SEBETULNYA Prabu Puntadewa ini termasuk anggota STI (Suami Takut Istri), sehingga jarang bikin aturan yang berbeda dengan nilai-nilai kelaziman. Jangankan memerintahkan istri kursus tata rias pengantin, minta istri kursus menjahit bersama ibu-ibu PKK –Yuliana Jaya saja nggak pernah. Karenanya dia pesimis bisa memaksa istrinya untuk jadi juru rias pengantin di negeri orang. Dan itu ternyata benul (benar dan betul).
“Kenapa tidak Sunuwun tolak langsung saja permintaan tamu aneh-aneh itu. Masak ibu negara kok jadi juru rias pengantin, yang bener aja….” kata Dewi Drupadi agak ketus.
“Aku kan nggak mau bikin kecewa orang, diajeng! Mau ya? Nanti dibantu para bidadari dari kahyangan.” Bujuk Prabu Puntadewa.
“Nggak mungkin Sinuwun! Para bidadari kahyangan sedang sibuk melayani almarhum Tengkuzul dari Medan lewat Pakanbaru.”
Begitulah, Dewi Drupadi kali ini tak bisa diajak kompromi. Dianya tetap mogok menjalankam misi kemanusiaan ke manca negara. Prabu Puntadewa yang malu karena kadung janji pada tamunya, segera konsultasi secara virtual pada ke-4 adiknya di grup WA “Pendawa Lima”. Dicapai kesepakatan: kirim saja kendaga dan dibilang isinya Dewi Drupadi. Pasti percayalah utusan Prabu Ramawijaya tersebut. Citra Prabu Puntadewa kan bisa dibuat jaminan, termasuk agunan di bank.
Sudah dua jam Anoman menunggu di ruangan Dana Pradapa, tapi belum juga ada kabar. Padahal sebagai tamu negara mestinya kan dijamu secara mewah. Ini tidak, hanya disediakan dispenser dan gelas platik untuk pencet sendiri. Yang namanya snack, sama sekali tidak tersedia, kecuali hanya disediakan kacang garuda, mentang-mentang Anoman berwujud kera.
“Maaf kakang Anoman, agak lama menunggu ya. Maklum, permohonan sampeyan lama dibicarakan oleh keluarga Pendawa Lima.” Ujar Prabu Puntadewa berbasa-basi.
“Nggak papa Sinuwun, yang penting hasilnya positip buat negeri Ayodya,” jawab Anoman berlagak sabar, padahal batinnya gondok habis.
“Jangan positip kakang Anoman, kasihan rakyat Ayodya. Kalau dikarantina semua kan gawat…..” Jawab Prabu Puntadewa seperti tim Satgas Covid-19 saja.
“Ternyata saya baru tahu, Sinuwun Puntadewa seperti Cak Lontong juga ya.”
Tak lama kemudian nampak sejumlah satpam datang menggotong kendaga (peti panjang) yang bentuknya mirip peti jenazah, lalu ditaruh di depan Kapi Anoman. Tentu saja dia terkaget-kaget, ngapain korban Covid-19 dibawa ke ruang Dana Pradapa segala? Jangan-jangan negeri Ngamarta termasuk zona merah. Anoman pun merinding bulu kuduknya, jika sepulang dari Ngamarta terpapar Corona kan gawat, dipaksa masuk karantina.
“Apa maksudnya Sinuwun, korban Corona dibawa ke sini?” Anoman bertanya penasaran.
“Bukan, ini kendaga sebagai peti kemasnya Dewi Drupadi istriku.” Jawab Prabu Puntadewa.
Melihat Kapi Anoman terbengong-bengong, Prabu Puntadewa lalu menjelaskan bahwa kemasan seperti itu merupakan APD (Alat Pelindung Diri) versi Ngamarta. Diharapkan tiba di Ayodya nanti Dewi Drupadi terbebas dari virus Covid-19, sehingga tugas sebagai juru rias pengantin lancar tanpa kendala. Cuma Prabu Puntadewa berpesan, kendaga ini jangan sampai dibanting-banting, karenanya ditulisi pula: dont fragile!
Kapi Anoman kemudian minta tambang plastik dan diikatkan pada kendaga dimaksud. Bila kendaga itu tadinya digotong 4 Satpam, di tangan Anoman kendaga itu hanya ditenteng saja. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada Prabu Puntadewa, Kapi Anoman njejak bumi (menghentak bumi) dan terbang mengangkasa dengan ringannya. Dia terbang lurus ke arah utara, memilih merabas awan-awan comulus, ketimbang ketemu awan gelap dengan resiko disambar petir. Anoman memang sangat tahu diri, karena dirinya memang bukan anak cucu Kiageng Sela.
“Anjrit, bawa peti kemas Anoman seperti bawa tas kresek saja.” Ujar seorang Satpam terkagum-kagum.
“Dia kan punya ajian blabak pengantol-antol, sehingga mampu angkat barang-barang berat. Tapi kalau pas ngantuk, angkat kepala sendiri nggak mampu.” Komentar Satpam yang lain.
Kapi Anoman bersama peti kendaga-nya berhasil mendarat dengan selamat, dan langsung menghadap Prabu Ramawijaya – Dewi Sinta. Tentu saja Prabu Rama terheran-heran, ditugaskan jemput Dewi Drupadi kok dapatnya peti mati. Apaan tuh? Tapi setelah Anoman menjelaskan duduk dan berdirinya persoalan, Prabu Rama barulah manggut-manggut macam Pak Harto.
Peti pun lalu dibuka gemboknya. Begitu peti terbuka, yang muncul bukan Dewi Drupadi, melainkan Gatutkaca ksatria Pringgodani, lengkap dengan kumisnya ya sekepel-kepel besarnya. Semuanya terkaget-kaget. Demikian pula Prabu Rama. Beliaunya bukan saja merasa kaget, tapi juga terhinakan. Masak seorang raja yang berdaulat kena prank, dibuat mainan raja negeri lain.
“Kurang ajar lu ya! Emangnya gua raja apaan?” omel Prabu Rama, dan begitu marahnya sang raja, panah Guwa Wijaya dilepaskan, wush……
“Sabar Sinuwun, tahan emosi….!” tegur sang istri, Dewi Sinta.
Yang terdengar kemudian hanya suara jerit Gatutkaca kesakitan, karena betisnya tanpa ampun ditembus pusaka kahyangan. Kesatria Pringgodani pun kabur, terbang oleng ke angkasa kembali ke Ngamarta, gara-gara tak ada keseimbangan di kakinya. Badan pun terasa panas dingin, jangan-jangan terkena tetanus.
Mujur sekali nasib Gatutkaca. Ketika tiba di pasewakan Ngamarta, kebetulan Prabu Kresna raja Dwarawati juga hadir. Karenanya beliaunya melihat betapa kesatria Pringgodani ini jalan kedingklangan (pincang) dengan mimik wajah menahan sakit. Prabu Kresna tersenyum. Gatutkaca yang katanya otot kawat balung wesi, pada kenyataannya pakai sepatu saja lecet.
“Kenapa kaki Gatutkaca? Kamu pakai sepatu baru ya, sampai lecet?”
“Bukan begitu Pakde Kresna, ini kena panah Prabu Rama, karena dia marah diprank Pakde Puntadewa.” Jawab Gatutkaca apa adanya.
Lewat kacamata batinnya Prabu Kresna melihat, panah Guwawijaya masih berada dalam betis Gatutkaca. Dioperasi lewat Rumah Sakit Mitra Keluarga Kaya, Gatutkaca tak punya kartu BPJS-Kes, di samping secara medis takkan nampak oleh sinas X-Ray. Karenanya jalan satu-satunya adalah, harus dilawan pakai panah Cakra miliknya, yang sama-sama juga made in kahyangan.
“Nggak kasihan kaka Prabu, penyakit Gatutkaca jadi dobel dong!” protes Puntadewa.
“Peracayalah sama aku, hanya ini cara penyembuhannya.” Jawab Prabu Kresna.
Benar saja! Setelah panah Cakra masuk ke betis Gatutkaca, tak lama kemudian keluar bersama panah Guwa Wijaya. Panah Prabu Rama dikejar oleh panah Prabu Kresna yang sama-sama titisan Betara Wisnu. Prabu Kresna segera ikut terbang, mengawal keberadaan panahnya, sampai lupa pamitan Prabu Puntadewa. Adapun Gatutakaca, setelah kedua panah sakti itu keluar dari betisnya, mendadak sehat kembali. Ada sedikit luka berdarah, cukup diberi Betadin.
Perjalanan Prabu Kresna membuntuti panah Cakra, pada akhirnya tiba di kerajaan Ayodya. Karena sama-sama titisan Wisnu, keduanya pun cepat akrab, meski beda generasi. Tapi Prabu Rama sempat protes, kenapa raja Ngamasrta ini, dimintai tolong malah ngeprank.
“Maafkan adinda raja Ngamarta sinuwun. Dewi Drupadi memang tak bisa jadi juru rias pengantin. Justru kalau nggak keberatan, saya sangat mampu urusan begituan.” Kata Prabu Kresna kemudian.
“Okelah kalau begitu.”
Ternyata Dewi Antrakawulan bisa dilobi oleh Prabu Kresna, sehingga dia siap dinikahkan dengan Raden Barata. Keduanya pun tak lama kemudian telah sah menjadi suami istri. Sebagaimana lazimnya pengantin baru, malam harinya Barata bisa “nuthuk” Dewi Antrakawulan, yang dalam bahasanya wong Solo berarti hubungan intim. (Ki Guna Watoncarita-tamat)



