BETARI DURGA RUWAT (1)

Betari Durga pamitan pindah ke Pasetran Gandamayit dengan asisten tenaga outsorsing Jaramaya dan Jarameya.

ISTRI Betara Guru atau SBG (Sanghyang Betara Guru) memang terkenal akan kecantikannya, dia bidadari nomer satu di Jonggring Salaka. Lebih cantik dari Dian Sastro atau Nia Ramadhani. Nilai plus lainnya Dewi Uma, dia tak pernah terseret kasus narkoba. Soalnya beban kerja sebagai istri Betara SBG tidak terlalu berat, sehari-hari kerjanya hanya mamah karo mlumah. Maklum, penguasa di kahyangan ini libidonya sangat tinggi. Sebentar-sebentar tergugah syahwatnya, sehingga boleh dikata penghuni istana Bale Marcakunda ini hampir tak sempat pakai celana, sarungan terus!

Sayangnya, sebagai Ketua Darma Wanita di Jonggring Salaka Dewi Uma terlalu doyan medsos. Tiap hari kerjanya main instagram, ngetwit, WA-nan, bahkan Tiktok. Malamnya habis Isya disambung lagi nonton sinetron “Ikatan Cinta” di RCTI sampai pukul 21:30, sehingga ketika SBG mengajak astra lungiyat (hubungan intim) Dewi Uma sering gagal fokus melayaninya. Bahasa Jermannya: gelem ora-ora (asal-asalan).

“Mbok seperti Ketua DPR itu lho Ma, sibuk ngurus rakyat lewat legislasi. Baru main medsos dan tebar baliho menjelang 2024 saja. Masak suami kok dikalahkan sama Arya Saloka…..” Sindir SBG kesal.

“Saya nggak mau jadi Ibu Negara kok katrok, tak mengikuti perkembangan jaman. Bisaku hanya begini, kalau nggak puas ya sana begituan sama bidadari yang lain,” jawab Dewi Uma dengan tangan terus memegang HP androidnya, lengket seakan dilem sama Takol.

Demikian bersemangat main medsos, sampai ada isyu bahwa Dewi Uma ada main dengan bidadara di Jonggring Salaka. Chatingan mesumnya sampai bocor ke warganet. Bahkan WA Sanghyang Wenang pun dikirimi screen shot-nya. Demi penegakan hukum di Suralaya, Sanghyang Wenang pun minta pada SBG agar Dewi Uma seera ditindak, ketimbang keburu kabur ke ngercapada bertahun-tahun mengungsikan rasa malunya.

SBG memang penguasa di Jonggring Salaka, tapi di atasnya ada yang lebih berkuasa lagi, duo Sanghyang Tunggal dan Sangyang Wenang. A kata mereka, SBG harus A pula untuk mematuhi. B kata Sanghyang Tunggal – Sanghyang Wenang, B pula plat nomer kendaraan bermotor di Jakarta.

“Bagaimana saya harus menindak istri sendiri, pukulun?” kata SBG nadanya minta dispensasi.

“Ulun tak perlu menjelaskan, jeneng kita (kamu) pasti tahu juga. Jadi penguasa kahyangan harus adil paramarta, tak boleh diskriminastif meski kebanyakan ke diskotik.” Nasihat Sanghyang Wenang pada akhirnya.

SBG ini meski penguasa di Jonggring Salaka, tapi statusnya hanya petugas dewa. Apapun kebijakannya harus dapat restu duo kahyangan tersebut. Jika Sanghyang Tunggal – Wenang menolak, tak bisa dilobi dengan uang macam Ketua DPRD. Walhasil, meski pahit titah duo kahyangan itu harus dipatuhi. Maka dengan berat hati dia langsung mengutuk istri sendiri, menjadi jelek sekali. Tadinya macam Dian Sastro – Nia Ramadhani, kini berubah jadi macam Mak Lampir.

Tentu saja Dewi Uma kaget sekali, karena mendadak wajah dan postur tubuhnya berantakan dan simpang siur. Operasi plastik pun tak mungkin, karena dokter Tompi saja menyerah. Karena harus dirombak total sampai batangannya hanya kasisnya. Sambil menangis surem-surem diwangkara kingkin,  Dewi Uma menemui suami di Bale Marcakunda. Dia protes atas vonis Betara Guru yang sewenang-wenang.

“Pukulun kok kejam banget sih, sama istri sendiri kok sewenang-wenang begitu. Mohon dikembalikan seperti dulu, seindah warna aslinya kayak Fuji Film. Denga wajah begini ulun malu sebagai sosialita.” Ratap Dewi Uma.

“Maafkan aku, Dewi Uma. Aku sekedar pelaksana, semuanya ketentuan Sanghyang Wenang, yang tak mungkin kutolak.” Jawab SBG ikut-ikutan prihatim.

“Payah, SBG kok mentan Satpol PP: aku hanya pelaksana! Nyesel rakyat Jonggring Salaka pilih pukulun….”

SBG lalu buka WA, ketik sejumlah kata, lalu dikirim ke Sanghyang Wenang. Jawabnya tak lama kemudian datang, bunyinya: pada saatnya nanti Uma akan kembali ke wujud semula, asalkan diruwat oleh titah milenial Sadewa. Jawaban Sanghyang Wenang itu lalu ditunjukkan kepada Dewi Uma, dan mulailah wajahnya kelihatan ceria dan jembar.

“Sadewa melanial itu kira-kira kapan timbul, pukulun?” Dewi Uma masih juga bertanya.

“Kemungkinan setelah 2024, setelah istana Bale Marcakundha pindah ke Ngutara Segara…” jawab SBG.

“Memangnya Istana ini mau dipindahkan?”

“Sebetulnya sudah dari kemarin-kemarin. Tapi gara-gara Covid-19 para pengusaha tak ada yang sanggup jadi CSR.”

Kalau sekedar ruwat saja, sebetulnya Dewi Uma ingin tak harus Sadewa yang belum jelas kapan hadirnya. Kan ada dalang kondang Ki Manteb Sudharsono dari Karangpandan Kab. Karanganyar. Dia dalang ruwatan terkenal, di mana setiap bulan Suro menemukan banyak orang-orang Jakarta yang perlu diruwat, karena termasuk golongan sukarta alias: sukar ditata! Sayangnya, Ki Manteb sudah meninggal.

Demikianlah, Dewi Uma yang sudah berwajah berantakan itu lalu diusir dari Jonggring Salaka, dipaksa tinggal di ngercapada pada Kec. Pasetran Gandamayit, yang letaknya di kaki Jonggring Salaka. Ibaratnya, jika ke kahyangan harus pakai eskalator, pijakan kaki pertama adalah lokasi Pasetran Gandamayit tersebut. Di sini Dewi Uma pakai nama baru: Betari Durga.

“Untuk sumber penghasilan pukulun, saya mau jadi paranormal menggantikan Mbak You. Saya perlu dua asisten, bisa ulun minta 2 tenaga dari Jonggring Salaka?” Betari Durga bertanya.

“Bisa-bisa. Kebetulan ada tenaga outsorsing nganggur, pakailah itu jin Jaramaya dan Jayameya. Dia pekerja tekun, cocok jadi asistenmu. Semoga sukses ya…..” kata Betara Guru memberi semangat.

Hari itu juga Betari Durga pindahan ke ngercapada. Di Pasetran Gandamayit, dia mendirikan padepokan megah dengan arsitektur yang terkesan wingit dan singup (suasana alam gaib). Dana hibah diberikan oleh SBG secara tunai tak berani lewat bank. Sebab jika terdeteksi PPATK (Pusat Pelaporan & Analisa Transaksi Keuangan) dan dilaporkan ke KPK, SBG bisa terkena pidana korupsi karena menggunakan dana APBD (Anggaran Pendapata dan Belanja Dewa) untuk kepentingan pribadi. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement