PERANG brubuh Ngalengka telah usai pasca terbunuhnya Prabu Dasamuka. Prabu Rama – Dewi Sinta juga telah kembali ke Ayodya, disusul dengan serah terima jabatan Barata selaku Plt kepada Ramawijaya. Terompah Prabu Dasarata sebagai simbol kekuasaan Ayodya, secara simbolis diserahkan kembali ke Rama. Sedangkan Barata Hormat cukup pakai sandal Munarman bolehnya beli lewat online.
Perang Ngalengka memperebutkan Dewi Sinta itu berlangsung kurang lebih satu Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Itu artinya usia Barata bertambah lima tahunan dalam status bujang tua karena selama jadi Plt raja Ayodya memang sengaja ngejomblo. Alasannya negarawan banget, biar fokus memimpin negara. Sebab biasanya permaisuri raja keinginannya macam-macam, ada yang minta diputer (digeser)-nya Taman Sriwedari, bahkan ada yang minta dibangunkan Taman Mini segala.
“Kangmas Prabu Rama, kasihan adikmu si Barata Hormat itu itu, sudah usia 35 tahun belum juga menikah. Coba dibujuk kangmas, biar dia jadi lelaki normal, jangan kayak kakaknya yang lain Lesmana,” saran Dewi Sinta kepada sang suami.
“Benar adinda Sinta, Barata memang juga sudah punya pacar. Tapi katanya nanti habis Lebaran 1442 H mau diresmikan, sambil menunggu selesainya wabah Covid-19. Namanya doinya Dewi Antrakawulan…..” Jawab Prabu Rama.
“Apa dia adiknya artis Wulan Guritno kangmas?”
“Auah gelap…..,” jawab Prabu Rama yang rupanya jadi raja gaul, maklum di era milenial.
Berkat disiplin nasional ketat rakyat Ayodya, pandemi Corona di negeri itu bisa mereda. Sebab meski negeri itu masuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Gangga, rakyat Ayodya tak punya tradisi masal mandi bersama di sungai Gangga menjelang puasa. Walhasil tak ada kluster-kluster baru sampai Lebaran usai. Rakyat Ayodya juga patuh habis, diminta tidak mudik selama Lebaran, mereka benar-benar tak ada yang mudik. Tak ada yang ngakali petugas dengan nyewa mobil ambulans nguing-nguing……
Masalah baru muncul, ketika Dewi Antrakawulan minta perkawinanannya nanti dipaesi Dewi Drupadi permaisuri Ngamarta sementara MC-nya RM Sriyono dari Tangsel. Soal MC-nya nggak masalah, tapi menghadirkan Dewi Drupadi kan bukan perkara gampang. Pertama, Drupadi tidak pernah jadi juru rias manten, dan kedua: Prabu Puntadewa belum tentu mengizinkan.
“Katanya Prabu Puntadewa itu raja yang sosial banget. Kalau nyumbang pembangunan mesjid sampai miliaran, karena tak rela ada pengurus mesjid sampai nyegati pengendara di jalan-jalan.” Kata Barata Hormat memberi alasan pada kakanda Prabu Ramawijaya.
“Itu kan tinggal keluarkan dana APBN, asal DPR setuju, selesai. Tapi pinjamkan istri hanya untuk jadi juru rias, kan pelecehan. Kalau pengantin lelakinya naksir si juru rias kan kaco.” Jawab Prabu Rama.
Dewi Sinta kemudian mencoba membesarkan nyali Barata. Misalkan Prabu Puntadewa menolak, kan bisa dilobi lewat Prabu Kresna Dwarawati. Sepanjang pengetahuannya, raja Ngamarta ini selalu tunduk dan mengikuti saran kakak sepupunya, Prabu Rama yang satu madzab dengan Prabu Kresna. Sama-sama titisan Wisnu pastilah lebih mudah urusan lobi-melobi.
Boleh juga masukan Ibu Negara ini. Maka Anoman yang masih dipercaya sebagai Menhan Ayodya, ditugaskan untuk memboyong Dewi Drupadi sari istana Indraprasto. Sayang Anoman ini meskipun sangat tinggi kesadaran bela negaranya, tapi kurang sekali pengetahuan umumnya. Sudah nggak hafal teks Pancasila, tak tahu pula di mana letak negeri Ngamarta itu.
“Istana Indraprasto itu di mana, Sinuwun Prabu Rama? Saya tahunya Indro Warkop saja Sinuwun.” Kata Anoman jujur sekali.
“Payah lu, kebanyakan nonton film lama di Youtube ya?”
Demikianlah, Hanoman berangkat juga ke Ngamarta, ini mengingatkan pengalamannya dulu saat menjadi duta ke negeri Ngalengka. Di sana sampai dibakar segala, gara-gara nyelonong ke Taman Argasoka ketemu Dewi Sinta. Semoga orang Ngamarta tak galak-galak macam orang Ngalengka. Tega bakar orang hanya karena urusan wanita. Kala itu Prabu Dasamuka memang sedang emosi. Dewi Sinta diajak chating porno nggak mau meladeni, katanya nggak enak sama Kak Ema.
Tiba di Ngamarta Anoman langsung menjalani test genose gratis karena kapasitasnya sebagai tamu negara. Setelah itu baru dipersilakan ketemu Prabu Puntadewa. Mesti dia membawa surat pengantar dari raja jujunganya di Ayodya, para keluarga Pendawa belum kenal betul siapa Anoman ini.
“Masa Sinuwun Ngamarta nggak kenal saya, dalam perang Ngalengka nama saya ngetop banget.” Kata Anoman berbangga diri.
“Siapa ya? Saya tahunya hanya Dasamuka, Prabu Rama dan Sinta istrinya.” Jawab Prabu Puntadewa.
“Kalau dulu Sinuwun sewaktu kecil suka gambar umbul, nomer saya 32.” Anoman malah berteka teki.
“Oo, kalau begitu sampeyan Anoman ya?” tebak Prabu Puntadewa sambil tertawa lebar.
“Betul, lha Prabu Rama itu nomer 33…..”
“Sampeyan ternyata masih gagah perkasa, masih rosa-rosa macam Mbah Marijan. Apa jamunya?”
“Saya tiap pagi selalu minum temulawak, Sinuwun.”
Prabu Puntadewa kembali tersenyum, rupanya Anoman meniru Presiden RI. Atau malah Presiden RI yang meniru Anoman. Faktanya Anoman lebih dulu terkenal sebagai kera nan sakti, sangat gesit dan lincah. Di masa perjuangan melawan Ngalengkadiraja, Anoman sangat ditakuti prajurit Ngalengka. Jangankan memukul, baru mbekis saja sudah bikin bulu kuduk berdiri. Berkat temulawak kah itu?
Setelah ditanya asal-usulnya, barulah Anoman menjelaskan maksud kedatangannya. Prabu Puntadewa pun heran, memangnya di Ayodya tak ada juru rias pengantin yang handal sekelas Bennu Serumba yang tempo hari make up Aurel Hermansyah? Kenapa musti Dewi Drupadi yang awam soal beginian.
“Dewi Antrakawulan tahu itu semua, Sinuwun. Tapi dia tak mau juru ris lain kecuali permaisuri Ngamarta. Bayar berapa pun oke, kata Raden Barata calon suaminya….” kata Anoman menjelaskan.
“Ya sudah, saya konsultasi sama istriku dulu.” Jawab Prabu Puntadewa pada akhirnya. (Ki Guna Watoncarita)



