
ENTAH kenapa negeri Ngatas Angin diberi nama seperti itu. Budayawan negeri itu pernah bertanya pada sejarawan JJ Rizal dan Asvi Warman Adam tapi tak bisa menjawab. Kepada sejarawan Anhar Gonggong yang lebih tua dan senior juga pernah ditanyakan, tapi beliaunya juga hanya angkat bahu. Karena memang tak pernah ditemukan artefak atau situs-situs peninggalan yang bisa dijadikan petunjuk. Ada situs detikcom dan kompascom, tapi mereka ternyata kantor berita online.
Tapi menurut Begawan Durna yang juga asal-usulnya dari negeri itu, ada dua kemungkinan nama Ngatas Angin ditabalkan pada negeri yang dulu kaya minyak bumi. Mungkin karena negeri itu banyak anginnya, pemimpinnya di masa lalu angin-anginan, sehingga rakyatnya pada masuk angin. Faktanya Begawan Durna sendiri tak betah di bumi kelahirannya tersebut.
“Indeks kebahagiaan rakyat di Ngatas Angin makin menurun terus, sehingga penduduknya banyak yang memilih urban ke negeri lain.” Kata Pendita Durna sekali waktu pada pers di pertapan Sokalima.
“Masih banyak dong peninggalan tanah Begawan di sana?”
“Oo, sudah saya jual murah-murahan waktu itu, karena kena proyek perumahan Sentul Kenyut City. Kabarnya Rocky Gerung juga punya rumah di sana.” Jawab Pendita Durna lagi.
Nah, di sinilah ditemukan benang merahnya. Begawan Bahar Wisuna yang suka menyerang pemerintahan Pendawa, asalnya memang juga dari Ngatasangin. Rupanya dia juga satu paham dan aliran dengan Rocky Gerung, karena dua-duanya demen banget njelek-njelekin Prabu Puntadewa. Cuma karena Prabu Puntadewa wayangnya terlalu penyabar, diserang duet Rocky Gerung – Begawan Bahar Wisuna, hanya ditanggapi dengan kalimat pendek: aku ra papa!
Sama-sama dari Ngatasangin, Begawan Bahar Wisuna punya mentor sesama begawan biasa disebut Begawan Rajek Sohibi. Tapi sudah beberapa waktu lamanya dia ngendon di rajek wesi (baca: penjara) juga karena kasus ujaran kebencian. Waktu itu, sepulang dari Ngatasangin menjenguk negeri leluhur, ngomong celometan di depan publik, isinya lagi-lagi menyerang kehormatan Prabu Puntadewa. Raja Ngamarta sih nggak papa, tapi Werkudara berikut anak-anaknya yang tidak terima. Begawan Rajek Sohibi langsung dihajar dan kemudian dikandangi di gedong waja.
“Jadi begawan ngomongnya kok tidak mengajak ke jalan yang benar, malah bikin kaco negara. Antarejo, Gatutkaca, Antasena, kasih pelajaran tuh Begawan Rajek Sohibi.” Instruki Werkudara waktu itu, dengan tegas dan keras.
“Sendika dawuh, rama!” kata trio putra Jodipati itu.
Para sapukawat Ngamarta itu bergerak cepat. Begawan Rajek Sohibi yang tinggal di pertapan Tambur Sakethi langsung dicomot dan dihajar di tempat. Meski dia teriak-teriak “jangan begitu saudara…..” terus saja digenjot. Dalam kondisi pingsan dibawa ke Rutan Ngamarta. Begitu sadar sudah berada kamar berterali besi, ranjangnya dilapisi “kasur” berupa tumpukan kardus supermi dan popmie rasa ayam. Tapi alhamdulillah, sejak Rajek Sohibi dikandangi, situasi di Ngamarta jadi mantap terkendali. Tak ada lagi demo di alun-alun Indraprastha, tak pasukan berjubah sweping natalan dan tahun baru.
Tak dinyana tak diduga, beberapa bulan setelah pengandangan Begawan Rajek Sohibi, mendadak ramai diberitakan datangnya begawan Bahar Wisuna yang juga berasal dari negeri Ngatasangin. Dia mekuwon (tinggal sementara) di Koming Tengara, yang masih wilayah kekuasaan Ngamarta juga. Baru sehari tiba dia sudah koar-koar hendak membebaskan Begawan Rajek Sohibi.
“Ini kriminalisasi begawan. Raja Ngamarta banci, coba buka celananya, jangan-jangan perempuan dia!” kata begawan Bahar Wisuna di depan sejumlah cantriknya.
“Hati-hati ngomong begawan, kalau ada intel bisa ditangkap.” Sejumlah cantrik mengingatkannya.
“Kalau gua ditangkap, berarti ini kematian demokrasi di Ngamarta.” Ujar Bahar Wisuna berapi-rapi, sambil mengibaskan rambut gondrongnya.
Aneh memang Begawan Bahar Wisuna ini, Ngakunya begawan tapi tampilannya kumuh. Rambut gondrong dicat pirang lagi. Di depan para cantriknya dia tak ceramah mengajarkan kebenaran, tapi malah menyerang penguasa setempat. Dan dia mengaku terus terang, kepergiannya dari Ngatas Angin ke sini dalam rangka meneruskan cita-cita dan perjuangan Begawan Rajek Sohibi. Katanya, Rajek Sohibi boleh dipenjarakan, tapi jiwa dan semangatnya tetap membara di dada para penerusnya.
“Oleh karena itu, siapapun orangnya yang telah berkhianat kepada Begawan Rajek Sohibi, akan saya habisi satu persatu, tak peduli anak siapa dia. Camkan itu….!” katanya dari atas mobil komando.
“Kami siap mati bela Begawan Rajek Sohibi….!” teriak kordinator cantrik, Divel Mabukmin. Dia juga berjubah, tapi giginya ompong di tengah sehingga suaranya ngempos.
Sejak itu Begawan pidato ke mana-mana, menebar kebencian kepada penduduk. Sesuai dengan nama belakangnya, wisuna adalah penyakit. Begawan Bahar Wisuna ke mana-mana memang selalu menyebar penyakit kebencian, mempengaruhi rakyat agar membenci pemerintahnya. Celakanya pers dan media online tak pernah absen selalu meliputnya, sehingga nama Begawan Bahar Wisuna semakin berkibar. Ke mana-mana dielu-elukan orang, bahkan cium kaki sang begawan orang tiada ragu lagi.
Prabu Puntadewa juga sudah mendengar kehadiran generasi penerus Begawan Rajek Sohibi. Tapi beliaunya tenang-tenang saja. Yang pusing dan dongkol justru Werkudara dan Prabu Kresna dari Dwarawati. Sebab jika terus dibiarkan saja, dan massa Bahar Wisuna semakin banyak, bisa mengancam kewibawaan negeri Ngamarta berikut jajarannya.
“Dimas Puntadewa harus ambil sikap, nanti Begawan Bahar Wisana tambah gede kepala,” kata Prabu Kresna dalam sidang kerajaan di Istana Indraprastha.
“Biarkan saja kakanda Prabu Kresna, nanti kalau capek kan berhenti sendiri.” Jawab Prabu Puntadewa tetap santai.
“Mana dia bisa capek, kan ada pihak yang mendanai. Siapa orangnya sedang gua cari, ketangkep langsung saya odet-odet perutnya,” kata Werkudara sambil mendesis, suaranya mirip lokomotip buatan Jerman tahun 1930-an. (Ki Guna Watoncarita)


