BEGAWAN DORAWECA (2)

Betara Kala tertawa lebar, dengan tewasnya Begawan Doraweca pastilah Prabu Jokopit yang dituduh jadi dalangnya.

KATANYA hanya seminggu Begawan Doraweca pergi ke Srilangka dalam rangka Konggres Begawan Sedunia. Tapi nyatanya sebulan kemudian belum juga pulang, bahkan setahun! Maka publik di Ngastina pun mulai meledek Begawan Doraweca sebagai Bang Toyib, yang tiga kali Lebaran tidak pulang. Padahal dia baru sekali saja Lebaran tidak pulang. Atau dia Bang Toyib KW-2?

Bagi keluarga besar Istana Gajahoya sih, kepergian atau tepatnya keminggatan Begawan Doraweca merupakan keberuntungan. Sebab sejak itu suhu politik di Ngastina menjadi adem ayem, karena tak ada lagi tukang kompor asal njeplak. Tapi bagi para cantriknya, itu sebuah kehilangan besar. Tak hanya kehilangan ilmu-ilmu kapanditan, tapi juga kehilangan teman diskusi yang galak, yang kerjanya mengolok-olok pemerintahan Prabu Jokopit. Dan para cantrik di berbagai pertapan, sangat menyukai gaya Begawan Doraweca.

“Wajar sajalah Begawan Doraweca tak mau pulang, sebab di sini kriminaliasi begawan terus berlangsung.” Bela kalangan cantrik.

“Bos kita baru mau pulang jika pemerintah Prabu Jokopitono selesai.” Jawab cantrik yang lain, dia lupa bahwa Ngastina sistem kerajaan bukan republik yang memerintah selama 5 tahun.

“Berarti nunggu sampai Perang Baratayuda, dong.” Potong cantrik lain yang paham Tata Negara, agaknya sering mengikuti Youtubnya Refly Harun.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa Begawan Doraweca bisa begitu lama di negri Srilangka, siapa yang membiayai kehidupan sehari-hari. Padahal di sana dia tak bisa kerja, dan dia bukan suaka politik. Tapi menurut kabar sih, Begawan Doraweca dapat saweran atau transveran dari Sanghyang Betara Kala, putra Betara Guru dalam perkawinannya dengan Dewi Uma.

Betara Kala lumayan kaya raya, karena setiap bulan ada saja wayang ngercapada menggelar ruwatan. Jika dulu ruwatan bagi wayang sukerta (makanan Betara Kala) cukup dengan sesaji, kini bisa ditebas mentah dengan uang Rp 10 juta. Bila wayang-wayang sukerta sudah transver ke rekening Betara Kala, maka terbebaslah dari ancaman kematian.

“Adi Guru, kebijakanmu bikin rakyat menderita, tapi menguntungkan Betara Kala. Itu tidak adil,” protes patih kahyangan Betara Narada.

“Siapa bilang, kakang Narada? Justru ini demi untuk menghindari kluster-kluster baru Corona dari upacara ruwatan sambil nanggap wayang.” Tangkis penguasa Jonggring Salaka.

Padahal wayang sukerta itu banyak macamnya, misalnya: anak tunggal, anak kembar, anak 5 lelaki semua, atau anak 5 perempuan semua, orang mematahkan gilesan jamu (gandik), jalan di terik matahati pukul 12.00 siang, bayi lahir pas waktu magrib, bayi lahir pas waktu subuh. Otomatis pundi-pundi Betara Kala semakin tebal.

Keruan saja dalang-dalang dan MC ruwatan pada protes. Musim Covid-19 para dalang sudah sepi tanggapan, kok malah kahyangan bikin kebijakan yang tak membumi. Kebijakan kahyangan itu lalu digugat ke MK, minta dibatalkan. Tetapi apa putusannya?

“Sepanjang kebijakan itu dimaknai untuk mengurangi resiko Covid-19, itu sah-sah saja. Karenanya gugatan para dalang dan MC ditolak! Thok, thok, thok…..!” Ketua MK Jonggring Salaka, Betara Sambu.

“Payah, Betara Sambu kalah sama tekanan masa.” Protes para dalang.

Para dalang dan MC sebetulnya mau pakai pengacara mahal Hotman Paris, tapi dia menolak karena masih mengurusi kasus Maybank. Walhasil kondisi ini semakin menguntungkan Betara Kala, dan itu artinya transveran untuk Begawan Doraweca di Srilangka semakin kenceng.

Karena sehari-hari hidup terjamin di negeri orang, Begawan Doraweca pun semakin gencar menyerang kerajaan Ngastina lewat chanel Youtube. Sekarang dia menggugat kendaga Lenga Tala yang berharga puluhan miliar itu. Kendaga itu dulu untuk menampung minyak sakti pemberian dewa. Siapapun yang berhasil membalur seluruh tubuhnya dengan minyak tersebut, niscaya akan tahan bacokan. Orang Jawa bilang: tinatah mendat jinara menter-menter. Dan itu dulu para bala Kurawa sempat memperebutkan minyak tersebut. Tapi wadahnya hilang misterius.

“Usut dan periksa Prabu Jokopitana, pasti dia tahu  persis, atau malah yang menggelapkan.” Kata Begawan Doraweca lantang.

“Kendaga itu ada tersimpan di museum, tapi sengaja tak dipajang. Takut ada wayang model Kusni Kasdut, museum kok dirampok. Kan kacau.” Jawab Patih Sengkuni meluruskan isyu bikinan Begawan Doraweca.

Begitulah, selama bertahun-tahun tinggal di negeri Srilangka, pekerjaan Begawan Doraweca hanya menembaki Prabu Jokopit dengan berbagai kasus yang tak muncul ke permukaaan. Tapi ironisnya, para cantrik dari berbagai padepokan sangat mengagung-agungkannya. Mereka sangat merindukannya, kapan Begawan Doraweca kembali ke Ngastina, berjuang secara jarak dekat bukan remot-remotan. Padahal sesuai namaya, Doraweca itu artinya omongan bohong belaka.

Dan setelah benar-benar jadi Bang Toyib, setelah 3 kali Lebaran tak kunjung pulang, lewat Youtube Begawan Doraweca mengabarkan bahwa akan segera kembali ke Tanah Air. Langsung ribuan cantrik pengagumnya memenuhi bandara “Pandu Dewanata Airport” pada hari yang dijanjikan. Bandara penuh sesak, jalan tol macet total. Soal protokol kesehatan, bodo amat!

“Pulangnya Begawan Doraweca memang hak dia, silakan saja. Tapi tolong para cantrik jangan bikin gaduh. Jika melanggar, akan saya sikat,” kata Adipati Karno lantang sambil tunjukkan panah senjata Kunta.

“Biarkan Begawan Doraweca istirahat beberapa hari. Baru setelah itu kita proses, banyak sekali kasus ujaran kebencian darinya.” Kata patih Sengkuni menanggapi pertanyaan pers.

Pukul 21.00 pesawat Srilangka Air mendarat dengan selamat. Mestinya para cantrik tak boleh masuk ruang tunggu, tapi mereka justru menghambur masuk landasan. Pagar-pagar dirusak ramai-ramai, dan aparat keamanan hanya diam membisu. Tak lama kemudian pintu pesawat terbuka dan munculah Begawan Doraweca sambil melambai-lambaikan tangan, menyambut ucapan selamat datang dari ribuan cantrik pengagumnya.

“Akhirnya aku tiba kembali……, jleb!” kata Begawan Doraweca terputus, karena tiba-tiba sebuah panas menghujam di dadanya.

Dia jatuh terguling dan menggelinding deras melalui trap-trapan tangga pesawat. Gegerlah para cantrik penyambutnya. Banyak yang menangis histeris, karena Begawan Doraweca pulang hanya mengantar nyawa. Akhirnya di pertapan Jati Bedugan bukan menggelar acara penyambutan, tapi justru upacara pelepasan jenazah.

Jenazah Begawan Doraweca sudah dimakamkan, tapi isyu miring justru bangkit dari kubur. Kematian begawan panutan jutaan cantrik itu sebuah rekayasa politik yang dibangun pemerintahan Prabu Jokopit. Ketimbang pulang ke Ngastina bikin kacau, lebih baik Begawan Doraweca diselesaikan dengan cara praktis dan ekonomis.

“Prabu Jokopit harus bertanggungjawab atas kematian Begawan Doraweca. Adili dia dan turunkan dari jabatannya.” Begitu orasi para pendukung Begawan Doraweca di depan Istana Gajahoya.

“Seret dan gantung Patih Sengkuni, pasti dialah aktor intelektualnya.” Kata pimpinan demo.

Sayangnya pihak Istana Gajahoya diam seribu bahasa, tak mau menanggapi tuntutan para pendemo. Seakan tak ada kejadian apa-apa. Jika ada pesta pora justru di Pasetran Gandamayit. Betara Kala minum bir bersama Betari Durga, sebagai rasa syukur atas keberhasilan skenarionya.

“Percayalah, Prabu Jokopit sebentar lagi tumbang tuh,” kata Betara Kala.

“Memangnya kamu apakan dia?” Betari Durga jadi penasaran.

“Kupanah Begawan Doraweca pakai panah Kyai Kaladrubiksa, dan tewas seketika. Pasti yang dituduh Prabu Jokopit, karena dia selama ini yang diserang Begawan Doraweca.

“Kamu ternyata sama jahatnya seperti aku, he he he…..” jawab Betari Durga, dan keduanya terus minum bir sebelum dilarang negara. (Ki Guna Watoncarita-tamat)

Advertisement