Belanda akan Minta Maaf soal Perbudakan Masa Kolonial

ilustrasi tentara Belanda di era Perang Kemerdekaan RI 1945 - 1949 yang berdasar penyelidikan melakukan berbagai pelanggaran HAM. PM Belanda Max Rutte, Raja Willem Alexander, Menlu Bert Koenders dan Dubes Belanda Tjeerd Zwaan menyampaikan permintaan maaf.

AMSTERDAM – Pemerintah Belanda tahun ini akan menyampaikan permintaan maaf atas peranannya dalam perbudakan selama masa kolonial negara itu, kata seorang anggota Kabinet Perdana Menteri Mark Rutte, Jumat (4/11/2022).

Menteri Perlindungan Hukum Belanda, Franc Weerwind, membenarkan isi laporan RTL bahwa pemerintah berencana meminta maaf secara resmi pada Desember.

Pemerintah juga berencana mengeluarkan dana sebesar 200 juta euro (sekitar Rp3,2 triliun) untuk membiayai upaya meningkatkan kesadaran soal peranan kekuasaan kolonial pada perbudakan.

Belanda selain itu akan menyiapkan 27 juta euro (sekitar Rp422,31 miliar) untuk membuka museum perbudakan, menurut laporan RTL.

Keputusan tersebut muncul setelah panel penasihat tahun lalu mengeluarkan rekomendasi soal perbudakan dan posisi pemerintah Belanda.

Panel merekomendasikan Belanda untuk mengakui bahwa perdagangan budak trans-Atlantik pada abad 17-19 telah menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan. Panel juga menyarankan pemerintah negara itu agar meminta maaf.

“Ini adalah momen besar dan indah,” kata Weerwind, seperti dikutip kantor berita ANP, ketika ia berbicara kepada para wartawan di Den Haag pada Jumat.

Dengan meminta maaf, ujar Weerwind, pemerintah akan membuka lembaran menuju masa depan bersama. Itu bisa dilakukan secara bersama-sama dan dengan membuat pernyataan ini.

Sumber: Reuters/Antara

Advertisement