Jumat lalu (31/7/2026), saya memberi pembekalan Wawasan Kebangsaan kepada para penerima Beasiswa LPDP PK-279 Arunantara. Kepada mereka saya sampaikan satu pengingat yang mendasar: Indonesia adalah cita-cita pembebasan.
Yang sesungguhnya dijajah oleh kolonialisme adalah kerajaan-kerajaan dan masyarakat di kepulauan Nusantara. Indonesia sendiri lahir sebagai ikhtiar politik untuk menyatukan keragaman itu ke dalam satu cita-cita: membebaskan manusia dari penjajahan dan membangun bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Karena itu, Indonesia bukanlah kenyataan yang telah selesai, melainkan janji yang harus terus diperjuangkan; bukan state of being, melainkan state of becoming.
Maka, kita tak perlu tenggelam dalam pesimisme karena cita-cita itu belum sepenuhnya tercapai. Namun kita juga tak boleh terlena oleh optimisme yang buta. Kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila setelah kolonialisme berlalu, yang tumbuh justru politik penjajahan oleh bangsa sendiri—ketika kekuasaan menjauh dari keadilan dan negara lupa kepada rakyatnya.
Jalan menuju cita-cita itu selalu bermula dari kualitas manusia. Pengalaman banyak bangsa menunjukkan bahwa pendidikan adalah paspor menuju kemajuan, karena ia melahirkan bukan hanya pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga watak, etika, daya cipta, serta kemampuan mengubah gagasan menjadi kemaslahatan.
Karena itulah, menjadi penerima beasiswa LPDP adalah sebuah privilege. Hanya sebagian kecil anak bangsa memperoleh kehormatan belajar dengan dukungan dana publik. Setiap privilege selalu mengandung tanggung jawab—noblesse oblige. Ilmu yang diperoleh bukan sekadar untuk meninggikan diri, melainkan untuk mengangkat martabat bangsa.
Di bawah langit Indonesia yang masih muram oleh ketimpangan, korupsi, dan pudarnya kepercayaan, tunaikanlah amanah itu. Jadikan ilmu sebagai pengabdian, integritas sebagai pegangan, dan kepemimpinan sebagai pelayanan. Sebab cita-cita pembebasan tidak berhenti pada merdeka dari penjajahan; ia menemukan maknanya ketika kita menggunakan kemerdekaan itu untuk merdeka bagi keadilan, kemajuan, dan memuliakan kemanusiaan.



