Bantu UNHCR, DD Bangun Sekolah Pengungsi

Proses pembangunan sekolah untuk pengungsi rohingnya di Aceh/ Foto:DD

TANGERANG SELATAN –  Namakuu… plok plok ….Ahmad…, umurku… plok plok… tujuh tahun… Yes Yes Hore.

Anak-anak lain menyahut “horeeee”. Keceriaan dihembuskan anak-anak pengungsi yang bermukim di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Mereka bernyanyi, membaca puisi, dan bermain game di halaman kantor Dompet Dhuafa, Tangerang Selatan.

Mereka ini adalah anak-anak refugee  (pengungsi) yang mencari suaka dan keamanan, kerena di negara asalnya sedang dilanda erang.

Anak-anak pengungsi tersebut berasal dari berbagai negara. Mereka berasal dari Yaman, Somalia, Irak, Sudan, Afganistan,  dan Ethiopia.

“Mereka sedang berdiaspora mencari suaka dan perlindungan, di negara asalnya kan sedang kacau karena perang, konflik, perbedaan agama, politik, dll,” ujar Dwi Tanty Kurnianingtyas selaku Koordinator School For Refugee (SFR).

Mereka datang di bawah naungan United Nation High Comissioner for Refugee (UNHCR). Saat ini, Dompet Dhuafa menjadi perpanjangan tangan dari UNHCR untuk mendidik anak-anak pengungsi yang tinggal di Indonesia.

“UNHCR butuh mitra di Indonesia untuk mendidik anak-anak pengungsi agar mereka kembali bersemangat dan berani untuk mengejar mimpi mereka,” ucap Tanty.

Anak-anak pengungsi tersebut merupakan siswa program School for Refugees Dompet Dhuafa yang didirikan Sejak Februari 2016 lalu.

Sekolah ini hadir sebagai program dampingan untuk para pengungsi dalam memenuhi hak dasarnya untuk memperoleh pendidikan.

“Materi utama yang dihadirkan dalam School for Refugees adalah pendidikan bahasa dan literasi. Hal ini memfasilitasi pengungsi agar mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Juga ada materi berhitung,” kata Tanty.

Tanty menambahkan, School for Refugees saat ini fokus hanya kepada literasi dan bahasa. Perbaikan bahasa nantinya akan membantu anak-anak pengungsi untuk masuk sekolah-sekolah lokal yang ada di Indonesia.

“Syarat untuk masuk sekolah lokal di Indonesia kan harus bisa baca dan tulis bahasa Indonesia. Anak-anak ini nantinya akan mengisi bangku-bangku kosong yang ada di sekolah lokal. Semuanya gratis,” tuturnya.

Sejak sekolah pengungsi  ini didirikan, Dompet Dhuafa terus mengupayakan advokasi ke pemerintah agar-agar anak-anak pengungsi mendapat keringanan untuk masuk ke sekolah-sekolah lokal.

“Kami terus mengupayakan advokasi ke pemerintah. Insya Allah, tahun pelajaran depan ini, anak-anak sudah bisa belajar di sekolah-sekolah lokal,” ujarnya.

Saat ini School for Refugees sudah didirikan di 3 tempat, 1 ada di Kota Aceh untuk pengungsi Rohingnya, 2 lagi ada di Jakarta dan Tangerang untuk pengungsi  dari Timur  Tengah dan Afrika.

“Untuk yang di Jakarta kami mempunyai tempat di Manggarai, di Tangerang Selatan ada di Ciputat sini,” ucap Tanty. Murid di Ciputat sendiri berjumlah 25 orang, dan di Manggarai ada 50 orang siswa.

Advertisement