Begini Nasib Penduduk Mukalla Setelah Topan Siklon Mendera

Kota Mukalla Yaman, hancur karena topan, juga berantakan karena konflik. Rakyat ditinggal sendirian. Foto: Al Jazeera

MUKALLA (KBK) – Abdullah, seorang sopir bus berusia setengah baya di Kota Pelabuhan Yaman, Mukalla, pulang dari bekerja setiap hari dengan batuk parah dan sakit mata setelah terpapar polusi di jalanan.

“Aku tidak punya pilihan lain selain tetap mengemudi, karena tidak ada yang akan memberi makan anak-anak saya, jika saya hanya diam di rumah,” kata Abdullah.

Awal November lalu, Topan Siklon menghantap kota pelabuhan Mukalla dan juga daerah tetangga Provinsi Hadramout. Topan  menyebabkan banjir bandang telah merusak jalan, rumah dan sistem saluran pembuangan.

Dua bulan kemudian, kota itu masih tetap terendam rawa limbah, dan penduduk setempat terpaksa menghirup asap beracun. Situasi yang sudah sengsara tersebut, diperburuk wabah demam berdarah pada pertengahan November 2015.

April lalu, al-Qaeda memanfaatkan kekacauan di Yaman untuk menguasai Mukalla dan memperluas pengaruhnya sampai ke daerah tetangga, hal itu membuat banyak pejabat pemerintah melarikan diri ke Arab Saudi. Hari ini, al-Qaeda mengusai kota pelabuhan itu dengan entitas lokal yang disebut Dewan Nasional Hadhramaut.

Penduduk Mukalla dan petugas medis telah mengeluh, Kota Mukalla telah ditinggalkan sendirian, dan dibiarkan menangani diri sendiri setelah topan Siklon mendera mereka.

Para pejabat Mukalla mengatakan, organisasi bantuan regional dan internasional telah menyatakan keengganan untuk mengirimkan bantuan ke kota yang sudah berada di bawah kendali al-Qaeda itu.

Mohammed al-Amoudi, Wakil Gubernur untuk urusan teknis, memilih tinggal di kota dan mengkoordinasikan pengiriman sejumlah kecil bantuan yang telah tiba.

Kepada Al Jazeera, Al Amoudi mengatakan, banyak organisasi kemanusiaan khawatir akan keselamatan pekerja mereka, padahal organisasi kemanusiaan seperti Bulan Sabit Merah sangat ingin bekerja sama dengan otoritas yang sah di kota itu.

“Kami berusaha untuk membangun kembali jalan dan jembatan yang hancur. Banyak petani yang tanahnya hanyut, ingin memperbaiki kembali sumber mata pencaharian mereka,” tutur al Maoudi.

Advertisement