SEKITAR 3 minggu lalu penulis menghadiri undangan manten di Depok. Yang menarik, pengantin lelakinya orang Barat, Andre Hanish, dari Jerman. Ketika melihat para tamu memasukkan amplop ke sebuah kotak, dia bertanya dalam Bahasa Indonesia patah-patah, “Apa itu maksudnya, kok amplop uang dimasukkan kotak?”. Sambil berbisik si pengantin wanita bilang, “Itu namanya uang sumbang!” Dia terheran-heran, orang jadi pengantin dapat sumbangan?
Orang Jerman heran, bagi kita orang Indonesia, kadang uang sumbang itu bikin pusing. Sebab meskipun namanya tradisi, bikin pusing bagi oang yang kantongnya sedang tak berisi. Sebab di kala bulan baik, sehari bisa menerima 3-4 undangan. Lebih-lebih bila dirinya orang terpandang bisa lebih. Penulis punya sahabat yang jadi dekan di universitas di Yogyakarta. Katanya, “Pusing gaji sebulan bisa ludes hanya untuk nyumbang!”
Sebetulnya tidak usah terlalu pusing. Sebab tidak menghadiri undangan juga takkan dijemput paksa. Cuma orang demikian dianggap ora lumrah uwong. Dan kita hidup dalam bermasyarakat memang harus memiliki kepedulian pada tetangga, handai tulan baik dalam suka maupun duka. Ketika ada kematian, segeralah takziah, ketika dundang mantenan haruslah datang. Ini termasuk bagian sebagai menjaga kehormatan. kita atau orang Jawa menyebutnya sebagai njaga praja.
Amplop sumbangan tidaklah harus besar. Tapi memang sesama kenalan atau tetangga, tingkat keakraban juga banyak mempengaruhi nominal isi amplop. Sumbang untuk keluarga dekat pasti lebih gede ketimbang pada tetangga. Pada tetanggapun juga masih dilihat perilaku tetangga tersebut. Jika sama tetangga saja di jalan dia tak mau tegur sapa, ada tetangga meninggal tak mau takziah, kerja bakti tak pernah ikut, diamplopi uang kertas selembar gambar Dr. G.S.S.J. Ratulangi juga sudah bagus.
Tapi di jaman internet yang serba praktis ini, kini banyak orang mantu mengundangnya hanya pakai WA. Dulu di kampung-kampung Jateng selalu didatangi oleh pihak pengundang meski sekedar utusan. Lalu dengan bahasa Jawa halus mengatakan, “Sowan kula sepindhah ngaturaken kasugengan dan bla bla … barulah undangan atau uleman diberikan.
Sekarang, sudah hanya melalui WA, kadang ada pula tambahan kata-kata yang nyakitin dan tidak etis, “Bila berhalangan hadir bisa transver sumbangan ke nomer rekening BNI, BCA, BRI atau bank apa saja, nomer sekian sekian. Kalau begini bagaimana mau menghindar dengan alasan waktu berbarengan, lha wong masih juga dikejar lewat rekening bank. Tapi ini benar-benar terjadi.
Bahkan mulai lazim pula, saat tamu datang mengisi buku tamu, langsung amplopnya oleh petugas yang cantik-cantik itu diberi nomer dari daftar hadir. Ada pula yang begitu tamu datang dan mau memasukkan amplop ke kotak, ternyata makah langsung dibuka dan amplopnya dimasukkan ke keranjang sampah. Jika si tamu memberikan amplop kosong akan langsung ketahuan.
Cara-cara itu katanya untuk mencatat, bila si tamu suatu saat punya hajatan yang sama, gentian akan disumbang dengan jumlah yang sama. Jadi itung-itung mengembalikan dana pinjaman. Lha kalau si penyumbang sudah tak punya anak gadis dan perjaka? Impas deh, karena tak perlu lagi memulangkan sumbangan itu.
Dan jangan kaget, sekarang sudah menjadi hal biasa, begitu resepsi bubaran kotak sumbangan segera diamankan ke tempat yang benar-benar aman. Sebab sekarang banyak kejadian, banyak kotak sumbangan hilang misterius. Si pencuri menyamar dengan pakaian orang resepsian, bisa pakai blangkon dan beskap, tapi diam-diam langsung membawa kabur kotak sumbangan itu. Tak percaya, silakan googling, sekarang banyak kejadian seperti itu.
Paling sadis, bukan hanya kotak amplop resepsi, sedangkan amplop keluarga orang meninggal juga ada yang tega menelateni. Saat meninggalkan Jaksa Agung Baharudin Lopa tahun 2001, amplop dalam baskom yang ditutup kain itu diberitakan diemba maling juga. Padahal almarhum orangnya begitu baik dan jujur masih ada juga yang tega menjahatinya. Allah pasti akan membalas-Nya setimpal akan perbuatan si maling tersebut. (Cantrik Metaram)





