SRI LANKA – Pemerintah Sri Lanka menetapkan status darurat di Sri Lanka untuk mengatasi aksi kekerasan antar kelompok Muslim dengan Buddha di negara tersebut.
AFP melaporkan, sedikitnya tiga aparat terluka dalam bentrokan malam hari di Menikhinna, wilayah pinggiran kawasan Kandy, yang merupakan pusat terjadinya gelombang kekerasan komunal di Sri Lanka.
Seorang pejabat mengatakan tujuh orang ditangkap karena melanggar aturan jam malam di daerah tersebut dan memicu kerusuhan di Kandy yang merupakan distrik multi-etnis.
Sejumlah sekolah di Kandy, distrik yang terletak 115 kilometer dari ibu kota Colombo, tetap ditutup hingga hari ini. Pemerintah mengerahkan lebih banyak pasukan untuk mencegah meluasnya bentrokan.
Lebih dari 150 rumah, toko dan kendaraan terbakar dalam bentrokan sejak dua hari terakhir di Sri Lanka. Dua orang tewas dalam kericuhan tersebut.
Ketegangan meningkat pada Selasa kemarin saat jasad pria Muslim terlihat ditarik dari sebuah bangunan yang terbakar di Sri Lanka.
Parlemen Sri Lanka mengeluarkan pernyataan maaf resmi kepada minoritas Muslim, yang berjumlah sekitar 10 persen dari total populasi di angka 21 juta jiwa.
Kericuhan meletus pada Senin kemarin setelah seorang pria dari komunitas Buddha tewas di tangan kelompok Muslim pekan lalu.
Pada Juni 2014, kericuhan antara Buddha dengan Muslim di Sri Lanka menewaskan empat orang dan membuat sejumlah lainnya terluka.





