DISAMPING bersiap-siap menyambut liburan Natal dan tahun baru 2024 dengan sukacita, warga di sejumlah wilayah Indonesia hendaknya juga tidak mengabaikan potensi banjir rob dan cuaca ekstrim.
BMKG mengingatkan, potensi banjir rob termasuk di utara Jakarta diprediksi akan terjadi antara 26 November sampai 2 Desember disebabkan oleh fenomena fase pasang maksimum permukaan air laut berbarengan dengan bulan purnama.
Potensi banjir pesisir atau rob yag merupakan imbas fenomena fase bulan perigee, kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto (Kompas, 28/11) , terjadi saat bulan berada di titik terdekat bumi sehingga meningkatkan pasang air laut.
Berdasarkan dta prediksi muka air dan pasang surut , banjir rob terjadi di sejumlah wilayah pesisir Sumatera Utara (23 Nov. – 1 Dec.), Bandarlampung (27 Nov. 1 Dec.), dan pesisir selatan Banten (25 – 30 Nov.)
Potensi banjir juga bakal terjadi di wilayah utara Jakarta (26 Nov. – 2 Dec.), sudah terjadi di pesisir utara Jawa Tengah (Kota Semarang, Demak, Pekalongan, Brebes, Kab. Tegal dan Pemalang (19 Nov. – 23 Nov)., dan di sekitar pesisir Maluku (25 – 30 Nov.).
Selain banjir rob, dalam sepekan terdapan kemungkinan terjadi cuaca ekstrim dan hujan lebat akibat sejumlah fenomena atmosfir yang terjadi yakni adanya Maiden Julian Oscilation (MJO), gelombang Equatorial Rossby (ER), penguatan angin monsun Asia dan munculnya bibit sikon tropis 99W di Laut Natuna utara dan anomali positif suhu muka laut di LCS, Selat Karimata, Selat Makasar dan Laur Sulawesi hingga tiga derajat Celsius..
MJO adalah gelombang atau osilasi-non musim di lapisa troposfer yang bergerak dari barat ke timur wilayah Indonesia pada periode osilasi kurang dari 30 – 60 hari yang diprediksi terus aktif hingga awal Desember.
Sementara gelombang ER terpantau aktif di wilayah Indonesia tengah hingga akhir November dan sedangkan penguatan angin Monsun asia terindikasikan terjadi di atas Laut China Selatan (25 knot), sedangkan bibit siklon tropis W99 memicu pembenrukan daerah pertemuan dan perlambatan angin.
Cermati semua indikator cuaca guna secepatnya melakukan mitigasi demi mengurangi risiko bencana.





