SIDANG selapanan di negeri Ngastina siang itu terasa istimewa. Selain dihadiri tamu monoton seperti Patih Sengkuni, Pendita Durna dan Prabu Baladewa, Prabu Jokopitana juga menerima kunjungan Begawan Kilatbuwono. Meski bukan dari Timur Tengah tapi begawan ini pakai gamis dan bersorban. Mungkin dia juga suka makanan menu Itali yang bernama Fitsa Hats itu.
Ternyata Begawan Kilatbuwono ke Ngastina untuk jualan ide, bagaimana mengatasi defisit APBN yang selalu terjadi dari tahun ke tahun. Katanya, anggaran negara bisa dihemat sebanyak mungkin jika program “Perang Baratayuda” dibatalkan. Kondisi keuangan negeri Ngastina belakangan memang sedang babak belur, sehingga alokasi anggaran untuk kementrian banyak yang dipangkas. Bahkan demi maksimalisasi dana, wayang cilik pun menjadi sasaran Tax Amnesty.
“Mana bisa Baratayuda dibatalkan, itu kan sudah diamanatkan UU Kadewatan,” kata Prabu Jokopitono yang lebih suka dipanggil Prabu Jokopi itu.
“Saya kan banyak koneksi di kahyangan, khususnya para anggota DPR-nya. Kasih saja suap barang beberapa miliar, nanti pasal-pasalnya bisa diamandemen,” jawab Begawan Kilatbuwana mencoba menyakinkan.
Tapi di dunia perwayangan juga kenal istilah “tak ada makan siang gratis”. Dia siap menghandel Perang Baratayuda, tapi pakai kompensasi dikawinkan dengan sekar kedaton Ngastina, Dewi Lesmanawati. Katanya, jadi begawan hidup menyendiri terasa jadi iseng banget.
“Tapi anak saya belum dewasa, usianya baru 15 tahun.” kata Prabu Jokopitono Duryudana.
“Nggak papa. Bersama saya, nanti akan menjadi cepat dewasa, Sinuwun.” Jawab sang Begawan asal njeplak saja.
“Woo, mau jadi predator seks kamu ya? Bisa dikebiri lho sampeyan” Potong Pendita Durna keki, maklum banyak teori penguatan ekonomi miliknya dimentahkan tamu luar negeri yang bebas visa itu.
Sebetulnya berat memenuhi syarat Begawan Kilatbuwono. Tapi demi kepentingan nasional, punya mantu begawan yang belum jelas asal-usulnya, apa boleh buat. Ngakunya sih dari Ngatasangin, tapi Pendita Durna yang asalnya uga orang sono ternyata tak kenal. Mungkin saja dia warga baru di sana, sebab sejak kedua orangtuanya wafat, Durna tak pernah pulang. Sekali pulang hanya ketika mau jual tanah warisan.
Untuk mensukseskan misi dan programnya, Begawan Kilatbuwono segera menghubungi Pendawa Lima. Di depan raja Prabu Puntadewa, dia membeberkan segala keuntungan bilamana “Perang Baratayuda” dibatalkan. Di samping menghemat anggaran bertriliun rupiah, juga takkan banyak wanita jadi janda mendadak, takkan ada anak yatim baru, karena ditinggal mati ayah yang gugur di medan perang.
“Tapi anggarannya sudah diputuskan DPR tuh.” Kata Puntadewa.
“Ada APBN Perubahan, harus ada pula APBN Pembatalan, gitu saja kok repot.” kata Begawan Kilatbuwono.
Biasanya untuk keputusan penting seperti ini Prabu Puntadewa selalu minta petunjuk Bapak Kresna meski bukan presiden. Tapi kenapa, kali ini dia melupakan sosok penasihat dari negeri Dwarawati. Jangan-jangan, kemenyan Kilatbuwono lumayan kenceng, sehingga Pendawa Lima menjadi hanya oka-oke dan nggah nggih saja.
Singkat cerita, Pendawa Lima sudah hadir dalam Istana Gajahoya untuk menanda-tangani MOU pembatalan “Perang Baratayuda”. Setelah pidato pengantar Prabu Jokopi bahwa persetujuan ini demi kesejahteraan Ngastina – Ngamarta di masa depan, kedua petinggi negara itu pun tanda tangan bersama, disorot kamera wartawan dan stasiun TV swasta. TV pemerintah tak hadir, karena sudah nyaris kehabisan anggaran untuk siaran, gara-gara dana dari APBN makin mengecil.
“Lapor boss, di luar ada demo.” Patih Sengkuni melapor pada Prabu Jokopitana.
“Demo apa? Ada izin belum?” Prabu Jokopitana kesal.
Ternyata itu demo 7 juta umat wayang untuk menolak penanda-tangan MOU pembatalan “Perang Baratayuda”. Katanya, pembatalan perang itu adalah keputusan inkonstitusional. Gara-gara demo ini pula, suasana setelah penanda-tanganan menjadi tidak nyaman. Masalahnya, Begawan Kilatbuwono terus bercuap-cuap lebih dari 7 menit bahwa ini demo ini pasti didalangi oleh para kontra revolusi yang tidak memahami bahwa revolusi memang belum selesai.
“Dalangnya Prabu Kresna, boss.” Kembali patih Sengkuni laporan.
“Nggak peduli. Dalangnya Prabu Kresna kek, Ki Enthus kek, kalau salah musti diusut…..”
Para pendemo berbayar itu mengakui, semua ini yang membiayai Prabu Kresna dan para putra Pendawa, Gatutkaca-Abimanyu Cs. Mereka hendak ditahan dan diproses, tapi Prabu Jokopi melarang. Biarkan saja mereka berekspresi. Bila sekedar visi dan misi bukan aksi, masih dibolehkan.
Paling celaka, sejak penanda-tanganan MOU tersebut, Pendawa Lima malah terkena tuduhan makar, sehingga tidak boleh pulang dulu ke Ngamarta. Walhasil segala urusan kenegaraan hanya dikerjakan oleh PLT Patih Soni Gagak Bongkol. Namanya juga raja ban serep, jadi mbagusi. Mobil A-1 yang selama ini tak dipakai Prabu Puntadewa, kini bersliweran lagi di seputar Amarta.
“Sekarang Kyai Semar juga ikut oposisi, menentang kebijakan Pendawa Lima. Bagaimana ini?” Prabu Puntadewa konsultasi dengan Begawan Kilatbuwono.
“Tangkep kiai Semar, kemudian dibakar. Abunya untuk energi biogas,” perintah Begawan Kilatbuwono.
Raden Werkudara segera perintahkan Harjuna kembali ke Ngamarta, mengurus Kiai Semar yang mencoba makar. Kalau bisa mau diajak tabayun, ketimbang manyun. Ternyata Ki Lurah Semar memang konsisten, tak mau dibujuk Harjuna, untuk kembali ke “jalan yang benar”. Dia bahkan bertekad, jika Perang Baratayuda dibatalkan, dia bersama Gareng Petruk dan Bagong siap memisahkan diri dari Ngamarta, membangun negara Republik Karangkebolotan Merdeka.
“Kakang Semar, kamu harus menyerah dan kembali ke Ngamarta.” Harjuna memberi saran.
“Oo, ndak bisa. Kalian dipedayai, tapi kok nggak nyadar,” kata Semar yang rupanya sudah tahu semua permainan Begawan Kilatbuwono, yang dulu ngagen jasa pengiriman “Titipan Kilat” itu.
Sesuai saran Begawan Kilatbuwono, Semar langsung dibunuh pakai keris Pulanggeni. Tiga punakawan lainnya yang mencoba membela Semar, ikut dibinasakan juga. Ke empat jenasah itu lalu dikremasikan di Cilincing, baru dibawa ke Ngastina dalam bentuk abu gosok sebagai energi terbarukan.
Kerdus supermi berisi abu punakawan empat serangkai itupun dibawa Harjuna kembali ke Ngastina. Bahwa kardusnya bocor di sana sini, tak disadarinya. Yang penting baginya, begitu tiba langsung diserahkan ke Begawan Kilatbuwono untuk energi biogas.
Namun aneh bin ajaib, baru saja biogas punakawan dipakai masak kaum ibu-ibu, mendadak punakawan Semar bersama anak-anaknya datang melabrak Begawan Kilatbuwono. Begawan yang sangat dihormati kubu koalisi Ngastina – Ngamarta tersebut justru dilecehkan Kyai Semar pakai ujaran kebencian. Mukanya dituding-tuding, hidungnya ditarik-tarik.
“Kamu dari dulu nggak ada kapoknya ya. Kalau nggak kembali ke wujud aslimu, saya kentuti habis kamu.” Ancam Kyai Semar.
“Ampun kakang Semar, gue nyerah.” Ujar Begawan Kilatbuwono.
Aneh bin ajaib, begitu tubuh Begawan Kilatbuwono dibanting ke ubin, mendadak berubah jadi Betari Durga, dari Pasetran Gandamayit. Dia nyembah-nyembah minta ampun. Setelah kenyang diberi tausiyah dan dimaki-maki, barulah dia diizinkan kembali ke Pasetran Gandamayit. Sepeninggal Betari Durga, keputusan yang tertera di MOU dibatalkan, dan pembatalan “Perang Baratayuda” dinyatakan konstitusional. Pendawa – Ngastina kembali ke kubu masing-masing.
“Ngomong-ngomong kok Kakang Semar hidup lagi.” Ujar Harjuna keheranan.
“Namanya juga cerita wayang. (Ki Guna Watocarita)



