Begawan sering identik dengan orang tua. Berusia di atas 60 tahun sudah masuk kategori orang tua. Pensiunan PNS (Pegawai Negeri Sipil), perusahaan swasta, purnawirawan TNI dan Polri juga sudah dianggap orang tua. Batas usia pensiun PNS, TNI dan Polri sekarang adalah 58 tahun.
Tua dalam bahasa Jawa adalah sepuh. Menurut buku “Wedhatama” karya KGPA Mangkunegara IV, sepuh berarti “sepi hawa”. Maksudnya, sudah tidak lagi dikuasai oleh hawa nafsu. Orang-orang tua disebut “sesepuh” atau “pinisepuh”. Ini biasa diucapkan dalam sambutan resepsi pernikahan.
Itu tidak hanya merujuk pada usia. Tetapi, dan lebih, pada pengaruh mereka secara kultural dan spiritual, terutama dalam pemberian doa restu, berkat pengalaman hidup yang panjang.
Begawan juga identik pertapa, “sepi ing pamrih” (tidak punya pamrih duniawi) dan guru yang mengajarkan ilmu “kasepuhan”. Bertapa dilakukan di tempat sepi seperti gua, tengah hutan dan puncak gunung. Pokoknya, menjauhi keramaian atau “public life” yang dianggap sebagai sumber godaan hawa nafsu.
Tentang begawan, cukup menarik untuk disimak dialog antara dua tokoh nasional, Haji Rosihan Anwar, wartawan senior asal Minangkabau, dan TB Simatupang, Jendral (purn) asal Batak. Dialog itu berlangsung dalam rangka ulang tahun ke 65 Simatupang (Pak Sim) pada 28 Januari, 1985. Dialog antara dua intelektual itu dimuat dalam buku “Perenungan dan Pemikiran” karya wartawan senior Sabam P. Siagian.
Rosihan (1922-2011) dengan ciri khasnya, cerdas dan kocak, memulai dengan pernyataan bahwa di dunia Timur, khususnya Jawa, orang yang sudah berumur lewat 60 tahun menjadi sesepuh. Maka, dia bersiap-siap tidak campur lagi aktif (dalam soal-soal yang menyangkut bangsanya). Dalam masyaraakat ia mulai menjadi begawan.
Rosihan (mengaku tidak tahu persis arti begawan oleh orang Jawa) menerka, begawan adalah orang tua yang sudah arif, yang melihat saja apa yang terjadi. Bisa memberi nasihat, tapi dia tidak aktif lagi. “Jadi pertanyaan saya, karena kita ini menghadiri pertemuan ulang tahun ke 65 Bung Sim, dapatkah Bung Sim mendamaikan dirinya sendiri, supaya dia menjadi begawan?” kata Rosihan.
Ia minta Pak Sim tidak usah lagi banyak menulis di koran. Menghentikan segala kegiatannya, menyerahkan saja itu kepada yang muda-muda dengan ikhlas dan mengatakan, ”Sesuka hati kalianlah,” karena ia sudah berbuat di masa lampau dan sekarang tinggal menilai saja.
Pak Sim, seorang tokoh Kristen, menjawab konsepnya tentang begawan tak bisa dilepaskan dari Etika Protestan, yakni “Innerwetliche Askese”. Artinya, asketisme di tengah-tengah dunia, bukan di tengah hutan seperti begawan Jawa. Tidak mementingkan diri sendiri. Tapi, selama masih ada kesehatan, mengapa tidak mencoba pergunakan itu di tengah persoalan politik, sosial, ekonomi dan militer? Itulah yang disebut Sabam begawan “modern”
Seturut dengan itu, banyak pensiunan melakukan alih fungsi: dari eksekutif menjadi penasihat, pembina, konsultan dan komisaris perusahaan dan lembaga sosial-budaya. Ada juga yang terjun ke politik praktis. Ada pula yang melakukan investasi PMA (Penanaman Modal Akhirat): mendirikan pesantren.
Dalam budaya Jawa, apa yang disebut asketisme Protestan itu dilakukan dengan “topo ngrame”, bertapa di tempat ramai, terlibat dalam kehidupan masyarakat. Justru, “topo ngrame” lebih berat daripada bertapa di tempat sepi. Banyak godaan yang menawarkan tiga “ta”, menurut Pak Harto, yakni tahta, harta dan wanita. Bukan godaan makhluk halus!.



