INGAT lagu anak-anak “Naik becak” karya Pak Kasur? Dalam lagu itu nampak betapa cerianya seorang anak, tamasya keliling kota dengan naik becak. Itu duluuu…., Jakarta sebelum tahun 1970-an. Setelah Gubernur Ali Sadikin, becak dilarang keras. Tapi anehnya, secara sporadis masih suka muncul bacak-becak di gang-gang Ibukota. Jika ditertibkan Satpol PP, para tukang becak itu malah terkesan nantangin, “Becak-becak coba tangkap saya!”
Terakhir 25 Januari lalu, sejumlah becak ditangkap dan diangkut Satpol PP dari Jalan Kebon Bawang XII, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Para astronout becak itu bukannya menyadari akan kesalahannya, justru ngomeli petugas Satpol PP. Katanya, pemerintah tebang pilih pada rakyatnya. Tukang becak mencari sesuap nasi, dikejar-kejar dan ditangkap. Sedangkan koruptor yang korupsi miliaran, banyak yang dibiarkan saja. Katanya, “Yang makan duit haram dibiarkan, sedangkan kami yang cari uang halal demi keluarga, dikejar-kejar.”
Para astronout becak itu berusia antara 40 hingga 50 tahunan. Ketika Pemprv DKI menertibkan aturan DBB (Daerah Bebas Becak), mereka rata-rata masih di pucuk pring (belum lahir). Jika sudah lahir pun masih usia balita, sehingga belum tahu seperti apa Ali Sadikin gubernur DKI Jakarta membangun kotanya, dari “kampung besar” menjadi kota metropolitan. Mereka tahunya sekarang Jakarta sudah bagus, modern, tapi mereka justru ingin mengacak-acak demi mencari sesuap nasi.
Disebut “diacak-acak” karena sepeninggal Ali Sadikin program DBB pernah terkena infeksi politik. Demi memenangkan Golkar di DKI Jakarta, Tjokropranolo berani membolehkan lagi becak beroperasi. Ternyata, Jakarta yang selama ini dimenangkan melulu oleh PPP, di bawah Bang Noly Golkar jadi nomer satu. Tapi yaitu tadi, Tjokropranolo tidak konsisten jadinya. Partai harus pilih yang kuning, tapi soal kerang harus pilih yang hijau. Kala itu Tjokropranolo di mana-mana selalu kampanye tentang perlunya warga Jakarta makan kerang hijau.
Sepeninggal Bang Noly, warga Ibukota sudah melupakan kerang hijau. Tapi yang tetap lestari hingga sekarang, justru “mata ijo” asal melihat duit. Ini bukan saja rakyat biasa, para pejabatnya begitu juga. Banyak pejabat korup gara-gara kelainan di matanya tersebut. Setiap melihat tumpukan uang, tak peduli uang lama atau uang baru yang kata Habib Rijiek ada gambar palu aritnya, semua pada ngiler tak peduli bagaimana cara mendapatkannya.
Becak kembali marak di Ibukota ketika krismon 98 disusul kejatuhan Orde Baru. Tanggal 21 Mei 1998 Pak Harto lengser, becak dari berbagai daerah kembali masuk Ibukota. Bukan untuk menjemput Pak Harto kembali ke rumah Cendana, tapi memanfaatkan situasi yang nyaris “chaos”. Kala itu memang disiplin warga kota hancur. Di mana-mana pedagang K-5 merangsek ke areal wilayah publik. Terminal-terminal bis misalnya, para pedagang K-5 menyita banyak areal parkiran bis.
Gubernur Sutiyoso (1997-2007) kebagian “cuci piring”, menertibkan kembali tukang becak yang mulai meruyak di Ibukota, khususnya di Jakarta Utara. Untungnya berhasil, meski secara sporadis muncul di sana-sini tukang becak generasi penerus. Bukan saja Bang Yos yang direcokin, gubernur-gubernur penerusnya juga masih mengalami. Tapi tetap tak bisa ditawar, becak….. go to sea! Becak yang nekad beroperasi, ditangkap dan dibuang ke laut untuk rumpon ikan.
Sampai pemerintahan Gubernur Ahok becak maunya unjuk gigi di Ibukota. Tanggal 26 Januari dirazia Satpol PP Jakarta Utara, tanggal 28 berikutnya 100 tukang becak itu demo ke Balaikota dengan membawa poster lucu-lucu. Misalnya: becak ramah lingkungan, becak transportasi bebas polusi, becak biar kami tetap ada. Tapi Gubernur Ahok tetap tegas, becak tetap dilarang di Jakarta. “Silakan usaha apa saja, tapi jangan menarik becak,” kata Ahok. (Cantrik Metaram)





