran. Omong punya omong ternyata mereka kakak beradik Narasoma dan Madrim, yang mau ikut sayembara di Mandura tetapi sudah kepancal sepur (terlambat).
“Tuh Dewi Kunthi sudah saya boyong, karena saya pemenangnya. Sedangkan satunya lagi Dewi Gendari, itu putri Gendara sebagai hasil menang taruhan. Kakaknya juga telat daftar seperti Anda,” kata Pandu bisik-bisik kepada Narasoma, dengan maksud agar tidak menyinggung perasaan 2 putri boyongan tersebut.
“Oo begitu. Kita apikan aten saja deh, Dewi Kunthi buatku dan adikku Madrim ini buatmu. Itung-itung tukar guling begitu saja deh,” bujuk Narasoma kemudian.
Tujuan Narasoma sebetulnya hanya untuk pamer pada ayahnya nanti, Prabu Mandrapati di Mandaraka bahwa dia telah memenangkan pertandingan. Tentu saja Pandu tak sudi dengan tawaran seperti itu. Memangnya Kunthi cewek apaan. Kalau mau, adu wuleting kulit atosing balung (berantem) saja. Jika Narasoma menang, boleh Kunthi diboyong. Tapi jika kalah, Madrim adiknya yang manis itu diserahkan pada Pandu.
Sambil tersenyum Narasoma menerima tawaran itu. Dia yakin akan mampu melibas Pandu hanya dengan sekali gebrakan. Apa lagi dia kini punya senjata andalan baru, aji-aji Candabirawa warisan mertua Begawan Bagaspati. Jika ajian tersebut diwatek (digunakan) akan hadirlah ribuan raksasa kecil-kecil yang akan mengeroyok lawan hingga wasalam.
“Oke kalau begitu, mari pertandingan kita mulai.” Kata Narasoma.
“Siapa takut.” Jawab Pandu sambil pasang kuda-kuda.
Di belakang bangunan toilet, keduanya berantem dengan maksud jangan menarik perhatian orang. Adapun Gendari dan Kunthi yang tetap berada di mobil, sama sekali tak paham ulah kedua anak muda itu. Cuma setengah jam kemudian, Pandu balik sambil menggandeng Madrim dan dimasukkan dalam mobil. Ketika mobil jalan, Narasoma hanya berdada ria. Rupanya dia kalah lawan Pandu, karena ajian Candabirawa mendadak mejen melawan Pandu.
Sementara itu Haryo Suman, rembang petang telah membayang ketika dia tiba kembali di Kerajaan Gendara. Sang Prabu Gandara kaget ketika putra bungsunya itu pulang sendirian. Di mana Dewi Gendari yang mengawalnya, di mana pula putri Mandura si Kunthi Nalibrata yang telah berhasil diboyong Haryo Suman. Memang Prabu Gendara optimis habis bahwa Haryo Suman akan menang dalam pasang giri di negeri Mandura.
“Maaf kanjeng rama, saya telat sehingga gagal ikut sayembara.” Kata Haryo Suman.
“Kenapa kau nggak naik kereta cepat Whoosh Bandung – Jakarta? Jadinya telat kan?” ujar Prabu Gendara gemes dan sangat menyesali.
Haryo Suman pun menceritakan segala perjalanan nasibnya ketika hendak ikut pasang giri di Mandura, sampai soal kakak Dewi Gendari dijadikan barang taruhan dan kini telah dibawa pergi Pandu dari negeri Ngastina. Dia menyampaikan hal itu dengan berulang-ulang mohon maaf, karena kakak kandung Dewi Gendari pada akhirnya diboyong Pandu, bukan dirinya yang memboyong Dewi Kunthi.
Kalau masih bocah, Prabu Gendara ingin membanting saja ini anak, karena pulang mengikuti sayembara dengan tangan kosong. Kok nggak malu dengan Gibran Rakaopan dari negeri tetangga, jadi Walikota saja belum lama sudah didorong-dorong jadi Cawaperes. Dan ternyata berhasil berkat perjuangan Paman Usman yang jadi Ketua MK, meski resikonya paman itu sendiri yang dicopot dari jabatannya.
“Ya sudah, nanti kau kawin saja sama anak tukang bakso. Karena kamu nggak kuat drajat…..” omel Prabu Gendara penuh penyesalan.
“Maafkan kanjeng rama.” Kata Haryo Suman sambil mohon diri.
Sementara itu di negeri Ngastina Prabu Abiyasa berbangga diri dan berbahagia sekali, karena Pandu ternyata bisa pulang memboyong Dewi Kunthi, bahkan dapat tambahan bonus 2 putri dari negeri Gandara dan Mandaraka. Ketiganya sama cantiknya, sama keibuannya. Cocok jika dijadikan bini. Inilah yang benar-benar dinamakan mbedhah praja mboyong putri. Dan ternyata, tanpa mbedhah praja pun putra kesayangannya, sudah berhasil mboyong putri tiga sekaligus.
Prabu Abiyasa berkeinginan Pandu segera menikahi ketiga putri cantik itu sekaligus. Dicap doyan poligami nggak masalah. Calon raja kok, itu soal biasa! Bahkan kabarnya istri raja Pakubuwanan di Surakarta malah ada yang beristri 40. Konon ceritanya pula, SD Kratonan di Solo harus menghormatinya setiap garwa dalem sedang nggarapsari alias menstruasi. Oleh karena itu, SD tersebut sering libur karena harus bergantian menghormati istri raja sedang menstruasi.
“Wahai Pandu anakku, kapan kamu akan menikahi ketiga putri itu sekaligus?” tanya Prabu Basudewa.
“Yang satu, Dewi Kunthi, sudah. Tapi yang dua belum, kanjeng Rama. Tapi maksudku, jika rama Abiyasa setuju, Dewi Gendari atau Madrim akan saya tawarkan pada kangmas Destarastra saja. Kasihan dia ngejomblo terus.” Jawab Pandu.
“Lho, memangnya Gendari atau Madrim mau? Destrarastra kan dalam kondisi tunanetra. Kamu jangan menciptakan penderitaan baru buat orang lain.” Tegur Prabu Abiyasa.
“Ini kalau kangmas Destarastra mau. Saya tak mau jadi orang egois, enggan berbagi sama sesamanya.” (Ki Guna Watoncarita)


