BETARA KALA DREMBA (2)

SBG memberi izin pada Betara Kala untuk menggarap proyek G2M, tapi ternyata kemudian disalahgunakan.

DEWA Carik Nyebelin segera cek data di Biro Catatan Sipil di kahyangan. Berdasarkan arsip yang ada, ternyata benar ada nama Kala dengan nama ayah kandung SBG, lahir di RS Pelni sekian puluh tahun lalu. Yang janggal kolom nama ibu kandung kosong belaka. Namanya juga lahir di tengah lautan, tak dimakan ikan cakalang saja sudah untung.

“Benar, Kala memang anak pukulun SBG. Akte kelahirannya otentik, semua tersimpan arsip.” Lapor Betara Penyarikan.

“Masak sih? Kapan ulun dhemenan sama emak dia?” suara SBG meninggi.

“Mana gue tahu, namanya petinggi dewa, blusukan ke mana-mana kan sah-sah saja.”

Carik Nyebelin memang benar-benar nyebelin, masak SBG diledek seperti itu. Tapi nggak apa-apa, anggap saja itu kritik membangun. Maka dari Bale Marcakunda kemudian SBG memerintahkan para dewa untuk menangkap raksasa Kala yang menjadi predator ikan-ikan dilaut itu. Sayang, tak ada satu dewapun yang sanggup menangkapnya.

Bahkan Kala kemudian melabrak ke Istana Jonggring Salaka, langsung ditemui SBG secara pribadi tanpa publikasi pers. Dilihat caranya berjalan, memang benar dia anak biologis SBG. Cuma badan menang jauh lebih gede. Kalau dia marah sambil gegedruk (hentakkan kaki), lantai keramik KW-1 pun langsung retak-retak karenanya.

“Kalau aku nggak boleh makan ikan laut, harus makan apa pukulun, agar bisa tetap hidup? Habisnya, punya bapak satu saja nggak tanggungjawab.” Protes Kala sekaligus menyindir.

“Maksud ulun, makan ikan yang gede saja, jangan yang masih bibit kamu embat juga. Bisa punah itu ikan-ikan kita.”

Ternyata kebijakan SBG masih juga diprotes Sanghyang Baruna, baik ikan bibit maupun yang sudah gede, semua punya hak hidup. Oleh karena itu bayi Kala harus tidak dibolehkan makan ikan-ikan laut apapun jenisnya. Ini semua demi keselamatan biota  laut. Kalau mau silakan makan sampah plastik dan becak-becak yang dijadikan rumpon. Makanlah sebanyak-banyaknya, itung-itung untuk mengurangi pencemaran laut.

Pusing juga SBG untuk memberi solusi. Bersama patih Narada keduanya lalu berunding, mencari gagasan baru demi memberi jaminan kehidupan bayi Kala. Tapi ternyata Narada lebih banyak diamnya ketimbang melemparkan ide brilliant. SBG memaklumi saja, karena Sanghyang Narada sudah tua. Dulu dia diajak jadi patih karena berdasarkan survei elektabilitasnya paling tinggi. Itu saja.

“Jadi gini kakang Narada, bayi Kala kita larang makan segala ikan dan biota laut lainnya, tapi kita beri akses untuk makan semua wayang yang melanggar hukum kadewatan. Ini namanya wayang sukerta.” Jelas SBG.

“Ya, apa gagasan dan keputusan adi Guru, ulun menurut saja. Pokoknya demi kebaikan bersama ulun setuja-setuju saya. Elekkk…..elekkkkkk!” jawab patih Narada, otaknya kadung kosong.

Maka berdasarkan SK Jonggring Salaka No. 012/VI/2020, diputuskan ada 13 wayang sukerta, yakni: 1. Anak kembar lelaki atau wanita (kedana-kedini), 2. Anak tunggal (ontang anting), 3. Anak yang lahir pas matahari terbit (julung wangi), 4. Anak lahir pas matahari tenggelam (julung pujud), 5. Anak lahir dalam perjalanan (margana), 6. Anak lahir kembar satu hitam satu sawo matang (condang kasih), 7. Bocah kembar laki-perempuan (dampit), 8. Orang yang merobohkan dandang meski tak sengaja, 9. Orang mematahkan batu gerusan jamu (gandik), 10. Menaruh beras dalam lesung, 11. Bakar rambut dan tulang, 12.  Bikin rumah tanpa penutup plafon. 13. Wayang yang pukul 12.00 (wayah bedhug) kelayapan ke luar rumah.

SK Jonggring Salaka itu kemudian dimasukkan ke lembaran negara dan disosialisasikan para Jupen (Juru Penerang) di kahyangan, termasuk juga ke internet medsos dan WA. Maklum tak semua wayang dewa dan ngarcapada paham HP smartphone. Kebanyakan tahunya smar-petruk Dkk punakawan Ngamarta.

“Kalau jeneng kita (kamu) tidak dremba (rakus), pastilah tidak bakal kaliren (kelaparan).” Kata SBG saat memberikan naskah kutipan SK tersebut kepada Kala.

“Terima kasih pukulun, titah paduka raja Jonggring Salaka akan gue laksanakan secara konsekuen,” jawab Kala yang sudah ABG sambil turun ke ngercapada.

Seperti orang kaulan (nadzar) ABG Kalla benar-benar pesta pora di ngercapada. Anak kembar, anak tunggal, anak yang lahir pada saat matahari terbit maupun tenggelam diembat habis tanpa bersisa. Sebagai wayang keturunan SBG, memangsa wayang ngercapada terasa kini Kala lebih legimitid karena sudah diakui pula sebagai anak kandung SBG dan namanya pun menjadi: Betara Kala.

Tapi baru saja Betara Kala selesai makan sejumlah wayang sukerta dan kemudian minum Akua satu drum penuh sebagai penggelontor tenggorokan, eh terlihat Prabu Kresna dari Dwarawati jalan-jalan tepat bedhug ndrandhang pukul 12.00. Langsung saja dikejarnya.

“Brenti, siapa kamu? Karena kamu jalan-jalan pas jam 12.00 siang, kamu termasuk wayang sukerta dan harus jadi makanan gua,” kata ABG Kalla.

“Aturan dari mana tuh? Saya kok baru denger, lagakmu seperti petugas BNPB saja, melarang orang bepergian.” Jawab Kresna terkesan tidak suka.

Betara Kala lalu menunjukkan SK Jonggring Salaka yang telah dilaminating. Betara Kresna pura-pura membacanya, lalu Betara Kala diajak ngobrol soal macem-macem, dari masalah ekonomi, hukum, sosial, politik sampai soal kecebong, kampret dan kadrun. Betara Kala yang kurang membaca, sering tidak nyambung. Tapi tahu-tahu waktu sudah pukul 13.00 dan matahari telah tergelincir condong ke barat.

“Tuh Betara Kala, lihat ke atas. Waktu sudah jam 13.00 dan matahari sudah tidak lagi di atas kepala. Karenanya saya tak memenuhi syarat lagi kamu makan,” kata Kresna sambil ngeloyor pergi.

“Wah, celaka tiga belas. Nggak nyangka gue dikadali wayang ngercapada.” Jawabnya sambil mencoba menubruk Prabu Kresna, tapi langsung berkelit dan kabur.

Jam 13.00 itu waktunya makan siang Betara Kala, tapi kali ini tak dapat lagi obyek wayang yang bisa dimakan, sesuai dengan persyaratan wayan sukerta. Kembali Betara Kala menghadap SBG mohon agar obyek wayang sukerta diperluas, jangan hanya 13 macam saja. Lagi pula, angka 13 kan menjadi angka sial, sehingga ditakutkan wayang-wayang ngercapada menjadi trauma.

Pas Betara Kala ke Bale Marcakunda, kebetulan SBG-Narada sedang meluncurkan program Gas Melon Murah (G2M), menggantikan minyak tanah. Artinya, segenap wayang kahyangan dan ngercapada tak boleh menggunakan minyak tanah untuk masak. Semua  harus dikonversi ke gas G2M.

“Kalau begitu, boleh dong saya jadi kontraktornya.” Usul Betara Kala tanpa malu-malu, sekali-sekali manfaatkan jabatan bapaknya kan nggak papa.

“Boleh! Ini justru proyek strategis buatmu. Untuk mensukseskan sosialisasi G2M, wayang yang tidak mau menggunakan gas melon, jadi wayang sukerta, halal dan wajib kau makan,” titah SBG.

Demikianlah, Betara Kala langsung dapat obyekan sekali tepuk dua lalat. Selain untung dari penjualan gas G2M, juga kenyang makan wayang yang tak mau pakai gas G2M di rumah. Tapi dasar dia otak proyek, produksi gas G2M sengaja dikurangi, sehingga orang semakin susah mendapatkan gas tersebut. Nah, yang demikian ini langsung jadi makanan empuk Betara Kala.

Betara Kresna mendengar kecurangan Betara Kala, sehingga dia mengadu pada SBG. Tentu saja penguasa kahyangan itu murka, karena Betara Kala tidak bisa menjaga amanah. Demi penegakan hukum, meski dia anak sendiri langsung dihukum, dimasukkan ke kawah Candradimuka.

“Jeneng kita bikin malu orangtua. Hari ini juga kamu harus dihukum, diceburkan ke kawah Candradimuka, dan proyek G2M kami cabut,” perintah SBG garang.\

Meski minta dipensasi tetap tak digubris. Betara Kala dilempar ke kawah Candradimuka, nerakanya pewayangan. Tapi karena dilindungi Betara Brama saudaranya, Betara Kala tidak mati kecuali kepala jadi plontos macam Pak Ogah.

“Yah, Kala L satu sama L dua sama saja.” Komentar publik. (Ki Guna Watoncarita-tamat).

Advertisement