BEGAWAN YAKSAKUMARA (1)

Gatutkaca dipaksa turun dari udara oleh lasykar padepokan, karena dituduh melanggar wilayah udara Glagah Tinulak.

MESKI masih musim pandemi Covid-19, negeri Ngamarta masih juga punya rencana membangun Taman Maduganda, sebagai ajang rekreasi rakyat, khususnya keluarga besar Pendawa Lima. Lahan disiapkan tidak jauh dari Madukara, sehingga namanya pun dibuat mirip: Taman Maduganda. Madu rasanya manis, harum pula ganda atau baunya. Diharapkan semua penduduk agama apapun bisa berkunjung ke sini, tak perlu dilabeli dengan wisata halal maupun wisata haram.

Lahan yang disiapkan sekitar 25 hektar, terletak di kaki Gunung Serandul. Udaranya sejuk, terbelah oleh aliran sungai Silugangga yang bening nyuntring (jernih sekali), karena terbebas dari pencemaran. Sangat ideal untuk daerah wisata. Di sini akan dibangun sejumlah jembatan, sehingga nantinya Taman Maduganda menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) nan indah dan mampu menambah PAD negeri Ngamarta.

“Dalam kondisi seperti sekarang, di mana prokes harus diberlakukan ketat, bikin Taman Maduganda rasanya sia-sia belaka. Buang-buang anggaran, takkan ada tamu ke sana.” Protes Werkudara dalam sidang selapanan Ngamarta, yang agendanya pembangunan taman tersebut.

“Ini kan baru rencana Dimas. Ketika proyek selesai, semoga Corona sudah usai, karena rakyat semua dapat vaksin gratis dari negara.” Jawab Prabu Puntadewa.

“Yakin? Buat ngetes halal-haramnya vaksin saja bakal makan waktu banyak.” Kata Werkudara lagi

“Ngetesnya nggak seperti lemet dimas, dibuka satu persatu tabungnya.” Potong Prabu Kresna.

Kepala JPN (Jawatan Perkebunan Negara) Tumenggung Wanapangreksa dihadirkan dalam kesempatan itu. Dia diminta memberi paparan tentang kondisi lahan yang hendak dijadikan Taman Maduganda. Karena ABS mungkin, sang tumenggung menyatakan bahwa semuanya sudah okey. Tinggal sekarang minta izin alih fungsi lahan kepada adipati setempat. Semoga saja gratis tanpa minta upeti.

Tapi belum selesai mereka berdialog, tiba-tiba punakawan Petruk datang dan melaporkan dengan data yang 180 drajat berkebalikan dari keterangan Kepala JPN Tumenggung Wanapangreksa. Lahan calon Taman Maduganda memang masih ada, tapi kini dalam penguasaan Padepokan Glagah Tinulak milik Begawan Yaksakumara. Setelah dia kembali dari negeri Ngatasangin 3,5 tahun lamanya –mungkin jadi TKI (Tenaga Kerja Impor) – dia banyak membebaskan lahan untuk perluasan padepokannya.

“Bahkan tanah Karang Kebolotan milik kakeknya Semar mulai dipatok, warga dipaksa jual dengan harga murah.” Kata Petruk dalam laporannya.

“Siapa itu Begawan Yaksakumara? Kenapa Kepala JPN sampai tidak tahu ada penyerobotan tanah negara?” ujar Prabu Puntadewa sambil memandang tajam Tumenggung Wanapangreksa.

Tumenggung Wanapangreksa tertunduk malu, karena datanya terbantahkan oleh fakta di lapangan. Maklum, dia sendiri sebetulnya tidak turun ke lapangan, tapi hanya berdasarkan laporan anak buahnya. Gila nggak, data hoaks dihoakkan kembali oleh atasannya. Tapi begitulah birokrasi di negeri perwayangan, deyure beda dengan defakto.

Akhirnya Prabu Puntadewa menugaskan Werkudara untuk mengecek langsung ke lapangan, demi menyelidisi kondisi yang sebenarnya. Benarkah lahan calon Taman Maduganda sudah dikuasi Begawan Yaksakumara. Jika itu yang terjadi, berarti ada kolusi antara Begawan Yaksakumara dengan Adipati Jurang Grawah. Jangan-jangan dia menang Pilkada juga karena dimodali oleh Begawan Yaksakumara. Paling tidak, segenap cantrik padepokan harusa nyoblos Jurang Grawah selaku petahana.

“Petruk, pulanglah kamu. Nanti semuanya kami yang urus, kamu tahunya beres.” Kata Werkudara menjanjikan, dan itu menimbulkan sejuta harapan.

“Bener ya ndara Werkudara, jangan janji doang. Soalnya kini banyak pejabat demennya obral janji, tapi jarang ditepati.” Kata  Petruk sambil berpamitan.

Sidang selapanan di Ngamarta bubaran. Petruk kembali ke Karangkebolotan dan Werkudara memanggil ketiga putranya, masing-masing: Antarejo, Gatutkaca dan Antasena, wayang paling mbeling se-Ngamarta. Tapi meski sepakterjangnya kadang urakan, tapi banyak yang mengandung kebenaran.

Dalam musim pandemi ini Werkudara tak berani menggelar pertemuan secara langsung, cukup pakai zoom saja. Ini cara praktis ekonomis, tak perlu transportasi dan tak perlu kasih makan dan minum untuk peserta. Hidangan semua berasal dari rumah masing-masing dengan berbagai varian. Bisa saja Gatutkaca sambil ngemil kacang mete, Werkudara menikmati godogan kimpul.

“Gatot, besuk kita berempat ke calon lokasi Taman Maduganda di kaki Gunung Serandul.” Perintah kesatria Jodipati itu tegas.

“Memangnya di sana ada apa, rama Werkudara?” tanya Antasena asal-asalan.

“Matamu picak, ya? Apa kamu nggak lihat Google, wilayah itu hendak dikuasai Begawan Yaksakumara.” Ujar Werkudara ketus.

Demikianlah, mereka berempat keesokan harinya bersama-sama ke kaki Gunung Serandul dengan pakai Toyota Fortuner. Yang nyetir Ontosena, sementara Gatutkaca pilih terbang solo karena takut terjebak macet di jalan. Sekalian di atas sana kesatria Jodipati bisa berlagak jadi drone, potret padepokan Glagah Tinulak dari udara.

Ternyata, penerbangan lewat udara oleh Gatutkaca bisa tiba jauh lebih cepat. Di samping bisa potong kompas, juga tak terjebak oleh kemacetan. Maka baru setengah jam terbang, dia sudah tiba di atas padepokan Glagah Tinulak. Cukup luas memang padepokan itu. Di bawah sana tampak beberapa unit padepokan untuk para cantrik berguru berbagai ilmu.

“Hai, turun kamu! Siapa nyuruh kamu terbang seenaknya di wilayah udara Glagah Tinulu. Turun nggak, saya ketapel kamu!” ancam yang di bawah, rupanya lasykar cantrik di padepokan.

“Iya, iya, saya turun. Gitu saja kok marah!” jawab Gatutkaca mencoba lunak dan turunlah dia ke darat, tapi tetap dengan posisi siaga. (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement