PALU – Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, dr Ahmad Yurianto merekomendasikan lokasi terdampak likuifaksi seperti di Petobo, Palu Selatan, Provinsi Sulawesi Tengah, ditimbun tanah.
Cara tersebut direkomendasikan karena ddiduga masih banyaknya jenazah yang belum ditemukan.
“Cara terbaik adalah menimbun dengan tanah seperti selayaknya memakamkan jenazah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,” kata Ahmad, dilansir Antara, Jumat (19/10/2018).
Menurutnya, pertimbangan terbaik dalam penanganan jenazah yang belum diketemukan setelah hari ke tujuh adalah dengan tetap memakamkan di lokasi yang diduga jenazah itu berada.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah tersebut, mengingat kemungkinan untuk bisa menemukan jenazah dalam keadaan utuh sangat kecil. Penggalian jenazah juga berisiko terhadap penyebaran dan penularan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan lingkungan sekitar.
Hasil analisis sementara pemetaan secara spasial menunjukkan bahwa wilayah terdampak likuifaksi pascagempa Sulteng menyebabkan pengangkatan dan amblesan di Balaroa Palu Barat.
Jumlah perkiraan rumah terdampak mencapai 1.045 unit dengan luasan wilayah terdampak mencapai 47,8 hektare.
Sementara jumlah perkiraan rumah terdampak di Petobo, Palu Selatan mencapai 2.050 unit dengan luas wilayah 180 hektare, sedangkan di Jono Oge, Sigi, mencapai 366 unit dengan luas wilayah 202 hektare.
Likuifaksi merupakan fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, seperti getaran gempa bumi.





