Bea Cukai Kok Bau Cuka

Pakaian seragamnya saja, Kepala Bea Cukai Eko Darmanto dan Andhi Pramono sudah glamour bak raja diraja Malaysia.

TERNYATA pejabat Bea Cuka itu tak hanya glamour seragamnya, tapi juga glamour hartanya. Ini semua terungkap gara-gara ulah anak pejabat Kanwil pada Ditjen Pajak. Awalnya mereka tenang-tenang saja menikmati kekayaannya. Tapi setelah Kementrian Keuangan mulai menelisik kekayaan pegawainya, nah….. sejumlah pejabat Ditjen Bea Cukai pun ikut tersorot. Walhasil, citra Bea Cukai mendadak jadi bau cuka!

Tahu kan Anda cuka? Cairan itu sama asemnya dengan blimbing wuluh dan ketiak orang seminggu tidak mandi. Cuma bedanya, betapapun asemnya blimbing wuluh, dia sama sekali tidak berbau. Tapi cuka, sudah asem rasanya, baunya pun juga menyengat. Apa lagi ketiak, jangan tanya! Maka ada yang bilang, jika repot bikin asinan timun, kempit saja itu barang di ketiak, langsung sudah jadi asinan dia!

Nah, minggu-minggu ini sejumlah pejabat bea cukai mendadak bau cuka, setelah harta kekayaannya diselidiki pihak Kementria Keuangan berkat informasi dari para netizen di medsos. Sebetulnya masih lebih banyak pegawai Bea Cukai yang baik, tapi setelah ulah Kepala Bea Cukai Yogyakarta Eko Darmanto dan Kepala Bea Cukai Makasar Andhi Pramono dikuliti netizen, jadilah rusak susu sebelanga gara-gara nila setitik.

Citra Bea Cukai di mata publik pada umumnya, selalu berkaitan dengan barang selundupan baik di pelabuhan maupun bandara. Sederhananya, setiap barang masuk dari luar negri mesti bayar pajak yang istilahnya disebut: bea cukai. Memang ada barang-barang tertentu yang bebas, tapi pada umumnya terkena pajak. Nah, agar bisa bayar pajaknya murah, importir bermain dengan oknum-oknum Bea Cukai.

Tapi banyak juga importir yang maunya gratisan. Agar tak terkena cukai, ngakunya kirim barang A, tapi dimasukkan pula barang B. Nah barang selundupan ini jika ketahuan disita negara. Tapi karena oknum-oknum Bea Cukai-nya ada yang nakal, barang selundupan itu bisa beredar bebas. Gara-gara inilah oknum-oknum Bea Cukai bisa hidup makmur berkat penjualan barang haram.

Apakah pejabat-pejabat Bea Cukai juga bermain seperti itu, nggak tahulah! Yang jelas pejabat Bea Cukai banyak yang hidup glamour, seglamour kostum atau pakaian seragam yang dikenakan. Lihat saja tampilan Eko Darmanto Kepala Bea Cukai Yogyakarta dan Andhi Pramono Kepala Bea Cukai Makasar, di bajunya begitu banyak tanda pangkat dan asesorisl. Mengingatkan pada kostum Yang Dipertuan Agong, raja diraja Malaysia.

Menteri saja yang jabatannya jauh lebih tinggi ketimbang Dirjen Bea Cukai dan Kepala Kanwil Bea Cukai; “seragam”-nya hanya batik dan baju putih hitam, meniru gaya presidennya. Masih keren mentri-mentri di era Orde Baru, semua pakai hem safari. Meski kalau sudah bekas, banyak pula safari eks pejabat itu kemudian dipakai telesan macul para petani.

Jika pejabat Bea Cukai tampil glamour sebatas pada baju seragamnya, bagi rakyat sih bodo amat! Tapi ketika keglamouran itu diwujudkan dalam keseharian dalam keluarga, terjadilah kecemburuan sosial. Misalnya Eko Darmanto tampil di medsos naik moge, bahkan kabarnya punya pesawat jet pribadi.

Anak gadis Andhi Pramono yang kuliah di UI, juga suka pamer keglamourannya. Pakai baju kaos saja yang harganya Rp 22 juta, celana harga Rp 1 juta sementara jepitan rambut sampai Rp 2 juta. Sedangkan ayahnya yang Kepala Bea Cukai di Makasar itu, punya 2 rumah di Cibubur yang bangunannya sangat mewah dan atapnya menyaingi Gedung Putih di AS.

Berapa harta kekayaan Andhi Pramono yang tercatat di LHKPN? Tidak kurang dari Rp 13,7 miliar, sementara Eko Darmanto sebanyak Rp 15,7 miliar. Bila dibanding dengan Rafael Alun Trisambodo memang kalah jauh. Tapi semuanya sama, dari unsur Kementrian Keuangan. Tugas mereka sesungguhnya menggali dan mengelola keungan negara, tetapi oknum-oknumnya malah menggerogotinya.

Seperti yang diungkap Menko Polhukam Mahfud MD, perputaran dana pada pejabat Kementrian Keuangan berbasis pencucian uang jumlahnya mencapai Rp 300 triliun. Sementara dari 69 pegawai Kemenkeu yang kekayaannya tidak wajar, mayoritas dari Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai. Banyak pula pegawai Kemenkeu yang bermain saham dan bikin perusahaan atas nama istri.

Sekarang ASN di semua kementrian yang tampil hedonis dalam sorotan pemerintah gara-gara mereka ditelanjangi netizen di medsos. Setelah Kemenkeu, giliran Menteri ATR-BPN Hadi Cahyanto juga akan memeriksa Kepala BPN Jakarta Timur, Sudarman Harjosaputro, karena hartanya sampai Rp 14,7 miliar.

Para netizen memang lebih jeli karena punya sejuta mata. Tunggu saja, mungkin  cuitan mereka akan sampai pula kepada para pejabat Kejaksaan, dan Kehakiman. Di tahun 1990-an ada Kepala Pengadilan Negeri di Jakarta diolok-olok ponakannya di Kebumen (Jateng) soal harta yang dimiliki. Jawaban sang paman, “Ora usah kakehan omong, njaluk apa kowe (jangan banyak mulut, minta apa kamu)?”

Begitulah, orang Pajak, Kejaksaan, Bea Cukai, mayoritas kaya-kaya. Tapi di kampung penulis, Mbah Mangku yang jadi Tukang Bea di Pasar Purwodadi (Purworejo) hidupnya biasa-biasa saja. Sama-sama pegawai di lembaga bea, tapi beda nasib. (Cantrik Metaram).

Advertisement