Baru Tes, Calon ASN Sudah Curang

Sebanyak 202 peserta tes calon ASN dari Makassar, Sulawesi Selatan dan 23 dari Lampung melakukan kecurangan dan diduga hal sama terjadi di wilayah-wilayah lain. Belum jadi ASN saja sudah tidak jujur, apa yang diharapkan dari mereka?

Sebanyak 202 peserta tes PNS di Makassar, Sulawesi Selatan dan 23 di Lampung terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) karena diduga berbuat curang saat mengikuti tes  melalui Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (SSCASN).

Kejadian itu dinilai publi sangat ironis pada saat Presiden Jokowi mencanangkan nilai-nilai dasar (core values) “berAHLAK” dan employer branding ASN “Bangga Melayani Bangsa” yang diluncurkan 27 Juli lalu.

Core Values “berAHLAK” yang kepanjangannya “Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolabotarif diharapkan akan menciptakan budaya profesional di kalangan ASN dalam menjalankan tugasnya.

Sementara pengamat kebijakan publik, Trubus Ardiansyah menilai, dugaan kecurangan yang terjadi pada tes PNS tersebut merupakan fakta, sehingga jika terbukti, pelakunya harus diproses secara hukum.

Trubus juga menyebutkan, jika yang tertangkap cuma beberapa orang saja, bisa disebut kebetulan, tetapi kalau jumlahnya sudah ratusan, patut diduga, kecurangan juga terjadi di tempat-tempat lainnya.

Menurut dia, pengusutan terhadap perkara tersebut harus komprehensif, karena bisa terjadi di wilayah lain melibatkan “orang-orang dalam” secara terstruktur dan massif.

Kecurigaan panitia seleksi CPNS tersebut muncul saat sejumah peserta bisa menjawab soal hanya dalam waktu rata-rata delapan detik karena dibantu dari “luar” melalui sistem remote access.

“Bagaimana bisa lahir para ASN yang unggul dan berdaya saing tinggi serta melayani, jika belum apa-apa saja mereka sudah berbuat curang,” tanya Trubus. Tes digelar oleh Kemenpan-RB dan BKN serta dibantu pengawasannya oleh sejumlah instansi lain seperti BPKP, BPPT dan tim siber.

Sebaliknya, Deputi Bidang Sumberdaya Manusia Kemenpan-RB Alex Denni berkilah, tes calon PNS berbasis komputer (Computer Added Test – CAD) sudah diterapkan secara massif sejak 2017 sehingga setiap upaya penyimpangan mestinya bisa diminimalisir.

Sebelumnya, sistem tes ANS dilakukan manual sejak pendaftaran dan proses berikutnya,  sehingga kesalahan mudah terjadi, namun  setelah CAD diterakan, berbagai kendala dan penyimpangan bisa ditekan.

“Namun secanggih apapun, suatu sistem bisa saja dijebol. Contohnya di AS, kurang apa canggih sistem keamanannya, toh bobol juga,” (maksudnya peristiwa 11 September-red).

Mengenai ada tidaknya upaya peretasan, menurut dia, dugaan sementara, ada oknum yang secara fisik melakukan intervensi, karena komputer tiga hari sebelumnya sudah diset dan disterilisasi.

Usut tuntas kecurangan dalam tes CASN ke akar-akarnya, juga kemungkinan terjadi di wilayah-wilayah lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement