SEBAGAI begawan Yaksakumara memang tidak punya patih, dia hanya memiliki asisten begawan Tumenggung Gandaprameya dibantu Tumenggung Reksapradata selaku penasihat hukum atau pengacara. Inilah pembantu paling ulet dan militant. Sebab sebagai pengacara dia lagaknya sudah macam pemilik pertapan itu sendiri. Tumenggung Reksapradata tak sekedar menjadi konsultan hukum tapi juga mewakili suara pertapan Glagah Tinulak.
Begawan Yaksakumara punya rencana, bila pertapan di gunung Serandul ini bisa dikuasai secara permanen, nantinya akan disulap menjadi sebuah negara.Wilayah negara Ngamarta akan terus diserobot berkelanjutan. Dia akan menjadi raja secara permanen. Apakah tidak janggal begawan kok jadi raja? Pemimpin umat cantrik kok mengatur negara? Ya enggaklah, di Indonsia Ketua MUI juga bisa jadi Wapres.
“Paman tumenggung Gandaprameya, jika kahyangan Jonggring Salaka memberi restu, pertapan ini akan ingsun kembangkan menjadi kerajaan. Kamu mau nggak jadi patihnya nanti?” ujar Begawa Yaksakumara berandai-andai, jika tak mau disebut menggantang asap.
“Mau sajalah, siapa tak mau peningkatan martabat dan martabak. Keren kan, dari Tumenggung jadi Patih. Tapi biar jadi patih, gue nggak mau kayak Patih Sengkuni.” Jawab Tumenggung Gandaprameya lagi.
“Bener, bener. Nanti negara sendiri, dinyinyiri sendiri……” kata Begawan Yaksakumara sambil acungkan jempol.
Demikianlah, Begawan Yaksakumara bukan sekedar wacana. Dia benar-benar mengerahkan ribuan lasykar cantriknya untuk menggempur kerajaan Ngamarta. Dan ternyata sang begawan masih winongwong jawata (dilindungi Tuhan). Hanya dalam tempo enam jam, para petinggi Ngamarta berhasil diringkus dan dipenjarakan. Selain keluarga Pendawa sebagai pejabat elit, ditangkap pula Haryo Setyaki, sapukawat Dwarawati.
Mereka ditahan di Gedong Waja, diberi baju warna oranye dan makanannya pun standar LP, nasi pera dengan lauk ikan asin. Di situ juga tak ada “bilik asmara” sebagaimana di Sukamiskin Bandung, karena tak ada napi yang mau keluar modal seperti suami artis Inneke Koesherawati. Mikir urusan perut saja tak terpenuhi, apa lagi untuk urusan di bawah perut.
“Gatot, kontak adikmu Antasena, dia kan lolos dari penyergapan Begawan Yaksakumara.” Perintah Werkudara di balik sel.
“Kontak pakai apa Pak? Kan semua HP disita oleh para lasykar cantrik. Kalau bapak punya aji pameling, bisa juga dimanfaatkan dalam kondisi kritis begini.” Jawab Gatutkaca tanpa semangat.
Werkudara hanya bisa mendesis. Aji pameling dari Hongkong? Wong ajian Wungkalbener dan Blabak Pengantol-antol miliknya kali ini juga macet. Nggak tahu pakai ilmu apa Begawan Yaksakumara, sehingga semua wayang Ngamarta yang biasanya menangan dalam pertempuran kali ini berhasil ditaklukkan dengan mudah. Bahkan negara Ngamarta berhasil dikuasai. Katanya mau diganti sistem kerajaan bersyariah.
Anak muda Pendawa yang berhasil lolos dari sergapan lasykar cantrik hanyalah Antasena, karena sempat sembunyi di dasar samodra. Dialah yang kemudian melapor pada Prabu Kresna bahwa negara Ngamarta dikudeta begawan dari pertapan Glagah Tinulak. Antasena berharap bahwa yang bisa memberantas teroris satu ini hanyalah Prabu Kresna lewat petunjuk Kaca Paesan miliknya.
“Pakde Kresna diajak video call tentang terjadinya kudeta di Ngamarta kok nggak nyambung?” protes Antasena begitu tiba di Dwarawati.
“Maaf, pulsa paketanku baru habis!” jawab Prabu Kresna tersipu-sipu.
Antasena pun berkisah tentang Ngamarta yang cheos, yang sekarang dikuasai Begawan Yaksakumara. Sesuai denga permintaan Antasena, pusaka Kaca Paesan itu dibuka Prabu Kresna. Tak lama kemudian menginformasikan bahwa yang mampu mengatasi keadaan ini hanyalah Kyai Lurah Semar dari Karang Kebolotan. Maka Kresna dan Antasena segera bergegas menuju padepokan punakawan Pandawa itu. Bersama Semar Badranaya diyakini badai pasti berlalu.
Ki Lurah Semar ada di tempat, tapi sedang berada di sanggar palanggatan (tempat bersemedi). Rupanya dia sedang mengadu pada dewa di kahyangan, kenapa cobaan untuk wayang ngercapada dijatuhkan bertubi-tubi. Wabah Corona saja belum ada tanda-tanda terselesaikan, malah datang musibah baru. Negeri Ngamarta dikudeta begawan baru dari Ngatasangin. Bahkan tanah di Karang Kebolotan hampir pasti dalam penguasaan raja baru bersyariah itu.
“Petruk, bagaimana ini? Kondisi genting begini Kyai Semar malah semedi, apa tidur?” tegur Betara Kresna lewat Petruk.
“Kayaknya Kyaine semedi beneran, ndara Kresna. Jika tidur pasti dengkurnya terdengar sampai radius 500 meter.” Jawab Petruk sekenanya, berdasarkan pengalaman.
“Ayo bangunkan, ini kondisi mendesak.”
“Nggak berani. Nanti bisa ngamuk beliaunya.” Petruk menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tapi begitu Prabu Kresna mengeluarkan uang ratusan merah selembar, langsung disambarnya dan Petruk naik ke lantai atas. Tak lama kemudian Semar turun dengan tubuh lesu, mata masih memerah. Katanya habis semedi langsung ketiduran. Kok nggak ngorok? Karena volumenya diperkecil sebagaimana potensio radio transistor.
Prabu Kresna pun menjelaskan kondisi terakhir Ngamarta hari ini. Semar tidak kaget, karena dia sudah tahu sebelumnya. Yang sama sekali tak diduga, kok dirinya yang diminta untuk menjelesaikan kemelut ini? Bukankah menyelesaikan masalah tanpa masalah itu cukup hubungi kantor Pegadaian?
“Tapi benar kaki Semar, hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalah ini. Mohon, please deh….” Bujuk Prabu Kresna.
“Bener kaki Semar, serius ini. Nanti jika berhasil, hadiahnya bukan hanya sepeda, tapi langsung Bintang Maha Putra Utama,” tambah Antaseno.
Bukan karena sepeda atau bintang mahaputra, tapi karena negara memanggil, Kyai Lurah Semar langsung berangkat, meninggalkan Prabu Kresna dan Antaseno. Dengan menggunakan ajian Sepi Angin yang menyebabkan mampu berjalan berkecepatan 200 Km/jam zonder perhatikan lampu merah, hanya hitungan 10 menit sudah nyampe ke gapura Ngamarta yang dijaga puluhan lasykar cantrik.
“Stop, stop! Tamu tak dikenal dan tak bawa bukti surat swab dilarang masuk!” kata lasykar cantrik.
“Haesy……prekkkk!” kata Semar dan terus maju menerobos penjagaan.
Tak lama kemudian sudah tiba di istana Indrapasta. Begawan Yaksakumara yang sedang memberi pengarahan para para stafnya, langsung pucet begitu melihat Semar datang muka merah padam. Masih di atas podium dia dituding-tuding oleh Semar dan diomeli habis-habisan.
“Kamu nggak ada kapoknya ya? Sudah dibilangi jangan sekali-kali ganggu momonganku, kok masih nekad juga. Pengin kena “bom atom” lagi, he?” hardik Semar.
“Ampun kakang Semar, ampun!” jawab Begawan Yaksakumara sambil turun dari podium.
Semar habis sudah kesabarannya. Begawan pendatang itu langsung diseret dari podium dan dibanting. Dalam kondisi terkapar langsung dikentuti. Tiba-tiba berubah menjadi Betari Durga dan langsung kabur kembali ke Pasetran Gandamayit. Kini Prabu Kresna dan Antasena membebaskan para pejabat Pendawa yang ditahan. Pemerintahan Prabu Puntadewa kembali normal dan proyek pembangunan Taman Maduganda dilanjutkan. (Ki Guna Watoncarita – Tamat)



